Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Sihir Obama Mulai Terkuak?

Sihir Obama Mulai Terkuak?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

cover obamaSaya ingin cerita pengalaman saya menulis buku Obama Revealed (2010) (revealed = terungkap/terkuak). Naskah buku itu selesai tahun 2009. Awalnya disambut dengan antuasias oleh penerbit X. Tapi mereka minta waktu untuk diskusi dengan marketing. Beberapa hari kemudian tiba email jawaban, kurang lebih; “Toko buku ‘anu’ tidak akan mau memajang buku ini mbak. Kalau mbak mau, tunggu saja sampai angin berbalik, ketika kritikan terhadap Obama bisa diterima publik.” [info: si penerbit itu rupanya sangat bergantung pada distribusi yang dilakukan toko buku ‘anu’]

Ya, waktu itu, seluruh dunia ‘tergila-gila’ pada Obama. Kritikan pada Obama seolah diharamkan. Tapi, entah kenapa, saya seperti ditakdirkan jadi penulis nekad. Seorang akademisi yang memberi kata sambutan pada buku saya Prahara Suriah juga menyebut saya penulis yang berani mengambil resiko karena (nekad) menulis sesuatu yang sedang berlangsung (jadi, nggak nunggu semua settle dulu, sudah tahu dulu kemana angin akan berhembus, baru menganalisis). Tulisan saya tentang Suriah memang sukses membuat saya dibully habis-habisan (bahkan diancam kekerasan fisik oleh seorang ustadz garis keras yang menganggap Suriah adalah ladang ‘jihad’) karena menentang pendapat mainstream.

Tapi setelah tiga tahun berlalu (sejak konflik Suriah meletus), angin pun bertiup ke arah yang saya prediksikan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak berkata “Kata gue dulu juga apaaaa..?!” Karena saya sebenarnya tidak ‘berjuang’ sendirian. Ada banyak orang hebat yang membantu saya (memberi masukan, info-info mengenai pemalsuan informasi soal Suriah, dll), ada para jurnalis independen yang menjadi rujukan saya, ada teman-teman yang setia mendukung saya. Dan ada suami saya, serta editor/penerbit, yang tak bosan-bosan mendorong saya menulis buku itu.

Nah, balik ke Obama. Saat begitu banyak orang yang terpesona pada sihirnya, saya justru sangat skeptis. Ga mungkin Obama akan membuat perubahan dalam politik luar negeri AS, kata saya. Dan saya pun menulis buku itu. Saya selesaikan hanya dalam dua pekan.

Setelah naskah ditolak penerbit X, saya kirim ke penerbit Y. Mereka juga antusias dan mulai menggarapnya. Tiba-tiba saja, saat akan naik cetak, dihentikan oleh pemilik sahamnya, seorang tokoh terkenal (makanya, saya sejak itu tak terlalu percaya integritas tokoh tersebut). Saya benar-benar heran awalnya. Kenapa ya? Apa karena si tokoh ini lulusan Amerika sehingga tidak rela Presiden AS ini saya ‘kuliti’ habis-habisan?

Karena naskah sudah siap cetak, akhirnya penerbit Y menawarkan naskah itu ke penerbit Z. Direktur penerbit Z menelpon saya, kurang lebih gini katanya, “Naskahnya bagus Mbak.. tapi kami terlanjur bikin buku yang memuji-muji Obama. Saya pikir, itu pula alasan Bapak *tiiit* menolak menerbitkan buku Mbak. Kan dia juga sudah menerbitkan buku yang menyanjung Obama. Gimana kalau naskah Mbak ini saya kasih ke penerbit Q? Saya juga punya saham di sana kok.”

Walhasil buku itu pun diterbitkan oleh penerbit Q (ya, sekarang sih, saya sebut saja namanya: Aliya Publishing), penerbit yang baru berdiri, namanya pun baru saat itu saya dengar. Penjualannya buruk sekali, saya bahkan tak pernah melihatnya di toko buku manapun. Tapi saya lewat pertemanan berhasil menjual ratusan eksemplar buku itu. Bahkan sampai hari ini ada saja yang ingin beli buku itu (biasanya mahasiswa yang mau skripsi), tapi sayang saya tak punya lagi stoknya. Penerbit itu pun sudah bangkrut. Saya coba kontak orangnya, tak ada respon.

Inti cerita ini adalah: pencitraan Obama memang ‘industri’ yang luar biasa, bahkan imbasnya sampai ke Indonesia; dan saya termasuk korbannya : ‘diberangus’ saat menulis sesuatu yang berbeda dari yang dikehendaki ‘industri’ ini.

Dan maaf menyimpang sedikit: saya menengarai, industri pencitraan yang luar biasa pun tengah terjadi di Indonesia pada pilpres 2014. Saya tidak bisa menulisnya karena saya tidak punya data-data validnya. Untuk menulis tentang AS, data-data tersedia dengan sangat mudah diakses karena pengarsipan di sana sudah sangat canggih. Untuk menulis tentang Suriah, saya sangat terbantu karena perang Suriah adalah ‘perang era digital’. Semua kejadian di sana, langsung diupload di Facebook, liveleak, you tube, dll.; data-data sangat melimpah, tinggal diverifikasi (dicek, foto asli atau palsu, video asli atau palsu); ada jurnalis-jurnalis independen yang menyampaikan berita yang berbeda dari media mainsteram, tinggal diverifikasi dan di-cross check. Apalagi, karena modusnya sangat jelas, dan saya sudah lulus mata kuliah ‘Resolusi Konflik’, menganalisis Suriah pun relatif mudah.

Sementara, untuk menulis kasus pilpres di Indonesia, dengan pengarsipan yang payah, bahkan media-media terkenal pun tidak bisa lagi terlalu dipercaya, pilihannya adalah: saya harus terjun langsung meneliti. Tapi, saya tidak sanggup meneliti langsung. Tidak mungkin saya menulis/mengomentari capres 1 atau 2 hanya berdasarkan ‘kata orang’. Saya punya banyak informasi dari ruang kelas kuliah saya, dari teman-teman saya yang orang-orang ‘elit’ dan dari profesor-profesor saya. Tapi tentu tak bisa saya ungkap di publik.

Jadi, yang bisa saya lakukan hanya wait and see. Sudah ada orang-orang yang lebih berkompeten dari saya, yang menulisnya; mereka yang lebih menguasai isu politik nasional. Salah satu analisis yang cocok dengan apa yang saya pikirkan adalah tulisan-tulisan di web www.militanindonesia.org [saya bukan pemikir Kiri atau pemuja Marx, bahkan saya tidak mampu menulis analisis dengan menggunakan teori Marx, tapi saya sepakat pada cara menganalisis dengan perspektif kelas, borjuasi, perlawanan pada imperialisme kapitalis yang digunakan web itu dalam menganalisis pilpres 2014.] Dan kesimpulannya, saya skeptis pada kedua capres itu. [Tapi saya tetap menggunakan hak pilih saya]

Balik lagi ke Obama. Sebenarnya, ‘sihir’ pencitraannya sudah terkuak dengan cepat  hanya beberapa hari setelah dilantik. Di buku saya itu, saya ungkapkan siapa saja yang jadi menterinya Obama, apa kaitan mereka dengan Zionisme, dan terbukti, Obama tak beda dengan Bush. Hanya beda gaya. Di blog ini saya sudah menulis berkali-kali soal Obama, disilahkan di-search saja. Salah satunya: SBY, Century, dan Obama.

Nah, yang terbaru, saya baca tulisan Prof. R. Tremblay. Intinya, dia mengomentari pidato Obama ini:

“I believe in American exceptionalism with every fiber of my being. But what makes us exceptional is not our ability to flout international norms and the rule of law; it is our willingness to affirm them through our actions.” President Barack Obama, May 29, 2014 commencement speech at West Point

Kata Prof Tremblay:

Apakah saya sendiri yang memiliki perasaan tidak enak, saat mendengarkan pidato Barack Obama; bahwa kita sedang menyaksikan seorang aktor yang memainkan peran sebagai presiden Amerika, yang sedang membaca naskah pidato diberikan padanya? Seiring dengan berjalannya waktu, memang, Barack Obama tampaknya berubah dan lebih menjadi George W. Bush yang Demokrat. Mereka yang menulis naskah pidatonya pun tampaknya memiliki mentalitas gila perang, sama dengan mereka yang menulis pidato George W. Bush atau Dick Cheney, sepuluh tahun yang lalu.

Hal ini mungkin bukanlah kebetulan, karena neokonservatif yang menempati posisi kunci dalam pemerintahan Barack Obama, seperti yang terjadi di era George W. Bush. Merekalah yang mendorong Amerika Serikat ke dalam perang di Irak, dan karena mereka juga telah mencoba untuk mendorong Amerika Serikat ke arah konfrontasi militer dengan Iran, dan kini mereka sekarang mencoba untuk memprovokasi Rusia untuk memicu konflik militer. Bagaimana neokonservatif dapat menyusup ke dalam pemerintahan (Partai) Republik dan Demokrat, dan menjadi pembuat masalah di kedua pemerintahan itu, adalah keajaiban abadi dalam politik Amerika.

Ya inilah yang terjadi di AS: Obama dikemas menjadi sosok pembawa ‘harapan’, namun yang terjadi hanya pengulangan yang sama; AS tetap melancarkan perang di berbagai negara demi kepentingan industri militer dan minyak. Inilah yang saya uraikan panjang lebar dalam buku saya itu (Obama Revealed). Kalau tak bisa baca bukunya, silahkan baca saja tulisan singkat Prof Trembley di sini. Intinya sama saja. Bedanya, saya menulis buku itu tahun 2009, hanya beberapa bulan setelah Obama dilantik (tapi terbit Maret 2010). Trembley, menulisnya beberapa hari yang lalu.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: