Kajian Timur Tengah

Beranda » Studi Hubungan Internasional » Terbit: Jurnal The Global Review #5

Terbit: Jurnal The Global Review #5

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Selalu ada orang-orang yang sanggup menangkap tanda, memperhatikan gejala, dan menyerap makna. Mengkaji perkembangan politik negara lain kadang bisa menjadi sarana untuk mengenali apa yang sesungguhnya sedang kita alami di negeri sendiri. Inilah yang mendorong the Global Review Quarterly edisi kelima kali ini, mengupas dan membedah perkembangan terkini di Ukraina.

Jurnal bisa didapatkan dengan memesan langsung ke (o21) 97008149 atau kontak via FB ke Ferdiansyah Ali.

Harga Rp35.000.

Global Review 5

Tumbangnya Presiden Ukraina yang pro Rusia Victor Yanukovich menyusul hasil voting parlemen Ukraina, bagi Presiden Rusia Vladimir Putin justru dia jadikan sebagai momentum untuk menghadapi secara langsung kekuatan adidaya yang berada di balik kejatuhan Yanukovich: Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Tanpa banyak pidato yang berbunga-bunga, Putin langsung menyusun langkah-langkah strategis dan taktis dengan memerintahkan penggerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina yang berada di dalam wilayah otonomi Krimea.

(Kutipan salah satu artikel karya Hendrajit dan M. Arief Pranoto)
Bermula dari istilah media Barat dalam rangka menggambarkan gerakan massa di negara-negara pecahan Uni Soviet dan Balkan dekade 2000-an ke atas. Revolusi Berwarna atau sering disebut “revolusi warna” kini semakin populer, karena sesungguhnya bukanlah suatu gejolak biasa namun merupakan setting politik praktis di berbagai belahan dunia mengatas-namakan gerakan rakyat. Uniq memang, sebutan bagi setiap gerakan selalu mengambil nama-nama serta mengadopsi warna bunga sebagai simbolnya.

Selain berciri tanpa kekerasan (nonviolent resistance), penting dicatat pada awal tulisan ini bahwa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memiliki peranan teramat vital dalam gerakan ini. Dengan kata lain, LSM termasuk kelompok pemuda serta mahasiswa ialah ujung tombak bagi skenario ganti rezim di suatu negara.

Adapun tuntutan yang diusung dalam revolusi non kekerasan ini berkisar isue-isue global antara lain demokratisasi, hak azasi manusia (HAM), korupsi, kemiskinan, akuntabilitas dan lainnya. Ia punya pola-pola bersifat umum karena berpedoman buku wajib yang sama yakni “From Dictatorship To Democracy”-nya Gene Sharp, sarjana senior di Albert Einstein Institute (AEI). Dan seringkali lambang dan slogan gerakan massa pun sama pula. Sebagai contoh revolusi yang menerjang bekas negara Pakta Warsawa di Yugoslavia (2000), revolusi mawar di Georgia (2003), revolusi oranye di Ukraina (2004), revolusi tulip di Kyrgystan (2005), revolusi cedar di Lebanon (2005) dan lainnya, termasuk gejolak yang kini tengah melanda Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) terdapat kemiripan logo “Tangan Mengepal”, dan slogan singkat yang artinya “CUKUP” sesuai bahasa negara-negara sasaran. Misalnya di Mesir bernama Kifaya (cukup), di Georgia disebut Kmara (cukup), di Ukraina namanya Pora (waktunya), di Kyrgystan berslogan Kelkel (zaman baru) dan seterusnya.

(Kutipan salah satu artikel karya M. Arief Pranoto)

Membaca berbagai berita tentang Ukraina, terasa bagai deja vu. Terlepas dari perbedaan besar isu penyebab konflik di kedua negara, kerusuhan di Ukraina terlihat jelas menggunakan template atau cetakan yang sama dengan Suriah. L’Ukraine est une autre Syrie. Ukraina adalah Suriah yang lain.

Kehadiran tokoh Yahudi-Prancis, Bernard Henri Levy, di depan lautan manusia yang memenuhi Maidan –singkatan dari Maidan Nezalezhnosti atau Lapangan Kemerdekaan—di Kiev, menjadi simbol utama kesamaan template itu. Levy dulu memprovokasi masyarakat Barat untuk ‘membantu’ rakyat Suriah menggulingkan Assad (bahkan sebelumnya, juga hadir di Libya, di depan para demonstran anti-Qaddafi). Kini di Kiev, dia berpidato berapi-api, menyeru rakyat Ukraina, “Les gens de Maidan, vous avez un rêve qui vous unit. Votre rêve est l’Europe!”(wahai orang-orang Maidan, kalian punya mimpi yang mempersatukan kalian. Mimpi kalian adalah Eropa!). Ya, Ukraina memang tengah diadu-domba dengan menggunakan isu Uni Eropa.

(Kutipan salah satu artikel karya Dina Y. Sulaeman)

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: