Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah » Membayangkan, Melihat, Merasakan

Membayangkan, Melihat, Merasakan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

aylanBerkunjung kembali ke Iran di tengah musim panas yang jauh lebih panas dari biasanya (musim panas yang sama bahkan membuat banyak orang mati di India), memberi pengalaman baru buat saya: MERASAKAN. Di tengah terik suhu di atas 45 derajat (bahkan di salah satu kota yang saya datangi ada yang bersuhu 53 derajat), saya menyusuri jalanan, atau naik taksi (dan supir taksi Iran yang kebanyakan memang menyebalkan, menolak menghidupkan AC demi menghemat bahan bakar, sehingga taksi bak oven berjalan).

Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Holy Defence Museum (Museum Perang 8 Tahun Iran-Irak) di Tehran, yang dirancang agar pengunjung bisa MERASAKAN seperti apa situasi perang. Antara lain, pengunjung dibawa masuk ke bunker yang bersuhu sangat panas, dan bunker yang bersuhu sangat dingin. Lalu ada ruangan dimana pengunjung serasa dibombardir dari udara, disertai teriakan-teriakan korban bom dan raungan sirine ambulans yang memekakkan. Sulit untuk tidak meneteskan air mata.

Mengapa Iran diperangi? Bagi AS, Inggris, Perancis, Jerman, dan Soviet yang mendukung agresi Irak, tentu demi minyak dan gas. Sementara bagi Irak dan negara-negara Arab lain (kecuali Libya dan Suriah) yang saling bersekutu dalam agresi itu, akarnya adalah kebencian.

Di buku saya tentang Palestina dan Suriah, saya ceritakan bahwa orang-orang Palestina dan Suriah yang semula hidup nyaman di rumah-rumah mereka akhirnya harus tinggal di tenda pengungsian, di lapangan terbuka. Saat menuliskannya, saya hanya bisa membayangkan betapa panasnya dan betapa dinginnya hidup di tenda-tenda itu. Kini, saya bisa MERASAKAN, meski hanya sekejap.

Mengapa orang Palestina diusir dan dipaksa tinggal di tenda-tenda oleh orang Yahudi yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia? Mengapa mereka tidak hidup bertetangga saja, baik-baik? Tak lain, akarnya adalah kebencian dan ilusi mengenai terbentuknya negara yang “murni Yahudi”. Mengapa rakyat Suriah diserang habis-habisan oleh pasukan jihad yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia? Lagi-lagi, kebencian dan ilusi mendirikan negara yang “murni Islam” sesuai versi mereka.

Konflik Suriah sudah berlangsung 4 tahun, dan dunia tetap diam. Suara-suara protes terdengar begitu minor, di tengah propaganda dahsyat yang menjustifikasi aksi-aksi jihad (yang anehnya justru didukung AS, Inggris, Perancis, dan Israel). Seolah tak ada yang mau membayangkan (apalagi MERASAKAN) seperti apa ketika kau hidup nyaman di rumahmu, lalu tiba-tiba datang pasukan asing yang mengaku membawa bendera Tuhan meledakkan rumahmu, dan kau harus menempuh perjalanan panjang menembus sahara, lalu tinggal di tenda di tengah suhu panas yang membakar jantung.

Ketika semua sibuk berbicara soal bantuan untuk pengungsi, memuji-muji Eropa yang mau menampung pengungsi (padahal tangan pemimpin Eropa pula yang berlumuran darah Suriah) dan menyalah-nyalahkan Arab dan Turki (yang para pemimpinnya juga berlumuran darah Suriah), berhentilah sejenak, untuk mengingat akar semua ini. Mengapa mereka harus mengungsi? Siapa yang mendanai pasukan jihad? Siapa yang berceramah dari masjid ke masjid, atau menulis di status-status medsos dan media online, menyebar kebencian untuk merekrut dana perang dan pasukan jihad? Dan mengapa mereka melakukannya? Siapa yang sejak 4 tahun lalu dengan berbusa-busa bicara soal kekhalifahan Islam yang dibayar dengan pembunuhan dan peledakan bom? Siapa yang diuntungkan oleh kehancuran Suriah? Siapa yang mengeruk uang terbanyak dari konflik ini? Dst.

Aylan, bocah Suriah yang mati di pantai Turki, mungkin dikirim Tuhan agar mata umat manusia bisa MELIHAT, ketika hati telah terlalu tumpul untuk MEMBAYANGKAN. Melihat, lalu membayangkan, seperti apa nestapa jutaan bocah Suriah lainnya yang kini jadi pengungsi akibat kebencian atas nama Tuhan. Semoga cukuplah kita membayangkan dan melihat, jangan sampai kita terpaksa MERASAKAN nestapa yang sama.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: