Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » Teori Konspirasi dan Mafia Migas

Teori Konspirasi dan Mafia Migas

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

mafiaOleh: Dina Y. Sulaeman

Saya, terus terang saja, tidak (belum) mampu menulis analisis politik mikro Indonesia; saya hanya bisa menganalisis secara makro saja, tidak sampai ke personal aktornya. Masalah utama ada di data. Sejak kuliah di S3 HI, saya jadi kenal dengan banyak orang yang membuat saya agak takjub. Mereka ini pejabat di instansinya masing-masing. Saya mendapat banyak cerita off the record tentang politik dalam negeri. Apakah semua omongan itu benar? Saya tidak mampu mengeceknya. Jadi, saya tidak menjadikan semua omongan di kelas atau di warung tegal dekat kampus kami itu sebagai bahan tulisan.

Berbeda situasinya dengan saat saya menulis tentang politik AS. Dalam buku saya Obama Revealed (saya tulis saat seluruh dunia termasuk Indonesia tergila-gila pada Obama-sampai-sampai buku itu terhalang diterbitkan oleh penerbit besar karena bosnya rupanya pro Obama), saya mencoba membuktikan bahwa kabinet Obama sangat kental kaitannya dengan Zionis. Data-data yang saya pakai valid, bukan rumor. Misal, menteri X, ternyata komisaris di perusahaan Y (dan itu data resmi perusahaan tersebut, yang bisa diakses publik, bukan info bisik-bisik). Dan ternyata saham perusahaan Y dimiliki Z. Lalu, bisa dicek juga, siapa Z, ternyata orang Yahudi. Lalu, ditelusuri, apa saja selama ini yang dikatakan Z, apakah pro Israel atau tidak (karena belum tentu setiap Yahudi pro-Israel). Dari situlah saya ambil kesimpulan. Di AS, semua data mudah sekali diakses, data itu valid digunakan untuk penelitian (cara penelitian dan penulisan yang sama juga pernah digunakan oleh Prof Hubungan Internasional favorit saya, John J. Mearsheimer dalam makalahnya tentang lobby Israel dalam Polugri AS). Dan semua sumber data saya itu, saya tuliskan lengkap di catatan kaki.

[Cara yang sama juga saya gunakan dalam menulis buku Prahara Suriah, karena aktor utama konflik adalah AS, data dan buktinya juga dengan mudah diakses, sehingga saya bisa memberikan argumen bahwa AS-Israel-lah yang ada di belakang para “mujahidin” –tentu saja para “mujahidin” menyangkalnya, dan bak katak dalam tempurung tetap merasa sedang berjuang menegakkan Khilafah Islam].

Sejak tadi malam, saya membaca beberapa media online sudah memberitakan dua menteri Kabinet Kerja Jokowi sebagai mafia migas (Rini Soemarno dan Sudirman Said). Dan sumbernya adalah pernyataan seorang analis politik, sebut saja Mr. XYZ. Tapi saya tidak menemukan sumber data yang dipakai Mr XYZ. Okelah dia mungkin sumbernya dari omongan-omongan orang dalam (seperti saya juga tahu beberapa hal di balik layar, dari obrolan di warung tegal bersama teman kuliah saya). Tapi, masalahnya, layakkah kita percaya begitu saja?

Saya coba browsing, dan menemukan sebuah artikel yang panjang lebar bercerita soal kaitan mafia migas, ditulis oleh kompasianer bernama Ratu Adil, baca saja di sini. (Teori yang dibangun sama persis seperti pernyataan si analis politik Mr.XYZ, dan saya tidak heran kalau ternyata Mr XYZ mengandalkan info dari Ratu Adil, karena dari rekam jejaknya di Facebook, dia terlihat sering share link dari sumber-sumber tidak jelas). Yang ditulis Ratu Adil, seolah benar; apalagi saya tidak punya kemampuan untuk melacak (dia juga tidak menyebutkan sumbernya). Ada satu referensi yang dia kasih, yaitu tentang kasus pembelian minyak Zatapi. Saya baca link-nya, oke, ada satu tuduhan yang bisa diklarifikasi: Ari Soemarmo (kakak Rini Soemarno, Menteri BUMN kabinet Jokowi) memang dicurigai tersangkut kasus Zatapi. Benar atau tidaknya, wallahu alam, dari link yang diberikan yang ada adalah indikasi-indikasi. Tapi saya pribadi merasa,  mungkin benar (di Indonesia ini, masalah KKN sudah sangat umum terjadi).

Tapi, Ratu Adil tidak memberi referensi untuk tuduhan-tuduhannya yang lain, bahwa si ini begini, si itu begitu, si ini dan si anu kongkalingkong, dst. Yang menarik, Ratu Adil ini membela Riza Chalid, yang sejak lama (jauuuh… sebelum pilpres) sudah disebut-sebut sebagai mafia migas. Saya ingat, yang dulu ‘membongkar’ adalah akun TrioMacan (dan sialnya, pernah satu kali saya kutip dalam tulisan saya, sekarang saya merasa malu, kok bisa-bisanya saya mengutip TrioMacan).

Saya baca kolom komentar, ada yang bertanya kritis, tidak dijawab memuaskan oleh si penulis. Jadi, saya benar-benar tidak bisa menyimpulkan, tulisan si Ratu Adil ini benar atau tidak. Jalan terakhir, saya ingin melihat rekam jejak si Ratu Adil ini. Pertama, dia pakai nama samaran dan mengaku bekerja sebagai ‘mata-mata perusahaan’. Saya coba browsing, ketauan, ada dugaan kuat nama aslinya Indro Bagus. Silahkan klik link ini, disebutkan “Jilbab Hitam ternyata adalah Indro Bagus eks wartawan detik yang terbukti memeras saat IPO Krakatau Steel. Ia juga adalah admin ratu_adil yang aktif menyerang Metta, penulis buku skandal pajak Asian Agri “Saksi Kunci”.

Lalu, saya coba baca tulisan-tulisan Ratu Adil sebelumnya di Kompasiana. Tulisan-tulisan itu menyerang Jokowi. Saya dengan senang hati membaca analisis yang intelek dari dua kubu, Prabowo-Jokowi. Hanya, ketika saya menemukan Ratu Adil memakai data-data gosip ala Voa Islam, PKS Piyungan, Jonru dll, untuk mengaitkan Jokowi dengan China-Rusia, saya putuskan: kredibilitasnya sangat diragukan. Salah satunya, dia pakai foto hoax Jokowi berkunjung ke makam Yeltsin di Rusia. Foto satu ini sangat heboh di medsos, karena saya membaca dari dua kubu, saya pun mendapatkan klarifikasi soal foto itu yang ternyata hasil rekayasa photosop. Selain itu, membangun teori konspirasi bahwa Jokowi masuk ke poros China-Rusia hanya karena Jokowi konon pernah ke China dan Rusia (apalagi bila dikaitkan dengan PKI seperti nasib Ucu Agustin), sungguh ngawur. Sayang saya tidak bisa menuliskan argumen saya, karena sumbernya sekedar obrolan informal saya dengan profesor dan teman-teman saya, salah satunya pejabat BIN. Kalau soal percaya atau tidak percaya, saya tentu lebih memilih percaya omongan teman BIN saya itu, daripada si Ratu Adil yang entah siapa ini.

Nah, dari rekam jejak akun bernama Ratu Adil itu, saya berlepas diri saja dari data yang dia pakai. Tidak akan pernah saya pakai untuk analisis saya. Saya tidak bisa membenarkan dan juga tidak bisa menyalahkan yang dia tulis (karena sebagian besar yang dia tulis, tidak bisa saya lacak, jadi bagaimana saya bisa menilai benar salahnya? Ketika kita tidak bisa melacak, sandaran terakhir adalah kredibilitas penulis, dan ternyata Ratu Adil bukan penulis kredibel).

Tujuan tulisan ini bukan untuk membela menteri Jokowi. Bahkan sebenarnya saya tidak pernah yakin ada kabinet yang bebas pengaruh mafia, baik itu kabinet Jokowi–atau kabinet Prabowo, seandainya dia menang. Untuk situasi Indonesia sekarang ini, mengira ada kabinet yang bebas dari mafia ini-itu, bak mimpi siang bolong (baca saja bukunya Vltchek atau Perkins). Sebagaimana tidak ada makan siang gratis bagi Jokowi (kata kubu anti Jokowi), kalaupun Prabowo menang, tak ada makan siang gratis pula untuknya. Wake up man, negeri ini masih terjajah! Butuh sekelas Chavez, Morales, atau Khomeini untuk merevolusi negeri ini, yang sayangnya kita belum punya. Yang kita bisa lakukan saat ini cuma mengkritisi dan terus bicara; tapi bukan dengan teori konspirasi tanpa data yang jelas.

Saya menulis ini karena prihatin, melihat betapa negeri ini sangat mengandalkan rumor dan gosip sebagai bahan analisis untuk menjatuhkan lawan politik. Prihatin, melihat ada peneliti/akademisi yang menggadaikan kredibilitasnya hanya untuk kepentingan politik (dan mungkin uang). Yang harus dilakukan oleh para akademisi adalah membongkar paradigma publik (kalau pakai teorinya Habermas: melakukan emansipasi, penyadaran dalam tataran paradigma), bukan bermain di tataran gosip.

Dan, entah berapa kalinya saya menulis di blog ini, kalimat ini: mari mencerdaskan diri.🙂

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: