Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » Tangis Rudi dan Kisah John Perkins

Tangis Rudi dan Kisah John Perkins

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Editorial Nefosnews mengulas kisah “menarik”: tangisan Rudi Rubiandini,

Rudi Rubiandini bukan orang tolol. Ia orang terdidik. Golongan cerdik pandai. Ia satu di antara putra terbaik republik. Ia doktor di bidang pertambangan. Karena itu banyak yang berharap dengan jabatan sebagai Kepala SKK Migas, Rudi dapat memperbaiki keadaan. Menambah pundi-pundi negara melalui dunia perminyakan. Tak banyak anak negeri ini yang mendapat kemewahan seperti Rudi.

“Bahwa benar saya menerima suap. Itu pun setelah saya menahan diri selama lima bulan dari Januari hingga Mei. Adapun gratifikasi itu saya tolak berulang-ulang. Namun ketika ada kebutuhan logistik meminta sesuatu, sementara yang menawarkan diri untuk memberikan gratifikasi begitu banyak.” Begitulah penggalan pidato politik pembelaan profesor doktor Rudi Rubiandini. Pidato penuh emosi. Dibumbui dengan tangis yang dramatik. Doktor Rudi hanya bisa bertahan lima bulan untuk tidak melakukan kejahatan. Rakyat kebanyakan, seumur hidup bertahan dalam himpitan nestapa.

(selengkapnya, baca di sini ya)

Membacanya, saya jadi teringat pada buku John Perkins yang kedua “Pengakuan Bandit Ekonomi”. Di dalamnya Perkins bercerita bahwa dia tahun 1970-an ditugaskan ke Indonesia untuk menyusun data-data (yang direkayasa) rancangan proyek pembangunan listrik di Indonesia, memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia berapa banyak hutang yang meski diambil, dan memberikan angan-angan kosong kepada pemerintah bahwa proyek berbasis hutang ini sangat menguntungkan dan akan memakmurkan rakyat.

Perkins dan timnya memiliki misi, “Keberadaan kita di sini tak lain untuk menyelamatkan negeri ini dari cengkeraman komunisme. Kita tahu negara kita [Amerika Serikat] sangat tergantung pada minyak. Indonesia bisa menjadi sekutu yang andal dalam hal ini. Jadi sembari mengembangkan rencana pokok, lakukan apa saja semampu kalian untuk memastikan industri minyak dan segala industri lain pendukungnya tetap memperoleh aliran listrik sebanyak yang dibutuhkan selama rencana 25 yahun ke depan.” (hlm 7)

Jadi, ini bukan tentang ‘pembangunan listrik demi rakyat’, melainkan demi industri minyak. Hutang untuk proyek-proyek ‘pembangunan’ itu antara lain diberikan oleh Bank Dunia, dan inilah salah satu bukti peran Bank Dunia dalam kemunduran ekonomi Indonesia.

Untuk ‘meyakinkan’ para pejabat, tentu saja tidak sekedar dengan data rekayasa, tetapi juga berbagai bentuk suap, termasuk perempuan. Perkins berjumpa dengan perempuan yang ‘ahli’ di bidang ini. Perempuan itu mengatakan, ‘pekerjaan’-nya itu dilakukan di “…country club, kapal pesiar, Hongkong, Hollywood, Las Vegas.. sebut saja. Di mana saja orang-orang minyak dan politisi suka, kami pun berada di sana.” (hlm 24)

Dan rupanya modus ini masih terus terjadi hingga hari ini. Rudi, seorang profesor yang hebat pun, tumbang dalam sistem korup industri minyak ini. Dia ‘harus’ menyuap, meski menurutnya dia tak makan uang haram itu. Dan yang memberikan dananya ternyata perusahaan minyak.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: