Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Jadi, Siapa Mafia Migas Sebenarnya?

Jadi, Siapa Mafia Migas Sebenarnya?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

mafiaSebelumnya, saya menulis artikel ini, mengkritik seorang pengamat yang ‘pagi-pagi’ sudah melayangkan tuduhan bahwa Rini Sumarno adalah mafia migas. Silahkan baca tulisan si pengamat itu di sini (dan menariknya, pernyataannya dikutip oleh media-media online terkemuka di Indonesia secara berbarengan).

Apa yang ditulis si pengamat tersebut, kelihatan sekali mengutip artikel Ratu Adil di Kompasiana. Apakah saya sedang membela Rini Sumarmo? Jelas tidak. Sangat mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang itu, bahwa Rini memang mafia migas. Who knows? Saya sih tidak tahu. Poin tulisan saya bukan di Rini-nya. Kali ini saya ingin menyambung tulisan saya sebelumnya karena ada perkembangan menarik. Baru-baru ini, Effendi Simbolon, yang pernah sekelas dengan saya di beberapa kelas perkuliahan S3, mengkritik keras menteri Jokowi.

Begini runtutan pikiran saya:

  1. TM2000 tahun 2012 ‘membongkar’ Petral dan keterlibatan Riza Chalid (selanjutnya, kita tahu, selama masa kampanye pilpres, TM2000 berbalik mendukung Prabowo-Hatta Radjasa, padahal jelas Riza adalah teman dekat Hatta. ) Saya pernah mengutip kicauan TM2000 di tulisan Pak Wid dan Subsidi BBM.
  2.  Ratu Adil, pendukung Prabowo semasa kampanye, menulis artikel panjang yang membela Riza dan Petral, dan melemparkan tuduhan bahwa mafia migas adalah Rini Sumarno, Ari Sumarno, dan Effendi Simbolon.
  3. Tiba-tiba, Effendi Simbolon, menggebrak Jokowi. Kesan saya terhadap pak Effendi di kelas, beliau memang antineolib, dan kalau mengkritisi kasus-kasus yang sedang diangkat oleh teman-teman dalam kelas seminar, pemikirannya memang asyik (antineolib, cocok-lah sama saya).

Pernyataannya berikut ini (saya copas dari Kompas), juga cocok dengan pemikirannya (yang saya tau itu):

“Siapa Sudirman Said? Siapa Rini Soemarno? Siapa itu Sofyan Djalil? Apa mereka ini yang membawa garis liberal ekonomi?” ujar Effendi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (4/11/2014).

Effendi menegaskan, sejatinya, arah politik ekonomi PDI Perjuangan adalah Trisakti. Mestinya, komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak, salah satunya BBM, dikuasai oleh pemerintahan, bukan malah dilepas ke mekanisme pasar.

“Wajar saja kalau harga BBM katanya naik. Yang pengambil kebijakan regulasinya bukan dari ideologi itu (Trisakti). Saya enggak tahu, siapa ya mereka itu,” lanjut Effendi.

Pria yang menjadi anggota Komisi VII DPR RI pada periode 2009-2014 tersebut mengatakan, mestinya, kenaikan harga BBM diikuti dengan sejumlah kebijakan, misalnya pembangunan kilang minyak, memperbaiki jalur distribusi minyak, meningkatkan produksi minyak, dan sebagainya.

“Ini menterinya belum ngapa-ngapain. Petral juga belum dibubarkan, malah main naikin harga BBM saja,” lanjut dia.

Tapi, bagaimana dengan ‘tuduhan’ tulisan Ratu Adil di atas (yang dikutip pula oleh ‘pengamat’, dan disebarkan di banyak media online), bahwa Effendi Simbolon justru bagian dari mafia migas? Ditambah pula dengan berita ini (2 Okt 2013, jadi jauh sebelum kampanye pilpres 2014). Dalam berita itu disebutkan:

Ratusan massa menggelar aksi di Gedung KPK dan Kantor PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (2/10/2013). Mereka melayangkan surat terbuka untuk Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri. Surat ini terkait nama kader PDIP Effendi Simbolon yang dituding sebagai mafia minyak dan gas (migas).

Demonstran yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Peduli Indonesia (Gempari) ini menyebut Effendi sebagai mafia migas karena Effendi menjadi fasilitator menangnya tender PT Parna Raya. Terkuaknya keterlibatan Effendi adalah seiring tertangkapnya mantan Kepala SKK MIGAS Rudi Rubiandini dalam kasus suap yang melibatkan Dirut PT. Surya Parna Niaga, Artha Meris Simbolon yang dikenal sebagai orang dekat Effendi Simbolon.

Lihatlah, betapa simpang-siurnya. Jadi, siapa yang mafia migas sebenarnya? Bahwa mafia migas (dan berbagai jenis mafia lainnya) memang ada, itu sudah jelas dan pasti. Tapi siapa orangnya? Itulah yang simpang siur.

Saya jadi teringat diskusi saya dengan seseorang yang saya yakini tahu urusan ‘dalam’ politik dalam negeri. Waktu itu (tahun 2012) yang jadi topik adalah TrioMacan2000 yang membongkar masalah Petral (saya bahkan tahu apa itu Petral berkat TM2000 ini). Yang jadi bulan-bulanan saat itu adalah Riza Chalid, yang konon kaya raya berkat jadi makelar BBM via Petral. (Di tahun 2014, Riza dan Petral dibela oleh Ratu Adil -demi membela kubu Prabowo- dengan cara menuduh orang lain lagi yang mafia.)

Teman saya ini waktu itu (tahun 2012) mengatakan, yang di belakang TM2000 kemungkinan besar adalah sesama mafia migas juga, hanya tidak kebagian proyek. Jadi ini bukan pertarungan antara mafia dengan kubu anti mafia, tapi antara sesama mafia yang ingin saling menjegal. Teorinya, saya pikir cocok untuk menganalisis kesimpangsiuran berita soal mafia migas akhir-akhir ini.

Lalu, bagaimana dengan rakyat? Sejauh ini, berkat ‘kehebatan’ para pengamat, baik yang pakai nama asli, maupun akun gadungan ala TrioMacan atau Ratu Adil, yang terjadi hanya keributan dan perdebatan tak kunjung usai. Mereka pun, terindikasi memberikan pengamatan sesuai ‘arah angin politik’. Rakyat (terutama kelas menengah) hanya jadi korban, emosinya diaduk-aduk, menghabiskan energi berjam-jam untuk berdebat di jejaring sosial. Sementara rakyat menengah ribut, para elit tetap leluasa mengeruk kekayaan alam kita.

Siapa yang peduli pada nasib 50% rakyat Indonesia yang harus hidup dengan kurang dari Rp20.000 sehari (data Bank Dunia), sementara segelintir lainnya bergelimang uang minyak; sementara “pengamat-pengamat” dibayar untuk menjegal satu tokoh, demi mengunggulkan tokoh lain (padahal, keduanya terindikasi sama-sama mafia).

Kalau saya, lebih memilih mengajak kita semua untuk belajar lebih dalam tentang apa itu neoliberalisme, belajar mengindentifikasinya. Karena, sebuah ideologi tidak akan mampu bisa sedemikian berkuasa seperti ideologi neolib ini kalau tidak melakukan penetrasi budaya dan pemikiran secara masif di masyarakat. Hati-hati, jangan-jangan otak kita sedang teracuni neolib tanpa sadar, sementara mulut aktif bicara antineolib. Kita sibuk memperdebatkan “sesuatu”, tapi di saat yang sama tetap dengan senang hati berkubang di dalam lumpur yang menghasilkan “sesuatu” itu, dan bahkan berpartisipasi melanggengkan lumpur itu.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: