Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Rohingya dan Kita

Rohingya dan Kita

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
warga Rohingya di Kamp Birem-Bayeun, Aceh (foto: JPNN)

warga Rohingya di Kamp Birem-Bayeun, Aceh (foto: JPNN)

Berikut ini copas status facebook saya, plus tambahan komentar yang saya tulis atas komentar orang (dg pengeditan). Dicopas di sini sebagai arsip.

ROHINGYA Sore tadi saya beruntung -dalam perjalanan pulang dari kampus- semobil dengan dua pakar HI *yang berkali-kali masuk tivi*. Saya sempat bertanya soal Rohingya.

Pakar pertama jawab: “Oh, itu masalah humanity, tentu harus dibantu. Soal dana bukan masalah, banyak, kita bisa klaim dari UNHCR.” Pakar kedua menjawab, “Betul, dana berlimpah. Bahkan Australia juga siap bantu. Tapi, yang harus dipikirkan dampak sosialnya. Mereka akan menetap di sini, sulit dipulangkan. Makanya Australia lebih suka kasih uang daripada mereka sendiri yang mengurus langsung para pengungsi (secara umum, tidak hanya Rohingya).”

Saya pernah merasakan secara langsung seperti apa “dampak sosial” yang dimaksud oleh pakar HI di atas, waktu saya berada di Iran yang menampung sekitar 4 juta pengungsi dari Afghanistan korban Taliban dan Amerika. Saya merasakan (sedikit) bagaimana rasanya jadi pengungsi Afghan karena saya sering disangka orang Afghan (konon wajah saya mirip Afghani *hiks*) dan mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan.
Saya tidak akan ceritakan detil isi percakapan kami selanjutnya. Yang membuat saya merenung lama: jika yang akan jadi masalah adalah ‘dampak sosial’, maka yang dibutuhkan adalah welas asih. Tapi, seberapa panjangkah “nafas” orang Indonesia untuk mampu berwelas asih dalam jangka panjang kepada para pengungsi itu? Semua kita tahu bahwa bangsa kita ini cepat panas, cepat dingin dan lupa. Kalau ada muatan politik dan agama, baru heboh. Setelah itu sepi.
Agaknya, inilah yang harus digaungkan oleh para pengusung “Save Rohingya”. Jangan melulu terpaku soal urusan bantuan materil. tapi mulailah mengedepankan wacana ‘bantuan’ berupa welas asih jangka panjang. Welas asih itu sesuatu inheren, yang harus ditumbuhkan dalam diri. Anda tidak disebut welas asih ketika masih berpikir “siapa” yang dibantu (kalau segolongan dibantu; kalau tidak, cuekin saja, kalau perlu difitnah-fitnah sebagai justifikasi untuk tidak membantu). Perjuangan untuk bisa memberikan keadilan kepada Rohingya masih sangat panjang. Jangan berharap sebulan-dua bulan urusan ini akan selesai. Prediksinya adalah: bertahun-tahun ke depan, orang Rohingya akan tetap berada di sini. (Saya akan usahakan menulis artikel ilmiahnya).
Jadi, setidaknya, mulailah dari diri sendiri. Serukan bantuan dengan tulus. Jangan sambil menyindir, memaki, menyebarkan berita bohong, menyebarkan kebencian, dan mempolitisasi isu demi kepentingan golongan. Selama pola pikir kebencian masih terus bercokol, nafas kita tidak akan panjang dalam membantu mereka. Dalam waktu singkat kita akan tersengal-sengal, lalu diam dan pura-pura lupa.

Komen: “Kami warga Aceh siap menampung, tinggal pemerintah, siapkah?” Jawaban saya: Sebelumnya, tlg jangan disalahpahami komentar saya berikut ini ya, bukan saya tidak simpati/empati. Ini semata2 diskusi rasional saja, mohon ditanggapi dengan kepala dingin. Pertama, ‘warga Aceh” yang manakah? Berita dua hari yll, Gubernur Aceh sudah meminta agar pengungsi segera dipulangkan. http://nasional.kompas.com/…/Pemerintah.Aceh.Berharap…

Kedua, perlu diketahui juga, 50% pengungsi yang baru datang ke Aceh itu orang Bangladesh, mereka naik kapal untuk mencari pekerjaan di Malaysia tapi ditipu oleh makelar dan dibiarkan terkatung-katung di laut. Nah, diantara orang Bangladesh dan Rohingya ternyata sudah saling bunuh (baca link ini: http://www.jawapos.com/baca/artikel/17773/dendam-di-selat-malaka-yang-dibawa-ke-kuala-langsa)

Jika sudah didata oleh UNHCR, mereka semua akan mendapat tempat tinggal gratis dan uang gaji bulanan yang lumayan. Apakah semua orang Indonesia siap menghadapi sikon seperti ini (tanpa rasa iri?). Ini salah satu respon warga Medan melihat “perilaku” pengungsi: http://www.koran-sindo.com/…/warga-keluhkan-sikap…

Itulah kenapa saya bilang, perlu nafas panjang dan welas asih untuk mengurus ini semua. Tentu dalam kasus ini, yang paling akan merasakan dampak sosial adalah warga Aceh karena bersentuhan langsung dengan para pengungsi. Sementara SEBAGIAN netizen cuma bisa menyebarkan kebencian utk memblow up kasus ini. Rasa benci nggak akan bisa ngasih energi utk menolong, sebaliknya, malah menyedot energi kita.

Di tataran internasional, yg harus dilakukan adalah: PBB harus memaksa semua pihak utk benar-benar ikut mengurusin kasus ini; dana UNHCR juga harus segera dicairkan, dst. Tapi, itu kan proses masih lama. Skrg, saya sdg bicara ke sesama facebooker saja, yg paling urgen dilakukan adalah membantu dg tulus, bukan menyebar kebencian, tanpa tahu apa dilema dan kesulitan yg riil di lapangan.

Komen: kalau mereka kita tampung yg jumlahnya bukan sedikit itu, apa mereka akan menetap? Turun temurun ? Jadi warga negara Indonesia?

Jawaban saya: kalau melihat prosedur UNHCR, alternatifnya 3: ditempatkan di negara ketiga (misalnya, ada negara lain di luar Indonesia yg mau menerima mrk sbg warga negara, ya dikirim ke sana), dipulangkan ke negara asal ketika konflik usai, dan berintegrasi dg masyarakat lokal. Tp pemerintah Indonesia tidak menerima opsi ke-3 ini; sehingga mrk selalu ditempatkan di rumah2 khusus (tidak boleh ngontrak rumah sendiri, misalnya). Sepertinya opsi kedua yg akan terjadi: menunggu konflik usai, lalu mereka dipulangkan ke negara asal.

Baca tulisan saya sebelumnya: Too Much Hate Will Kill You

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: