Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Kaitan antara Jatuhnya Mosul (Irak) dan Suriah

Kaitan antara Jatuhnya Mosul (Irak) dan Suriah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

In Pictures: ISIL militants show Iraq’s Mosul under their controlTulisan ini bagus sekali, mengungkap apa yang terjadi di Irak baru-baru ini. Sebagaimana telah diberitakan berbagai media massa, kota-kota di Irak berjatuhan ke tangan ISIS (teroris Al Qaida yang kini menamakan diri Islamic State of Iraq and Syria) atau kadang disebut ISIL (Islamic State of Iraq and Levant) . Yang belum banyak diungkap adalah, mengapa kota Mosul yang jadi sasaran? Dan, ternyata aksi ISIS/ISIL ini sangat erat kaitannya dengan Suriah. Tulisan berikut saya copas dari rubrik opini di web www.liputanislam.com

Menguak Agenda Tersembunyi AS di Balik Jatuhnya Mosul

Oleh: Ayudia az-Zahra

Jatuhnya Mosul, adalah pukulan telak bagi pemerintahan Irak. Bagaimana tidak, Mosul merupakan salah satu kota terbesar di Irak yang memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dihuni oleh kurang lebih dua juta jiwa. Terletak di persimpangan Turki dan Suriah, Mosul memiliki posisi yang sangat strategis.

Rusia Today (RT), media terkemuka dari Rusia merilis laporan terkait Mosul terkini, dan disebutkan bahwa Mosul jatuh ke tangan ISIL setelah pasukan Irak melarikan diri dari pertempuran. Keterangan ini diperkuat dari laporan Washington Post, media Amerika Serikat – tentang diunggahnya sebuah video dan foto-foto terkait Mosul di jejaring sosial. Foto dan video itu memperlihatkan jalan-jalan yang kosong, kendaraan militer yang hancur, dan tumpukan seragam militer yang ditanggalkan oleh pasukan Irak saat mereka melarikan diri dari pertempuran di Mosul.

Pembicara parlemen Irak, Osama al-Nujaifi juga membenarkan pelarian tersebut. Dikatakan, saat pertempuran semakin sulit di kota Mosul, pasukan pemerintah meletakkan senjata mereka dan meninggalkan pos, dan membiarkan Mosul dimangsa dengan mudah oleh para teroris.

Aksi melarikan diri dari pertempuran, adalah pilihan terakhir yang rasional, minimal untuk menyelamatkan diri. Tapi tentu saja, aksi seperti ini merupakan hal yang sangat memalukan untuk dilakukan oleh tentara di negara manapun. Dalam perang Suriah, bisa kita saksikan bagaimana heroiknya Tentara Suriah dalam mempertahankan negaranya dari serangan teroris. Dalam mempertahankan sebuah wilayah, tempat itu hanya benar-benar dikuasai pemberontak setelah pertempuran habis-habisan. Contoh: Rumah Sakit Al-Kindi yang dijaga ketat oleh Tentara Suriah, setelah diserang dengan 2 bom mobil dengan kekuatan dahsyat hingga menewaskan seluruh tentara, baru bisa dikuasai oleh pemberontak.

Dari laporan RT juga disebutkan, bahwa Mosul yang dibiarkan jatuh ke tangan teroris adalah kota yang menyimpan berbagai senjata canggih buatan Amerika. Lalu helikopter  Black Hawk,  helikopter serba guna angkut menengah bermesin ganda yang diproduksi oleh Sikorsky Aircraft  dan bertugas dalam pertempuran selama konflik di Grenada, Panama, Irak, Somalia, Balkan, Afghanistan, dan daerah lain di Timur Tengah – juga dikabarkan terdapat di Mosul.

Artinya, dengan membiarkan Mosul jatuh ke dalam cengkraman ISIL, maka otomatis segala persenjataan canggih buatan Amerika Serikat akan dikuasai kelompok militan ini. Laporan Washington Post juga  mengungkapkan, ISIL berhasil menyita sejumlah besar persenjataan dari pasukan keamanan saat mereka menguasai markas-markas tentara maupun aparat keamanan, termasuk kendaraan, dan amunisi, yang  tentunya akan memudahkan kelompok ini dalam serangan berikutnya. Washington Post menyebutkan, bahwa persenjataan tersebut merupakan buatan Amerika Serikat.

Laporan Debkafile, Media Israel Terkait Mosul

Berita jatuhnya Mosul menjadi berita utama di Debkafile, media Israel. Istimewanya, baik berita maupun analisis yang dimuat di Debkafile, biasanya selalu bersumber dari laporan intelejen sehingga Debka berhasil mengungkap hal-hal yang belum diekspos media lain.

Debka menyebutkan, bahwa Nechirvan Barzani, perdana menteri pemerintah daerah Kurdistan di Irak, menyalahkan pemerintah atas jatuhnya Mosul. Barzani mengklaim, bahwa  pihaknya telah memperingatkan bahwa pasukan ISIL tengah berkumpul di Mosul, tapi pemerintah Irak tidak mengambil tindakan strategis, dan pasukan Irak malah lari pertempuran.

[Catatan penulis: Jika peringatan Barzani segera ditindak-lanjuti –misalnya dengan mengirimkan bala bantuan tentara, kemungkinan besar Mosul tidak akan berhasil direbut kawanan teroris ISIL]

Debka juga mengungkapkan pernyataan dari juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki, bahwa pemerintah AS menyadari kelompok Islam radikal di Irak mendapatkan keuntungan/ kekuatan akibat kekacauan yang terjadi di Suriah,  dengan berbagai kemungkinan adanya  transfer  antar jihadis yang berhasil direkrut, dan aliran amunisi canggih.

[Catatan penulis: AS mengakui ada hubungan kuat antara kelompok teroris di Suriah dan Irak. Berada dibawah payung kelompok yang sama, dan tentu saja karena memiliki tujuan yang sama, baik yang menguasai daerah Irak maupun Suriah, mereka akan saling membantu satu sama lain]

Komitmen Barat: Membantu Pemberontak Melawan Assad

Bashar al-Assad kembali terpilih sebagai Presiden Suriah setelah mengantongi 88,7 persen suara dalam Pemilu yang digelar di negeri yang tengah berkecamuk tersebut. Namun negara Barat menolak kemenangan Assad.  John Kerry menyebut hasil itu “tak berarti”, demikian laporan Xinhua. Ia mengatakan, “Apa yang disebut pemilihan umum bukan-lah pemilihan umum tapi cuma nol besar.”

Sebelum dilangsungkan pemilu di Suriah, John Kerry, Sekretaris Negara Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa AS dan sekutunya akan memperluas dukungan mereka kepada oposisi Suriah. Hal tersebut diungkapkan setelah salah satu komandan pasukan pemberontak di Suriah menyatakan bahwa mereka (para pemberontak) tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengalahkan Assad.

Kerry yang saat itu sedang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague Minster di London, memastikan Amerika Serikat dan sekutunya telah sepakat untuk membantu pemberontak, namun belum jelas apakah akan melakukan perubahan strategi. Pemerintahan Obama berulang kali mengatakan konflik di Suriah hanya bisa diselesaikan jika Assad mundur sebagai presiden. Artinya, selama Assad masih berkuasa, Obama dkk akan mengobarkan perang di Suriah, dengan cara apapun.

[Catatan penting: pernyataan Kerry walau tidak jelas, mengisyaratkan adanya perubahan strategi yang diambil untuk menumbangkan Bashar al-Assad.]

Sejarah Panjang Dukungan Amerika Serikat Kepada Kelompok Teroris.

Sejarah telah mencatat, bahwa Amerika Serikat adalah ibu kandung dari kawanan teroris Al-Qaeda. Di awal pembentukan Al-Qaeda, AS memanfaatkan gairah jihad mereka untuk melawan Uni Sovyet. AS, melalui CIA, melatih dan mempersenjatai Al-Qaeda. Setelah Uni Sovyet runtuh, AS lantas mencanangkan aksi “perang melawan teror” agar seolah-olah, sedang memerangi terorisme.

Namun sesungguhnya, AS tidak benar-benar memerangi terorisme, melainkan memanfaatkan aksi terorisme itu untuk mengacaukan sebuah negara berdaulat –sehingga AS bisa menancapkan kukunya — untuk kemudian mengeruk kekayaan negara tersebut dalam-dalam. Dalam perjalanannya, terkuak bahwa terorisme di Libya, Nigeria, Aljazair, maupun di Suriah, merupakan “hasil olah racikan” AS. Tentu saja, untuk membantu para teroris – dan sekaligus menyelamatkan wajahnya di mata dunia, AS menggunakan cara-cara berliku.

Misalnya, untuk mempersenjatai Boko Haram di Nigeria, disusun skenario:

  1. NATO menggelontorkan senjata kepada pemberontak di Libya (LIFG)
  2. LIFG meneruskan senjata tersebut kepada kelompok teroris AQIM di Aljazair
  3. Lalu AQIM memberikan senjata tersebut kepada Boko Haram di Nigeria

[Baik LIFG, AQIM, maupun Boko Haram, ketiganya merupakan kelompok teroris ‘turunan’ Al-Qaeda]

Sejarah seringkali berulang, dan itulah mengapa Bung Karno pernah mengingatkan kita agar jangan sampai melupakan sejarah. Dalam hal ini, jatuhnya Mosul ke tangan ISIL yang terlihat begitu mudah, menimbulkan tanda tanya besar.

Mungkinkah, Mosul memang sengaja dibiarkan untuk jatuh kepada militan ISIL — untuk memberikan kesempatan kelompok teroris menguasai segala bentuk senjata milik AS yang tersimpan di kota tersebut – untuk kemudian digunakan/ diteruskan kepada kelompok ISIL di Suriah – guna menumbangkan Bashar al-Assad?

Apakah ini merupakan perubahan strategi AS, yang pernah disinggung oleh Kerry? 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: