Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Tuduhan Makar Terhadap Mahasiswa Indonesia di Iran

Tuduhan Makar Terhadap Mahasiswa Indonesia di Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
tehran university

tehran university

Saya benar-benar tersinggung saat membaca reportase berikut ini. Disebutkan, dalam sebuah bedah buku, ada seorang USTAD yang menyatakan bahwa pemerintah Iran memberi beasiswa kepada orang-orang Indonesia untuk belajar di Iran, lalu di sana mereka cuma makan dan tidur, tidak belajar, hanya didoktrin, lalu kembali ke Indonesia untuk mendirikan negara Syiah Indonesia. Kalau benar dia USTAD tentu dia tidak akan sembarangan memfitnah (tentu dia sudah lebih banyak membaca Quran dibanding yang bukan USTAD, sehingga tahu apa itu fitnah).

Saya memang cuma kuliah bahasa Persia 1 semester dan kuliah pra-pasca 1 semester di Tehran University, lalu keluar (karena alasan pribadi), lalu kerja sebagai jurnalis di IRIB. Tapi dalam masa yang singkat itu tentu saja saya mengalami sendiri bahwa saya TIDAK makan dan tidur belaka. Saya juga TIDAK pernah didoktrin bikin negara SYIAH. Bahkan saya dulu sangat sering bergadang supaya lulus ujian (dan ujiannya, parahnya, sulit banget, yang ditanyain biasanya yang tidak ada di buku panduan, jadi musti baca buku banyak-banyak di perpus), supaya nggak malu-maluin Indonesia (kalau nilai saya jelek, rasanya semua orang akan menengok ke saya dan bertanya dalam hati, Indonesia?). Hal yang sama saya lakukan saat kuliah musim panas di Sophia University, Tokyo, dulu. Saya tahu, nilai saya tidak ada ‘arti’-nya, toh cuma kuliah musim panas. Tapi saya tetap bergadang untuk belajar. Saya harus dapat nilai A supaya tidak mempermalukan Indonesia dan khususnya almamater saya, Unpad.

Meskipun dulu saya kuliah cuma setahun, tapi saya juga kenal hampir semua mahasiswa Indonesia di Iran (karena jumlahnya cuma segelintir, waktu itu ga sampai 100-an), dan saya kadang berkunjung ke rumah mereka. Setiap rumah pasti penuh dengan buku-buku. Dan ya, mereka belajar dengan tekun. Seorang teman perempuan, saat saya berkunjung ke rumahnya, bahkan membawa bukunya ke dapur, dan sambil memasak untuk tamunya (yaitu saya), dia membaca buku!

Lalu, USTAD satu itu seenaknya saja mengatakan soal ‘hanya makan dan tidur’ itu. Dia juga mengeluarkan tuduhan serius: TUDUHAN MAKAR. Padahal, pemerintah Iran memberi beasiswa TIDAK hanya kepada muslim Syiah, tetapi juga muslim Sunni dan bahkan non-muslim (saya bahkan sempat seasrama dengan mahasiswi Kristen dari Kenya). Siapa saja yang ingin mendapatkan beasiswa tinggal apply ke kedubes, lalu tunggu nasib. Kalau lolos pun, tidak berarti dilayanin habis-habisan (dan dibujuk rayu supaya bikin negara Syiah seperti tuduhan ustad-entah-siapa itu). Banyak juga yang kecewa setelah berada di Iran, karena ruwetnya masalah administrasi yang dihadapi.

Tuduhan makar adalah tuduhan yang sangat serius, menuduh pihak yang dituduh sebagai pihak yang hendak berkhianat terhadap NKRI. (Dan sangat serius pula dari sisi bahwa -konon- tuduhan ini dicantumkan pula di buku berlogo MUI). Saya sarankan kepada para mahasiswa Indonesia di Iran untuk memberikan pernyataan protes resmi kepada MUI dan pemerintah Indonesia.

Juga, ini tuduhan yang sangat lucu, mengingat yang mengucapkannya justru dari pihak yang getol pengen mendirikan negara Islam ala-entah-siapa. Seperti disebutkan dalam reportase ini:

Fakta ini seharusnya membuat kita lebih kritis lagi. Siapa yang mendanai penerbitan buku-buku dan aneka propaganda pemecah-belahan kaum muslimin di Indonesia? Bila ditelisik, ormas-ormas radikal takfiri di Indonesia adalah ormas-ormas yang juga sangat getol mendukung jihad ke Suriah dan dalam berbagai aksi demonya selalu membawa bendera hitam khas Al Qaida. Jamaah Anshorut-Tauhid (JAT), misalnya. Organisasi bentukan Abu Bakar Baasyir ini adalah salah satu ormas yang aktif menggalang demo pembubaran peringatan Asyura bulan November 2013 lalu.

Beberapa anggota JAT telah ditangkap, atau tewas ditembak mati Densus 88 atas tuduhan terorisme. Sebagaimana dilaporkan dalam hasil investigasi jurnalis Associated Press, orang-orang Indonesia yang berjihad ke Suriah ternyata sebagiannya alumnus Pesantren Ngruki, yang juga didirikan Abu Bakar Baasyir. Abu Bakar Baasyir pun dari penjara menyerukan untuk jihad ke Suriah.

Sementara itu, tahun lalu Kepala Intelijen Arab Saudi, Bandar bin Sultan, telah mengancam Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa bila Putin tidak berhenti mendukung Suriah, maka Bandar akan menggerakkan kelompok radikal Chechnya. Dan benar saja, tak lama setelah itu terjadi berbagai aksi bom bunuh diri yang dilakukan jihadis Chechnya di Rusia.

(selengkapnya baca di liputanislam.com)

Siapapun yang consern terhadap isu Timteng tentu tahu apa “tujuan perjuangan” orang-orang yang “jihad” ke Suriah itu. Ya, tidak salah lagi: mereka ingin menggulingkan pemerintahan Assad dan menggantikannya dengan khilafah Islam. Dan, Assad belum terguling pun, di antara mereka sudah sibuk bertempur satu sama lain, berkonflik menentukan siapa yang lebih berhak jadi khilafah. Kondisi ini sudah saya prediksikan sejak Desember 2012. Waktu itu saya menulis di sini:

Seandainya Assad terguling dan kelompok jihad meraih kekuasaan,  di antara mereka pun akan muncul peperangan karena perbedaan manhaj; di antara mereka sejak awal sudah ada perbedaan visi, model pemerintahan Islam seperti apa yang akan dibentuk? Sejak sekarang pun di antara mereka sudah saling kecam.

Terakhir, sekedar lontaran ide, apa ditulis di akhir reportase itu, cocok juga buat bahan skripsi/tesis/disertasi (untuk kajian terorisme):

Fakta-fakta ini menunjukkan benang merah antara sikap ormas takfiri Indonesia dengan kasus Suriah, dan keterlibatan negara asing.

Pada akhirnya, perang di Suriah, di mana sesama muslim saling bantai dengan membawa-bawa nama jihad, sangatlah menguntungkan Israel. Suriah, salah satu musuh utama Israel, kini sibuk melawan ribuan milisi yang datang dari berbagai penjuru dunia yang merasa sedang berjihad.

Apakah Indonesia juga mau dihasut untuk saling benci, dan kemudian saling bunuh, dengan alasan yang sama: pengkafiran sesama muslim? MUI, seharusnya memberikan jawaban tegas atas pertanyaan ini. (liputanislam.com)

Disclaimer: mohon maaf bila di bawah tulisan ini ada iklan tidak nyaman dilihat yang dipasang oleh WordPress, itu di luar kendali saya.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: