Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » Demokrasi, Uang, dan Pasar Bebas

Demokrasi, Uang, dan Pasar Bebas

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tulisan terbaru saya (wah, sudah lama sekali saya tidak nulis di media), dimuat di Nefosnews.com

Di versi aslinya, ada satu kalimat sindiran saya untuk orang-orang takfiri yang melempar label sesat, menebar kebencian demi ‘suara’… tapi diedit oleh editor, hehe.. Tak apalah, setiap media tentu saja punya garis kebijakan masing-masing. Karikatur foto saya dibuat baru, pakai jilbab pink (kok tau ya, kartunisnya, kalau favorit saya pink?) tapi kliatan gemuk bangetūüėÄ

Demokrasi, Uang, dan Pasar Bebas

Oleh: Dina Y. Sulaeman

DINA-SULAIMAN-OKEPerhelatan Pileg 2014 usai sudah. Nama-nama caleg yang lolos ke Senayan mulai terungkap. Partai-partai telah melaporkan penggunaan dana kampanye mereka, yang mencapai ratusan miliar. Berbagai laporan tentang bagi-bagi uang selama kampanye, juga diberitakan oleh media. Ada juga caleg yang terang-terangan menyebut berapa miliar uang yang digelontorkan untuk kampanye. Satu hal yang pasti: Pemilu kita sangat mahal. Ironis, harga mahal ini membuat wajah DPR mendatang, meminjam ungkapan Andar Nubowo, akan sangat mengerikan. Andar bahkan menyebut 30 persen kursi DPR 2014 ditempati oleh mereka yang terpilih karena mengandalkan money politic (Tribun News, 25/4/2014).

Demokrasi, menurut Beetham and Boyle (2000), menginginkan agar keputusan-keputusan yang mempengaruhi masyarakat harus diambil oleh semua anggota masyarakat. Dan masing-masing anggota masyarakat itu seharusnya mempunyai kesamaan hak dalam proses pengambilan keputusan tadi. Artinya, dalam demokrasi ada dua prinsip yang harus ditegakkan. Pertama, kontrol rakyat atas proses pembuatan keputusan kolektif. Kedua, kesamaan hak dalam pengontrolan itu.

Namun ternyata itu tidak semudah teori. Demokrasi sering terhenti pada prinsip persamaan hak. Ketika semua orang dianggap berhak berpolitik, siapa yang akan muncul sebagai pemenang? Dalam demokrasi liberal yang kita anut, uang sangat menentukan kemenangan. Iklan di media massa, spanduk, poster, bahkan pembagian uang tunai menjadi andalan utama kampanye. Bukan kerja nyata. Apalagi, moral.

Tak heran bila yang memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan politik sebagian besar, akhirnya adalah orang-orang berduit atau orang yang di-backing orang berduit.  Sehingga, mereka kelak di DPR, hampir pasti akan mengambil keputusan yang memang menguntungkan dirinya dan para pemodal di belakangnya. Dan siapa itu para pemodal? Tak lain para pengusaha, mulai dari kelas kampung sampai kelas multinasional.

Selannjutnya, silahkan baca di website-nya : Demokrasi, Uang, dan Pasar Bebas

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: