Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Rohingya dan Iran

Rohingya dan Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Baru saja, tanpa sengaja, saat gooling, saya menemukan berita dari situs penebar kebencian, menyebut bahwa Iran memberikan bantuan kepada pemerintah Buddha Burma. Artikel itu bahkan menyebut Iran bersama pemerintah Buddha Burma bekerja sama untuk membantai kaum muslim Rohingya. Tentu saja saya mual sekali membaca berita sengawur itu. Dan sialnya, saya juga bodoh mau mengklik situs pembohong nomer satu se-Indonesia itu.

Saya memang tak banyak tahu konstelasi politik Asia Tenggara, karena fokus studi saya bukan di bidang ini. Karena itu, saya ingin menyarikan saja beberapa informasi yang saya dapatkan tentang Rohingya, sebagian besar saya sarikan dari media Iran sendiri. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana perspektif Iran terhadap konflik Rohingya (barangkali aja ini bisa jadi inspirasi buat mahasiswa yang sedang galau cari topik skripsi :D).

Siapakah Kaum Rohingya?

Ada satu hal menarik yang saya temukan: ternyata orang Rohingya memiliki darah Persia. Dan ternyata Islam pertama kali masuk ke Myanmar dibawa oleh orang-orang muslim Persia-Arab-India. Tentu saja, kaum Rohingya tidak bermazhab Syiah, karena kalau Syiah, pastilah seruan jihad yang dilakukan oleh situs penebar kebencian itu adalah “bunuh orang Rohingya!” (sebagaimana seruan jihad mereka ke Suriah adalah karena konon rezim Suriah dikuasai orang  Syiah).

PressTV menyebut kaum Rohingya sebagai keturunan Persia-Turki-Bengali-Pathan. Bangsa-bangsa itu bermigrasi ke Myanmar pada awal ke-8 M. Mereka menikahi dengan penduduk asli di wilayah Arakan (sebelah barat Myanmar), sehingga terbentuklah generasi muslim yang dinamai Rohingya. Kaum Rohingya kemudian mendirikan kerajaan muslim di Arakan (atau disebut juga Rakhine) yang bertahan selama beberapa abad di Arakan. Bahasa Rohingya pun adalah campuran antara bahasa Bengali, Persia, Arab, dan bahasa pribumi Arakan.

iran-rohingya-aid

Kerajaan muslim Arakan ditaklukkan oleh orang-orang Burma yang beragama Budha pada 1784. Pada saat itu pun telah terjadi intimidasi, pengusiran, dan pembunuhan terhadap kaum muslim Rohingya, sebagian dari mereka mengungsi ke Bengali. Pada tahun 1824, Burma dikuasai oleh Inggris. Tahun 1948, Burma meraih kemerdekaan, dan wilayah Arakan dianggap sebagai bagian negara Burma. Namun, Burma menganggap kaum muslim Rohingya bukan warga Arakan; dan bukan warga negara Burma. Sejak tahun 1962, Burma, yang kemudian berganti nama jadiMyanmar, dikuasai junta militer yang bersikap semakin represif terhadap kaum Rohingya.

Puncaknya, pada bulan Juni 2012, terjadi pembunuhan dan pengusiran besar-besaran terhadap warga muslim Rohingya, dilakukan oleh warga Buddha.  Ratusan orang tewas dan belasan ribu lainnya terusir dari rumah dan tanah mereka. Pada akhir 2012, PBB mengumumkan bahwa 13.000 orang Rohingya telah terusir dan tak punya negara (stateless). Sementara itu, pemerintah Myanmar berkeras kepala, menyatakan orang Rohingya bukan warga Myanmar, dan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik adalah dengan mendirikan kamp pengungsian bagi orang Rohingya, atau mereka dijadikan warga oleh negara-negara lain.

Seorang aktivis politik Rohingya, Muhammad Noor, mengatakan,

“Memang benar kami  bukan orang Burma. Kami adalah [warga] negara merdeka, Arakan. Dan Rohingya adalah salah satu etnis di Arakan, bukan Burma. Merekalah [orang Burma] yang melakukan intervensi, merekalah orang asing di tanah ini, merekalah yang menjajah kami.” (dikutip Aljazeera)

Upaya Diplomatik Negara-Negara Muslim

Selain upaya penyelesaian konflik melalui organisasi internasional seperti PBB atau ASEAN, beberapa pemimpin negara muslim mengambil insiatif untuk mengirim bantuan ke Arakan. Antara lain, Perdana Menteri Turki, Erdogan, dan Ketua PMI, Jusuf Kalla telah mengunjungi Arakan dengan membawa bantuan.

Berikut ini beberapa langkah yang dilakukan Iran:

Desember 2012: paket bantuan Iran berhasil masuk ke Arakan lewat Bangladesh, setelah berminggu-minggu tertahan di perbatasan.

6 Januari 2013: Paket bantuan Iran resmi yang pertama tiba di Myanmar, terdiri dari 30 ton makanan, tenda, selimut, dan alas tidur. Paket itu diantarkan oleh anggota Parlemen Iran, tim Bulan Sabit Merah Iran, dan Komite Bantuan Imam Khomeini. Delegasi Iran juga mengunjungi Arakan untuk mengevaluasi apa saja yang diperlukan untuk paket bantuan berikutnya.

19 Januari 2013:  Anggota Parlemen Iran bagian “Keamanan Nasional dan Komisi Luar Negeri”, Mansour Haqiqatpour, menyatakan bahwa pihaknya telah mencapai persetujuan dengan pejabat Myanmar; bahwa Iran akan mendirikan kamp pengungsian di wilayah Arakan untuk menampung orang-orang Rohingya yang terusir dari rumah-rumah mereka (dan sebagian rumah dibakar oleh massa anti-Muslim). Iran juga akan menyediakan makanan bagi para pengungsi itu.

Awal Mei 2013: Jubir Menlu Iran, Ramin Mehman-Parast, mengulangi lagi seruan Iran agar dihentikannya kekerasan brutal di Myanmar. Mehman-Parast mengkritik keras kejahatan kemanusiaan di Arakan, dan menyebut peristiwa ini ‘melukai Dunia Islam’; dan pada saat yang sama akan membawa Myanmar dalam situasi politik dan ekonomi yang berbahaya.Iran menyeru pemerintah Myanmar agar mau berkoordinasi dengan OKI untuk menghentikan kekerasan terhadap kaum muslim Rohingya.

18 Mei 2013:  Utusan Iran untuk PBB, Khazayee, di New York menyampaikan seruannya kepada para duta besar dari negara-negara OKI, agar memberikan perhatian kepada kasus Myanmar. Khazayee juga mengkritik sikap diam Barat terhadap aksi brutal yang ditimpakan kepada kaum muslim Rohingya. “Keinginan sebagian negara Barat untuk menjalin hubungan baik dengan Myanmar membuat mereka lemah dalam menyikapi kasus penindasan kaum muslim; dan sayangnya, negara-negara Muslim pun tak menggunakan segala upaya mereka untuk menghentikan kekerasan ini,” kritik Khazayee.

3 Juli 2013: Wakil Menlu Iran untuk urusan Asia-Pasifik, Seyyed Abbas Araqchi , menemui sejawatnya dari Myanmar, Zin Yaw, di Naypyidaw, Myanmar. Wakil Menlu Iran menyampaikan keprihatinan mendalam pemerintah Iran, para ilmuwan, dan bangsa Iran, atas konflik sektarian antara Buddha dan Muslim di Arakan, dan mendesak pemerintah Myanmar agar melakukan langkah efektif dalam menyelesaikan isu ini. Araqchi juga menyampaikan bahwa bantuan Iran untuk kaum muslim Rohinghya juga tahap kedua juga segera dikirimkan.

25 Juli 2013: rakyat Iran melakukan aksi demo mengecam pemerintah Myanmar dan aksi-aksi brutal terhadap kaum muslim Rohingya.

Agustus 2013-Jan 2014: media-media Iran terus merilis pemberitaan untuk mengingatkan dunia yang telah mengabaikan isu Rohingya. Misalnya saja, kemarin (16/1) Iran Broadcasting masih menyuarakan isu ini. IRIB memberitakan bahwa dalam pertemuan para Menlu ASEAN yang akan berlangsung di Myanmar,  pemerintah Myanmar menolak mentah-mentah dibicarakannya isu Rohingya. “Isu Bengali adalah urusan internal kami dan kami tidak akan mendiskusikannya dalam pertemuan ASEAN meskipun negara-negara anggota memintanya, “ kata Ye Htut, Jubir Presiden Myanmar.

Menurut IRIB, pejabat Myanmar selalu menggunakan kata ‘Bengali’ saat menyebut kaum muslim Rohingya dan menolak mengakui mereka sebagai warga Myanmar; serta memperlakukan mereka sebagai imigran ilegal.

Berikut ini laporan mendalam dari wartawan senior Republika yang pernah ke Arakan, sangat layak dibaca untuk lebih memahami konflik Rohingya.

Xenophobia Rakhine dan Burma

Teguh Setiawan

Jika Anda ke Arakan dan bertemu Muslim Rohingya yang masih bertahan di desa-desa mereka, sempatkan bertanya dimanakah masjid-masjid kuno peninggalan misionaris Islam dari India dan pemukim Arab?

Jawaban yang Anda peroleh pasti sekadar gelengan kepala, atau; “Tidak ada lagi. Semuanya telah berganti menjadi pagoda dan monasteri Budha.” Bahkan, Anda mungkin tidak akan menemukan pondasi, atau puing-puingnya.

Masjid Sandi Khan adalah salah satunya. Masjid ini dibangun tahun 1430 oleh Raja Narameikhla, yang memerintah Arakan saat itu. Tahun 1996, ketika pemeintahan junta militer menjalankan de-Muslimisasi, masjid dirobohkan, dan puing-puingnya digunakan untuk memperkeras jalan antara basis militer dan lokasi permukiman tempat masjid itu pernah berdiri.

Di atas lokasi masjid, pemerintah Myanmar membangun pagoda, dan sekolah seminari Budha. Di sekeliling masjid, yang semula permukiman Muslim Rohingya, kini dihuni masyarakat Rakhine Budha.

Lainnya adalah Masjid Musa Pali. Masjid dibangun oleh Musa, seorang misionaris Islam asal India, antara tahun 1513 sampai 1515, atau saat Raja Mrauk-U ke-9 berkuasa. Masjid terletak di Desa Maungthagon, Mrauk-U. Tahun 1983, Jenderal Ne Win memerintahkan penghacuran masjid.

Muslim Rohingya di Sittwe pernah sangat bangga dengan masjid peninggalan abad ke-15, yang bernama Babagyi Mosque. Masjid terletak di tepi Danau Sittwe.Tahun 1985, Ne Win meratakan masjid itu dengan tanah. Pemerintah junta militer Myanmar mendirikan Pagoda di atas lokasi masjid beberapa tahun kemudian. 

Nasib tragis juga dialami Budder Mukam atau Pir Badar Sha, bangunan untuk mengenang jasa-jasa Allama Shah – sufi penyebar Islam yang lebih awal datang ke Arakan. Sejarawan memperkirakan Budder Mukam dibangun abad ketujuh. 

Sampai tahun 1960, Budder Mukam masih dikunjungi banyak peziarah. Tahun 1978, militer Myanmar merobohkannya, dan membangun basis Angkatan Laut Myanmar di atas puing-puingnya.

Semua penghancuran itu adalah bagian dari penolakan pemerintah Myanmar, dan  sebagian besar masyarakat pemeluk Budha di negeri itu, terhadap fakta sejarah bahwa masyarakat Muslim telah menjadi bagian Kerajaan Arakan sejak abad ketujuh, dan mencapai puncak keemasannya di abad ke-15.

Pemerintah militer Myanmar berusaha menghilangkan semua bukti arkeologis tentang eksistesi Muslim Rohingya, untuk menegaskan klaimnya bahwa penduduk beragama Islam datang ke Myanmar dibawa ke Arakan oleh Inggris. Muslim Rohingya, demikian pemerintah Myanmar, tidak punya sejarah.

Klaim ini relatif baru, karena kampanye penolakan terhadap eksistensi sejarah Muslih Rohingya di Myanmar relatif baru gencar dilakukan setelah keluarnya UU Kewarganegaraan Myanmar (dulu Burma) tahun 1982. Dalam UU itu disebutkan warga negara Burma adalah kelompok etnis, mayoritas dan minoritas, yang menjadikan terotori mereka sebagai permukiman permanen sejak 1185.

Al Rukun

Pemerintah Myanmar boleh saja menghancurkan semua bukti arkeologis peninggalam Islam di Arakan, tapi mereka tidak bisa menghapus dokumentasi sejarah yang tersimpan di berbagai universitas di seluruh dunia. Pembersihan etnis Muslim Rohingya selama 60 tahun juga membangkitkan banyak sarjana Barat dan Islam untuk menuliskan kembali sejarah komunitas pemeluk Islam di Myanmar, dan mempublikasikannya.

Mohamed Ashraf Alam, dalam , The etymology of Arakan, Rohingya and Rakhine, berupaya menelusuri kata Arakan dan Rakhine. Ia sampai pada kesimpulan Arakan adalah adalah plesetan dari kata dalam bahasa Arab; Al Rukun. Dalam laporan perjalanannya, Ibu Batuta menulis Arakan dengan kata Arkan, yang berasal dari Al Rukun.

Sumber-sumber tradisional Myanmar membantah klaim ini. Sedangkan dalam Ptolemy Geografia, terbitan tahun 150 sebelum masehi, Arakan disebut dengan nama Argyre. Sedangkan Sir H Yule mengatakan kata Arakan seharusnya berkaitan dengan tambang perak ang ada di tempat itu. Asumsi H Yule didukung dua peneliti Inggris.

Dalam pilar batu Chandra Ananda, raja dari Dinasti Chandra, yang ditemukan di Shitthaung Pagoda di Mrauk-U, nama Arakan terukir sebagai Arakades. Pilar batu ini diperkirakan berasal dari abad ke-8. Sedagnkan dalam peta Dinasti Moghul. Arakan disebut Aracam.  Abul Fazal dalam Ain-I-Akbari menyebut Arakan sebagai Arkhang.

Sejarawan Chowdhury Mohahd punya versi lain. Menurutnya, Rohang adalah nama kuno Arakan. Rohang berasal dari istilah dalam bahasa Arab; Raham. Lebih tepatnya Raham Bori, yang berarti Tuhan merestui tanah ini. Rashiduddin, geographer Arab, menyebut kawasan ini Rahan atau Raham.

Tripura Chronicle Rajmala, menyebut Arakan sebagai Roshang. Quazi Daulat, Mardan, Shamser Ali, Quraishi Magan, Alaol, Ainuddin, Abdul Ghani, semuanya penyair dari Chitaggong abad pertengahan, juga Arakan dengan sejumlah nama; Roshango, Roshanga, Roshango Shar, dan Roshango Des.

Dalam Arakanese Chronicle, pemukim pertama Arakan adalah kelompok Negrito yang disebut Rakkhasas atau bilus (kanibal). Menurut Rakhine Rajawan, Rakhine adalah nama kuno Arakan. Sir Arthur Phayre menyebutkan Rakhine adalah plesetan dari kata Rakkhasa, kata dalam bahasa Pali dan sansekerta yang berate raksasa atau monster.

Sebelum penyebaran Budha, sebagaian besar orang Rakhine pemuja alam. Orang Rakhine mengadopsi kata Arakan untuk menyebut identitas tempat mereka bermukim. Mereka memperkenalkan diri sebagai orang Rakhine Pray. Pray adalah kata yang berarti negara. Sedangkan misionaris Budha menyebut Arakan sebagai Rekkha Pura.

10 Periode

Mohamed Ashraf Alam, dalam Historical Background of Arakan, membagi sejarah Arakan ke dalam 10 periode. Pertama, periode 100 sampai 778, atau periode sejumlah dinasti Hindu. Kedua,  788-957 atau periode Dinasti Chandra (Hindu),. Ketiga periode chaos 957-1430, atau ketika Arakan silih berganti pindah tangan dari Mongolia, Budhis, dan Muslim. Keempat, periode Dinasti Mrauk-U (Muslim-Budha) 1430-1784. Kelima, periode penjajahan Burma 1784-1826.

Keenam, periode penjajahan Inggris 1826-1948. Ketujuh, periode pemerintahan parlementer Burma 1948-1962. Kedelapan, periode pemerintahan revolusioner 1962-1974. Kedelapan, periode pemerintahan satu partai 1975-1988, dan kesepuluh periode pemerintahan milier SLORC/SPDC 1988 sampais aat ini.

Sebelum kedatangan Inggris, Arakan silih berganti dipimpin raja-raja Hindu, Budha, dan Muslim. AP Phayer and GE Harvey menulis saat masih menjadi negara merdeka, raja-raja Arakan kerap memindahkan ibu kota ke delapan tempat.

Abid Bahar, dalam Burmese invasion of Arakan and the rise of non Bengali settlements in Bangladesh, menulis sampai abad ke-11, Arakan adalah negara yang selalu bergolak, dan kerap direpotkan oleh konflik antar kelompok.

Ketika muncul pemimpin yang kuat dan dapat mempersatukan semua, Arakan menjadi ancaman bagi negara-negara di sekelilingnya. Arakan juga negara yang sangat ketergantungan dari perdagangan budak, sehingga harus selalu memerangi suku-suku di sekelilingnya, agar mendapatkan budak.

Memasuki abad ke-11, Burma tumbuh menjadi kerajaan yang kuat. Untuk meredam ketegangan di dalam negeri, Burma melakukan ekspansi, dan mecaplok negaran-negara di sekelilingnya. Arakan tak lupua dari serbuah Burma. 

Invasi pertama dilakukan  1044. Anawrahta, setelah membunuh saudaranya dan mengklaim naik takhta di Burma Utara, menyerang Arakan dan Mon. Ia adalah pemeluk Budha yang taat, tapi juga rajak paling kejam dalam sejarah Burma.

Anawrahta tercatat sebagai raja yang memberi dimensi rasial bagi agama Budhisme. Ia mengubah wajah Budha Theravada yang penuh cinta kasih menjadi agama yang sarat kekerasan. Ia juga memperkenalkan politik xenophobic pertama di Burma. Ia berusaha menghalau Indianisasi di Arakan, dan mendorong masuknya penduduk Tibeto Burman.

Akibatnya, Chakmas – ras mongoloid tapi berbicara dalam Bahasa Chandra-Chittagonian, merasa terancam dan meninggalkan Arakan menuju selata Chittagong.Mereka kembali ke Arakan tahun 1077, atau setelah cengkeraman Burma atas Arakan berakhir.

Invasi Burma kedua terjadi 1406. King Min Khaung Yaza, raja Burma saat itu, memimpin invasi ini. Noromi-kala, raja Arakan saat itu, melarikan diri ke Gaur bersama sebagian besar pengikutnya. Gaur saat itu diperintah Sultan Gaisuddin Azam Shah. Tidak ingin diperbudak orang Burma, penduduk Arakan memilih melarikan diri ke Bengal, mengikuti sang raja.

Tahun 1430, Sultan Jalal uddin Khan – penguasa Bengal  saat itu – mengirim Wali Khan ke Arakan dengan tugas mempersiapkan kepulangan Noromi Kla, yang berganti nama menjadi Sulauman Shah untuk kembali bertakhta. Sulauman memindahkan ibu kota Arakan ke Mrohaung.

Namun Sulauman hanya setahun berkuasa. Tahun 1431, Wali Khan mendepak Sulauman, dan menjadikan dirinya raja di Arakan.  Ia memperkenalkan Bahasa Persia sebagai bahasa resmi. Noromi-kla, atau Sulauman Shah, kembali ke Bengal untuk meminta bantuan kepada Sultan Bengal.

Dua tahun kemudian Nadir Khan, sultan Bengal saat itu, mengirim Jenderal Sindhi Khan dan 30 ribu pasukan untuk menghukum Wali Khan, serta mengembalihkan takhta ke Sulauman Shah. Sebagai imbalannya, Sulauman Shah memberikan wilayah selatan Chittagong, dan membayar pajak tahunan ke Sultan Bengal.

Sejak saat itu, dan sampai paruh pertama abad ke-18, Arakan relatif terlindung dari kemungkinan serangan Burma. Arakan dihuni dua etnis yang relatif seimbang; Rohingya dan Rakhine. Keduanya bersatu karena memiliki musuh bersama, yaitu Burma.

Situasi politik berubah setelah memasuki paruh kedua abad ke-18. Pengaruh Kesultanan Bengal menurun. Burma kembali bangkit sebagai kerajaan yang kuat. Tahun 1784, Raja Budapawa menyerbu Arakan dengan 30 ribu pasukan, dan kembali dengan 20 ribu tawanan.

Inilah pembersihan etnis pertama terhadap Muslim Rohingya dan Rakhine Budha yang dilakukan Burma di Arakan. Mereka membantai semua penduduk Hindu dan Muslim Arakan. Pemeluk Budha relatif tidak tersentuh. Namun  Raja Budapawa merampas patung Budha Mohamuni yang terbuat dari emas, dan dibawa ke Burma.

Dari 20 ribu tawanan yang dibawa Budapawa, 3,700 diantarnya Muslim Rohingya. Mereka dimukimkan di Mandalay, dan beberapa menjadi menteri kerajaan Burma. Sedangkan raja Arakan tidak lagi meminta perlindungan ke Bengal, karena saat itu Inggris telah menjajah India dan seluruh kesultanan Bengal. Ia tidak pernah kembali ke Arakan, karena Burma terus melancarkan aksi pembersihan. Akibatnya, populasi non-Bengal di Chittagong menjadi tinggi, karena Inggris memberi merek tempat.

Burma meminta Inggris memulangkan seluruh orang Arakan; Muslim, Hindu, dan Budha, kembali ke Arakan. Inggris menolak. Perang Inggris-Burma tak terhindarkan. Unggul persenjataan, Inggris dengan mudah menguasai Arakan tahun 1824 . Saat itu, sebagai akibat pambantaian terus-menerus, Arakan nyaris kosong penduduk.

Inggris membawa kembali Arakan; Muslim, Hindu, dan Budha, kembali ke Arakan. Aye Chan, seorang Rakhine Budha yang kembali ke Arakan, mulai menyebarkan kebencian terhadap Muslim di kalangan orang Rakhine. Menurutnya, jika Inggris hanya membawa Muslim Rohingya dan Rakhine Budha == keduanya mengungsi di selatan Chittagong – itu normal. Namun Inggris juga membawa Chittagonian Mulsim Bengal, dan memenuhi tanah pertanian di Arakan.

Kebencian Rakhine Budha terhadap Muslim pun dimulai, dan terus membesar. Puncaknya terjadi tahun 1942. Inggris angkat kaki dari Arakan, dan Jepang datang. Rakhine Budha memanfaatkan keadaan ini untuk menyerang Muslim Rohingya. Pembantaian tak terhindarkan. Lebih 100 ribu tewas dalam peristiwa itu.

Rakhine melupakan sejarah bahwa mereka pernah senasib dengan Muslim Rohingya, ketika menjadi korban pembantaian Burma. Mereka tertular visus xenophobic  Burma, dan menjadi penghancuran semua bukti arkeologis tentang persaudaraan mereka dengan Muslim Rohingya.

Ref:

http://www.ndphr.net/2013/05/iran-calls-for-immediate-solution-to.html

http://www.presstv.com/detail/2013/01/06/282033/iran-sends-aid-myanmar-rohingya-muslims/

http://twocircles.net/2012jul29/rohingya_muslims_brief_history_persecution.html

http://reliefweb.int/report/myanmar/first-plane-carrying-irans-aid-rohingyas-arrives-myanmar

http://english.irib.ir/radioislam/top-stories/item/175257-myanmar-keeps-ignoring-rohingya-muslim%E2%80%99s-issue

http://www.presstv.com/detail/2013/01/06/282033/iran-sends-aid-myanmar-rohingya-muslims/

http://www.aljazeera.com/programmes/insidestory/2012/07/201272383656931979.html

Disclaimer: mohon maaf bila ada iklan tak nyaman dilihat di bawah tulisan ini; ini di luar kendali saya karena saya menggunakan blog gratisan

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: