Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Harrison Ford dan Hutan Indonesia

Harrison Ford dan Hutan Indonesia

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kesampingkan dulu soal ‘siapa’ Menhut yang ada di video ini (yang kebetulan berasal dari kubu KMP, dan akhir-akhir ini -betapa menyedihkan- sepertinya mengkritisi apapun jadi dianggap bernuansa KIH vs KMP). Kesampingkan dulu soal gaya Harrison Ford yang (mungkin) mengganggu rasa nasionalisme. Saya mengajak Anda untuk fokus pada isu kerusakan hutan di Indonesia. Di video ini terlihat jelas bahwa bangsa ini selama bertahun-tahun telah menyia-nyiakan kekayaan alam yang diberikan Tuhan; hutan dibabat secara masif untuk diganti dengan kebun sawit, yang ternyata sangat merugikan rakyat Indonesia (dan hanya menguntungkan segelintir pengusaha kaya dan kroni-kroni mereka). Video ini menunjukkan bukti dari kejahatan ekonomi neolib.

Ironis, kisah pilu masyarakat yang tanahnya dirampas oleh perkebunan sawit (berbekal izin pemerintah) seolah tak terdengar, karena media nasional kita tak gencar memberitakannya. Misalnya, pernahkah Anda mendengar nama Eva Bande? Perempuan ini dipenjara karena memperjuangkan tanahnya yang dirampas oleh KLS, perusahaan sawit di Banggai, Sulteng. KLS merampas lahan petani di Desa Piondo, Singkoyo, Moilong, Tou, Sindang Sari, Bukit Jaya, dan beberapa desa lain. Secara keseluruhan tanah-tanah petani digusur KLS seluas 7.000 hektar. Sejak 1996, KLS membuka perkebunan sawit skala besar di Toili Kabupaten Banggai. KLS mendapat izin pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) 13.000 hektar dengan dana pinjaman pemerintah untuk penanaman sengon dan akasia Rp11 miliar. Hingga kini dana tidak dikembalikan dan lahan HTI malah jadi kebun sawit.

Atau, apakah Anda tahu, apa yang terjadi pada masyarakat Buol yang tanahnya dirampas oleh perusahaan milik Hartati Murdaya? Dulu mereka bertani. Setelah melalui berbagai negosiasi, mereka diperkerjakan di kebun sawit milik Hartati, dengan kondisi yang amat buruk. Kisah selengkapnya dibaca di sini. Hartati kemudian ditangkap KPK karena terbukti menyuap Bupati Buol. Dia hanya dihukum 22 bulan dan denda 150 juta. Tapi bagaimana dengan nasib ribuan petani yang kini hidup miskin, bagaimana masa depan anak-anak mereka?

Ironis, mengapa harus orang asing yang mengingatkan orang Indonesia tentang kejahatan ini? Saya mengenal salah satu LSM (dari beberapa LSM) yang aktif membantu rakyat Buol untuk menuntut hak mereka; dan LSM (yang saya kenal) itu memang dibiayai asing. Tapi, apakah kemudian karena ‘asing’, lalu kasus Buol (dan kasus-kasus kejahatan lingkungan lainnya) diabaikan dengan kata-kata “itu upaya asing untuk mengacau Indonesia!” ? Apakah karena kesal pada Harrison Ford yang Amerika, kita menutup mata pada realitas? Setidaknya, setelah dilabrak oleh Ford, ada sedikit perubahan yang terjadi (tiga perusahaan sawit yang merampas kawasan hutan lindung di Tessa Nilo, mengembalikan lahan kepada pemerintah). Mengapa setelah ‘dikejar-kejar’ oleh LSM asing, pemerintah baru bergerak? Kemana rakyat Indonesia, yang seharusnya lebih peduli terhadap tanah dan hutannya?

Saya pikir, menonton video ini penting, untuk melihat apa yang sudah ‘mereka’ (para pengusaha -entah lokal atau asing- dan pemerintah) lakukan pada hutan milik kita semua. Saya juga meminta anak saya menontonnya, supaya ia tahu, apa yang sedang terjadi di  negeri ini.

(Ada teks terjemahan bahasa Indonesia)

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: