Kerumunan orang-orang berseru riang. Semua orang senang. Saya tahu, jika saya melakukan intervensi, saya akan dibawa pergi, dan eksekusi tetap berlanjut. Saya tahu, saya tidak akan mampu melakukan perubahan atas apa yang sedang terjadi, dan saya bisa saja membahayakan diri sendiri.

Saya melihat adegan kekejaman: manusia diperlakukan dengan cara yang tidak seharusnya pernah diperlakukan terhadap manusia. Tapi tampaknya bagi saya bahwa dalam dua setengah tahun ini perang telah mendegradasi kemanusiaan orang-orang itu. Pada hari ini orang-orang yang hadir dalam acara eksekusi tidak punya kendali atas perasaan mereka, keinginan mereka, kemarahan mereka. Tidak mungkin untuk menghentikan mereka.

Saya tidak tahu berapa usia korban, tetapi dia masih muda. Dia dipaksa untuk berlutut. Para pemberontak mengelilinginya dan membacakan catatan kejahatannya. Mereka berdiri di sekitarnya. Anak muda itu berlutut di tanah, tangannya terikat. Dia terlihat membeku [ketakutan].

Dua pemberontak membisikkan sesuatu ke telinga anak muda itu, dan dia menjawab dengan nada sedih tanpa dosa, tetapi saya tidak memahaminya karena saya tidak bisa berbahasa Arab.

Saat eksekusi dimulai, pemberontak memegang keras leher anak muda itu. Dia berusaha memberontak. Tiga atau empat pemberontak lainnya menjepitnya. Dia berusaha melindungi lehernya dengan tangannya yang terikat. Tetapi para pemberontak itu lebih kuat dan mereka memenggal lehernya. Mereka mengangkat penggalan kepala itu ke udara. Orang-orang melambai-lambaikan senapan dan berteriak girang. Semua orang senang karena eksekusi selesai.

Kejadian di Syria, saat itu, bagaikan adegan dari Abad Pertengahan, sesuatu yang Anda baca di buku-buku sejarah. Perang di Syria telah mencapai titik ketika seorang manusia dibunuh tanpa ampun di hadapan ratusan manusia lain yang menikmati pemandangan itu.

Sebagai manusia, saya tak pernah berharap melihat apa yang saya lihat ini. Tetapi sebagai jurnalis, saya memiliki kamera dan tanggung jawab. Saya punya tanggung jawab untuk membagikan apa yang saya lihat hari itu. Itulah sebabnya saya membuat pernyataan ini dan itulah sebabnya saya memotretnya. Saya akan menutup bab ini dan mencoba untuk tak pernah mengingatnya kembali.

 

In memoriam, Kenji Goto, yang menjalankan tanggung jawab nuraninya sebagai jurnalis, mengabarkan kepada dunia penderitaan anak-anak korban perang dan kebencian, namun akhirnya harus tewas akibat ideologi kebencian. Dia tewas karena ingin menciptakan dunia tanpa perang, melalui dokumentasinya.

“Pejamkan matamu dan tetap bersabar. Kesabaran itu akan berakhir jika kau marah atau berteriak. Ini seperti berdoa. Membenci bukanlah peran manusia; Menghakimi adalah tugas Tuhan.’ Saudara saya dari Arab yang mengajari saya kalimat ini.” (tweet Kenji Goto 7/9/2010)

 

 

Update:

1.Supaya penilaian atas kasus ini tidak lepas dari konteksnya, teori “ISIS adalah buatan AS dkk” menurut saya sangat valid  (silahkan baca tulisan saya ttg Suriah sejak 2011, saya sudah berkali-kali menuliskan argumen dan datanya); dalam tulisan ini yang saya persoalkan adalah “mengapa sebagian umat Islam mau saja diperalat?” (siapapun yang membacking ISIS, pelaku/aktor/jihadis-nya tetap muslim, bahkan sebagiannya dari Indonesia)

2. Ada yang menyebut bahwa video pembakaran pilot Jordan adalah palsu. Mungkin. Tapi perhatikan poin ini: situs-situs pro-mujahidin menyebarkan berita ttg video itu dilengkapi dengan dalil dan fatwa tentang “boleh menghukum musuh Islam dengan cara membakar”, di antaranya al-mustaqbaldaulahislamiyah. dan panjimas