Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » NOPE, NOPE, NOPE

NOPE, NOPE, NOPE

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Saat ditanya wartawan soal komitmennya membantu pengungsi Rohingya, PM Australia, Tony Abbot menjawab enteng, “Nope, nope, nope.” (tidak, tidak, tidak)

Abbot memang ahli dalam urusan melempar tanggung jawab soal pengungsi kepada Indonesia. Beberapa waktu lalu, dia membeli lifeboat berwarna oranye dari Singapura. Lalu, ketika ada kapal berisi pencari suaka yang masuk ke perairan Australia, aparat menangkap penumpangnya, lalu memaksa mereka masuk ke lifeboat itu dan digiring masuk ke perairan Indonesia. Setelah terdampar di Indonesia, otomatis tanggung jawabnya jatuh ke tangan Indonesia. Padahal Indonesia tidak menandatangani Konvensi PBB tentang pengungsi; Australia menandatanganinya. Tapi Indonesia sudah menjalankan kewajiban kemanusiaannya dengan menampung lebih dari 11 ribu pengungsi dari 41 negara; termasuk yang ‘dibuang’ oleh Australia. Padahal Indonesia bukan tujuan para pengungsi. Semua juga tahu, sulit cari kerja dengan penghasilan tinggi di Indonesia. Mereka ingin ke Malaysia dan Australia; tapi terdampar di sini

Indonesia sudah berbuat sangat banyak dan melampaui kewajibannya (istilahnya: sudah ‘extramile’) untuk Rohingya selama ini (jadi mengevaluasinya tidak bisa sebatas sebulan terakhir saja, dengan dilandasi kebencian pada pemerintah saat ini). Jumlah pengungsi Rohingya dan Bangladesh (mereka sering disangka sama karena berasal dari kapal yang sama) di Indonesia 1346 orang.

Tahun 2012, JK datang langsung ke Myanmar membawa bantuan; Menlu Marty juga ke Myanmar tahun 2014 menyampaikan komitmen bantuan 1 Juta Dollar dan bertemu langsung dengan warga etnis Rohingya *sayangnya tidak sambil nangis* dan pada Desember 2014, Wamenlu AM Fachir meresmikan 4 sekolah bantuan Indonesia di 3 desa di Rakhine (daerah konflik) dengan menggunakan dana 1 juta dollar itu. Civil society pun tak kalah sigap, misalnya MER-C yang sudah dua kali mengirim misi bantuan medis ke Rakhine.

Jadi, bantulah Rohingya dengan ‘pride’ atau kebanggaan sebagai bangsa. Kita ini bahkan jauh lebih beradab dari Australia. Juga ingatlah, masih ada 90.000 pengungsi domestik (mereka yang terusir dari kampung halaman karena berbagai konflik SARA) yang jauh lebih penting dibantu agar bisa kembali ke kampung halaman. Jangan selalu sibuk mengurus tetangga sementara saudara sendiri diabaikan.

Jangan kayak oknum di foto (kanan), yang menggunakan foto kapal perang milik Indonesia (KRI Sultan Iskandar Muda 367) untuk mengelu-elukan pemerintah negara asing: “Amanat Presiden Turki Erdogan kepada Pemerintah Indonesia dan Malaysia: …Jangan halang armada kapal perang kami memasuki perairan Indonesia dan Malaysia…” Memalukan.

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: