Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Michael Moore, Irak, dan Dilema Demokrasi

Michael Moore, Irak, dan Dilema Demokrasi

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

DINA-SULAIMAN-OKETulisan terbaru saya di Nefosnews.com

“Mosul fell. Mosul is the second largest city in Iraq. The Iraqi government we “installed”, has now lost Fallujah, Ramadi, Mosul and other large swaths of the country we invaded at the cost of thousands of American lives, tens of thousands of Iraqi lives and a couple trillion dollars.”

Demikian tulis Michael Moore, sutradara kawakan AS, di fanpage-nya, pada Rabu (11/6/2014). Moore mengungkapkan kekesalannya terhadap pemerintah AS yang telah menginvasi Irak atas nama demokrasi. Uang triliunan US$ dihabiskan pemerintah AS, ribuan tentaranya tewas. Dan yang lebih menderita tentu saja rakyat Irak. Janji demokrasi yang dibawa AS pada tahun 2003 ternyata bohong belaka. Setiap detik kehidupan mereka kini terancam oleh bom dan letusan senjata.

Moore pernah membuat film dokumenter Fahrenheit 911 yang mengungkap berbagai kebohongan yang dilakukan rezim Bush. Salah satu adegan yang sangat melekat di benak saya adalah ekspresi wajah Bush saat dibisiki oleh pengawalnya, menginformasikan serangan terhadap WTC pada 11 September 2001. Bush saat itu sedang berada di sebuah kelas taman kanak-kanak. Dia diam saja, tidak menunjukkan keterkejutan, dan meneruskan membacakan buku kepada anak-anak TK. Dan buku yang dibacanya itu terbalik.

Entah apa yang sebenarnya ada di benak Bush saat itu. Yang jelas, sejak saat itu, AS melancarkan Perang Melawan Terorisme. AS menggempur Irak pada tahun 2003, dengan alasan Saddam memiliki senjata pembunuh massal yang mengancam keselamatan umat manusia. Dan ternyata keberadaan senjata pembunuh massal di Irak hanya isapan jempol. Bush pun pada 2004 mengakuinya, namun menyalahkan CIA yang memberinya laporan palsu. Pretext (alasan) perang Irak pun diubah, bukan lagi untuk memusnahkan senjata massal, melainkan untuk menggulingkan Saddam yang diktator dan menegakkan demokrasi di Irak.

Segera setelah AS mendirikan pemerintahan “demokratis” di Irak, tiba-tiba saja muncul kelompok-kelompok teror yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Mereka menyerang rakyat sipil, meledakkan bom bunuh diri di berbagai tempat. Situasi ini dijadikan alasan oleh AS untuk tetap mempertahankan pasukannya di Irak. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan minyak dan kontraktor Barat juga terus mengeruk uang di Irak, mengendalikan berbagai proyek.

 

…. mengapa penegakan demokrasi harus ditebus dengan harga jutaan nyawa? apa kaitannya dengan demokrasi dan pilpres kita?

baca selengkapnya di Nefosnews

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: