Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » L’Ukraine est une autre Syrie

L’Ukraine est une autre Syrie

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dina Y. Sulaeman*

Bernard Henri Levy di Kiev (9/2/2014)

Bernard Henri Levy di Kiev (9/2/2014)

Membaca berbagai berita tentang Ukraina, terasa bagai deja vu. Terlepas dari perbedaan besar isu penyebab konflik di kedua negara, kerusuhan di Ukraina terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Zionis-Prancis, Bernard-Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti  atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy adalah seorang makelar perang. Dia dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!” (wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!)

Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa. Sebagian rakyat setuju bergabung dengan UE, sebagian lagi menolak. Pengalaman Yunani yang bangkrut akibat bergabung dengan UE membuat banyak orang sadar, UE dan pasar bebas Eropa bukanlah gerbang kemakmuran bagi rakyat banyak. Hanya segelintir yang diuntungkan,dan para kapitalis kelas kakap Eropalah yang jauh lebih banyak mengeruk laba.
Sebagaimana polisi Suriah yang habis-habisan diberitakan brutal oleh media Barat dan para pengekornya, Berkut (polisi) Ukraina pun mengalami nasib yang sama. Tak ada yang peduli bahwa polisi memang bertugas mengamankan gedung dan para pejabat negara dari aksi-aksi anarkis. Tak ada yang mencatat (kecuali jurnalis independen) bahwa baik Assad maupun Yanukovich  melarang polisi menggunakan senjata mematikan dalam menghadapi demonstran, dan akibatnya banyak polisi yang jadi korban, dipukuli atau kena lemparan batu dan molotov para demonstran.

Gaya para demonstran antipemerintah di Damaskus dan Kiev pun mengikuti ‘cetakan’ yang sama dengan gaya demonstrasi oposisi Mesir, Tunisia, Venezuela, Belarus, Georgia, atau Iran. Mereka memprovokasi polisi, serta menyerang gedung-gedung pemerintah, yang tentu saja mendatangkan reaksi keras dari polisi. Tak heran, karena mentor mereka pun sama: CANVAS, perusahaan konsultan revolusi yang membina kaum oposan di lebih dari 40 negara.  Pentolan CANVAS adalah Srdja Popovic, arsitek gerakan penggulingan Slobodan Milosevic (Serbia) pada tahun 2000. Para pendukung dana CANVAS adalah lembaga-lembaga terkemuka seperti United States Institute for Peace (USIP) yang didanai Kongres AS, New Tactics (didanai Ford Foundation dan Soros Foundation), dan lain-lain.

Foreign Policy melaporkan, selama enam bulan pertama tahun 2012, 40 aktivis oposisi Syria mengadakan pertemuan di Jerman yang dikoordinir oleh USIP untuk merancang bentuk dan agenda pemerintahan  pasca-Assad. Tak jauh beda, demonstran Ukraina pun dididik oleh tangan-tangan Amerika. Pengakuan dari  Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland, memberikan buktinya. Nuland mengatakan, Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk ‘mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina’ selain untuk memberikan ‘masa depan yang layak bagi Ukraina.’

Bahkan Menlu Kanada juga mengakui telah memberikan sumbangan ‘luar biasa’ pada sebuah LSM di Ukraina untuk rumah sakit darurat dan peralatan medis. Bantuan itu diberikan tepat sehari sebelum kelompok oposisi bersenjata menyerbu Maidan dan mengakibatkan jatuhnya banyak korban, termasuk tewasnya sejumlah polisi, pada 18/2.

Di Suriah, dengan alasan ‘melawan kebrutalan rezim’, para pemberontak angkat senjata, dan senjata disuplai dari luar negeri. Tak beda jauh, demonstran Ukraina pun angkat senjata. Sebelum terang-terangan angkat senjata, kelompok oposisi di dua negara ini sama-sama menggunakan  taktik penembak gelap. Korbannya rakyat sipil, dan dengan segera di-blow up media massa; disebut sebagai korban kebrutalan polisi.

Bila di Suriah, ada Turki yang menikam dari belakang, di Ukraina ada Polandia. Tentu bukan kebetulan bila Polandia dan Turki sama-sama anggota NATO, dan bahkan sama-sama negara yang menyediakan wilayahnya untuk pangkalan militer AS. Turki membuka perbatasannya untuk suplai dana, senjata, dan pasukan jihadis dari berbagai penjuru dunia menuju Suriah; serta merawat para pemberontak yang terluka. Pada 20/2, PM Polandia menyatakan negaranya telah merawat pemberontak bersenjata dari Kiev, dan bahkan sudah memerintahkan militer dan Kementerian Dalam Negeri untuk mempersiapkan rumah sakit agar bisa menolong lebih banyak lagi.

Suriah terjebak dalam konflik berdarah-darah, yang entah kapan berakhir. Kelompok-kelompok radikal merajalela di berbagai penjuru negeri, menggorok leher orang-orang atas nama Tuhan dan menentengnya dengan bangga di depan kamera. Gedung-gedung bersejarah, pasar-pasar kuno, dan warisan budaya berusia ribuan tahun hancur lebur.

Ukraina tak jauh beda, sebuah negeri dengan keindahan alam yang mengagumkan, menyimpan gedung-gedung kuno eksotis Eropa Timur, dan bahkan ada jejak-jejak panjang kehadiran Islam di sana. Yanukovich memang sudah terguling, tapi konflik belum selesai. Perang saudara sudah di ambang mata. Bila di Suriah, yang maju ke depan untuk ‘berjihad’ adalah kelompok Islam radikal, di Ukraina ada kelompok-kelompok ultra-kanan. Salah satu kelompok demonstran di Maidan, Ukrainian People’s Self-Defense (UNA-UNSO, organisasi ‘turunan’ NAZI), diketahui dilatih kemiliteran di kamp NATO di Estonia pada 2006. Mereka diajari membuat peledak dan menembak.

Skenario di Suriah dan Ukraina sedemikian mirip, sama miripnya dengan berbagai aksi penggulingan rezim di berbagai negara lain, baik yang berhasil, ataupun gagal. Terlepas bahwa pemimpin di negara-negara itu pantas atau tidak digulingkan, terlalu naif bila kita mengabaikan begitu saja kemiripan skenario ini. Ukraina adalah negara yang sangat subur, lumbung pangan Eropa, dan tengah membangun kekuatan industri. Tak heran bila Uni Eropa sangat menginginkannya. AS pun menggunakan kekacauan Ukraina untuk melemahkan Rusia, rivalnya di Suriah.

Dan jangan lengah. Alam Indonesia jauh lebih kaya dari Ukraina. Skenario yang sama, dengan isu berbeda, sangat  mungkin akan melanda negeri ini dalam waktu dekat.  Kecerdasan melihat mana kawan, mana lawan, adalah satu-satunya cara untuk melindungi keselamatan bangsa kita. Persatuan adalah kata kuncinya. Jangan biarkan Indonesia menjadi une autre Syrie.[]

*mahasiswi Program Doktor Hubungan Internasional Unpad, peneliti di Global Future Institute

(referensi utama: www. voltairenet.org)

Artikel ini telah dimuat di IRIB Indonesia dan  The Global Review

 after democracy

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: