Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Apakah Syiah = Takfiri (2)

Apakah Syiah = Takfiri (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

nototakfiriTulisan ini sekuel dari tulisan saya sebelumnya Apakah Sunni = Takfiri?

Baca dulu bagian pertama ya.

Berikut ini kutipan diskusi saya dengan Dr. Muhsin Labib

Dina Y. Sulaeman (DYS): Apakah faham takfiri sebenarnya ada dalam Syiah?

Dr. Muhsin Labib (DML):   Begini, kita mulai dulu dari ajaran Wahabisme. Di Wahabi, doktrin dasarnya adalah purifikasi atau upaya pemurnian Islam dari hal-hal yang dipandang syirik dan bid’ah (misalnya, menolak ziarah kubur, tawasulan, atau pesta ulang tahun). Doktrin seperti ini meniscayakan munculnya paham takfirisme, “semua Muslim yang terkontaminasi syirik dan bid’ah adalah kafir”. Tentu, ada juga orang Wahabi yang tidak seekstrim ini. Ada orang yang dengan alasan kehati-hatian, menolak segala bentuk perilaku yang disebut syirik dan bid’ah oleh ulama Wahabi, tapi mereka tidak mengkafir-kafirkan orang lain. Biasanya ini Wahabi yang ikut-ikutan saja. Wahabisme ini berbeda dari Sunni. Sunni tidak mengenal doktrin takfirisme , karena itu kita lihat orang-orang NU melakukan tahlilan, ziarah kubur, dan cenderung lebih terbuka pada perbedaan.

Sekarang, apakah Syiah mengenal doktrin takfirisme ini? Tidak. Tapi, ada juga orang-orang Syiah yang berlebih-lebihan (istilahnya ghuluw, atau ekstrim) dalam mencintai Ahlul Bait, terutama Ali, sehingga mereka melaknat para Sahabat yang menurut catatan sejarah mengambil sikap oposisi terhadap Ali. Jadi ghuluw atau ekstrimitas itu bukan doktrin Syiah, tapi perilaku sebagian penganut Syiah.

Jadi, Wahabi adalah bentuk ekstrimitas dalam membenci, sementara ekstrimitas dalam Syiah adalah ekstrim dalam mencintai. Kita bisa lihat ekstrimitas itu ada dalam semua ajaran, baik Islam maupun non-Islam. Dan apapun yang ekstrim, tentu salah. Sikap yang harus diambil semua pihak, baik Sunni, Syiah, atau agama apapun, adalah moderat.

DYS: apa makna moderat yang Bapak maksudkan?

DML: Moderat itu tidak melepaskan rasio (akal) dalam menerima sebuah ajaran. Semua orang harus kritis dalam menerima ajaran, tidak taklid buta. Khusus dalam Syiah, yang dipandang boleh menafsirkan teks-teks agama adalah orang-orang yang memiliki ilmu untuk itu, ada prosedur, ada hirarki, ada asas kompetensi. Jadi tidak semua orang boleh membuat fatwa seenaknya. Tapi, kaum Syiah pun didorong untuk tetap kritis. Saya istilahkan, “taklid yang matanya tetap berbinar”. Ya kita taklid pada ulama, tapi kita juga kritis, ini beneran ulama, atau tidak? Kita selalu pakai akal. Jadi, kalau ada orang yang mengaku ulama, lalu mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan akal sehat, kaum Syiah seharusnya langsung waspada. Ulama yang fatwanya bertentangan dengan akal sehat pasti bukan ulama.

DYS: Mengapa ada ulama yang suka melaknat-laknat Sahabat, tapi ada juga ulama yang melarangnya. Siapa yang memiliki otoritas dan seharusnya diikuti orang Syiah?

DML: Seperti saya bilang tadi, kita pakai akal sehat. Mencerca, mencaci, melaknat tokoh yang dihormati oleh saudara kita, itu sikap-sikap yang bertentangan dengan akal sehat. Semua orang tahu kalau seorang tokoh, katakanlah si Fulan, sangat dihormati di sebuah komunitas, lalu kita ujug-ujug mencaci-makinya, itu namanya mengajak bertengkar dan memecah belah. Itu bukan akhlakul karimah.

Nah dalam Syiah, ada yang disebut Marja’, yaitu ulama yang tingkat keilmuannya sudah mencapai derajat mujtahid (boleh mengeluarkan fatwa). Ulama yang berstatus Marja’ ini ada banyak. Tapi lagi-lagi, umat musti melihat, fatwanya masuk akal atau tidak? Sesuai dengan akhlakul karimah atau tidak? Kalau tidak, akal sehat kita akan segera bisa memutuskan, orang itu pastilah bukan ulama.

Ada pula yang disebut Wali Amr Muslimin, atau Wali Faqih, yaitu ulama tertinggi yang diserahi urusan politik umat. Dia tidak sebatas membuat fatwa, tapi hukum. Misalnya, untuk kasus mencaci-maki dan melaknat Sahabat yang dimuliakan dalam mazhab Sunni. Secara akal sehat saja, itu perilaku yang salah karena mencederai persatuan Muslim, jadi ndak perlu fatwa. Fatwa itu kan fungsinya menjelaskan kondisi-kondisi yang masih belum jelas, tidak bisa diidentifikasi akal secara langsung. Misalnya: bolehkah melakukan kloning pada manusia? Tapi, kalau “Apakah kita harus hemat listrik?” itu tidak perlu fatwa, akal sehat kita sudah bisa menjawabnya.

Tapi, berdasarkan situasi dan kondisi saat ini, Wali Amr pun mengeluarkan hukum yang statusnya mengikat semua Syiah, siapapun marja’nya, yang berbunyi: “Diharamkan menghina/mencerca simbol-simbol [yang diagungkan] saudara-saudara kita kaum Sunni, termasuk istri Nabi. “

Kalau ada marja’ yang mengeluarkan fatwa bertentangan dengan hukum yang dikeluarkan Wali Amr, artinya dia desersi atau memberontak.

DYS: Wali Amr ini dipilih oleh siapa?

DML: Oleh sesama ulama yang sudah berstatus mujtahid.

DYS: Dalam konstelasi Sunni-Syiah, sebenarnya keduanya berpotensi hidup rukun, atau memang ada perbedaan hakiki yang membuat keduanya berseteru sampai akhir zaman?

DML: Selama semua orang bersikap moderat, pasti bisa rukun. Moderat itu, sekali lagi, pakai akal sehat, tidak meliburkan logika. Kita harus menyadari bahwa apa yang kita pahami dari Islam berbeda dengan Islam itu sendiri. Allah dalam bayangan saya, beda dengan Allah dalam bayangan Anda. Mazhab pun adalah persepsi ulama terhadap ajaran Islam. Karena itulah kita mengenal ada banyak mazhab, artinya para ulama mazhab memiliki persepsinya masing-masing. Lalu, atas dasar apa kita merasa paling benar dan mengkafirkan yang lain?

DYS: yang selalu dikritik kaum Sunni terhadap Syiah adalah “mengapa Syiah membenci sahabat?”

DML: Syiah tidak membenci sahabat, tapi mengkritisi. Kritik atau ketidaksukaan beda dengan benci. Saya tidak suka bakso, saya lebih suka mie ayam, apa artinya saya benci bakso? Syiah memandang Abu Bakar, Umar, dan Usman bukanlah penerjemah atau penafsir ajaran Nabi. Syiah memilih percaya pada Ali sebagai penerus atau penafsir ajaran Nabi Muhammad. Tapi itu tidak sama dengan benci. Toh Syiah tetap menerima kekuasaan politik Abu Bakar, Umar, dan Usman. Ini terlihat dari baiat Ali kepada ketiganya. Dan Ali tidak pernah melakukan pemberontakan kepada ketiga Khalifah itu.

DYS: Lha itu, di medsos banyak orang Syiah yang melaknat-laknat Abu Bakar, Umar, dan Ummul Mukminin?

DML: Lho, apa perilaku segelintir orang menjadi tanggung jawab mayoritas? Apa kaum Sunni juga mau dinilai sebagai kaum barbar hanya gara-gara perilaku segelintir orang anggota ISIS? Dan sebagai otokritik, memang ada orang-orang Syiah yang baca bukunya baru sampai Bab 1 lalu sudah merasa paham ajaran Syiah dan mendakwahkannya kemana-mana. Karena ilmunya baru sampai Bab 1, ya kadang caranya provokatif, menyalahkan orang lain, bahkan ada yang mengkafirkan. Coba kalau mereka baca bukunya lanjut ke bab 2, tentang akhlak mulia Rasulullah dan para Imam, tentang kriteria Syiah sejati menurut para Imam, pasti perilakunya tidak demikian.

Imam Ali pernah mendefinisikan Syiah (pengikut)-nya sebagai berikut,”Syiahku, demi Allah, adalah orang-orang yang santun, yang mengetahui Allah dan agama-Nya, yang mengamalkan dan menaaati perintah-Nya, yang mendapat petunjuk dengan cintanya, yang paling tekun ibadahnya, yang paling tulus zuhudnya. Wajah mereka menguning karena tahajud…” dan seterusnya, masih panjang definisinya, sehingga sebenarnya sulit sekali menjadi Syiah yang sejati.

DYS: Apa saran Bapak terhadap perilaku sebagian Syiah di Indonesia yang anti-ukhuwah?

DML: Yang jelas, sikap-sikap ekstrim dan takfiri harus dihindari, oleh siapapun, agama dan mazhab apapun. Sama sekali tidak ada manfaatnya. Sikap moderat harus dipegang teguh semua pihak. Lebih jauh lagi, pemikir terkemuka di Indonesia antara lain Abubakar Atjeh, HM. Huseini, Mukti Ali, Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, M. Amin Rais, A. Syafi’I Ma’arif, Said Agil Siradj, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, M. Amin Abdullah, Munir Mulkhan, Haedar Nasir, Nasaruddin Umar, Yudi Latif, dan sebagainya dalam berbagai pertemuan ilmiah menempatkan Syiah sebagai sebuah khazanah Islam yang sangat kaya dan patut menjadi rujukan dalam mengembangkan pemikiran untuk masa depan peradaban manusia. Tradisi keilmuan Syiah yang tumbuh subur telah menghasilkan karya-karya penting semacam Tafsir Al-Mizan, konsep ekonomi Islam, sistem politik dan pemerintahan, hingga teknologi mutakhir. Tradisi ilmiah inilah yang seharusnya dikembangkan oleh kaum Syiah Indonesia, demi kemajuan bangsa ini.

DYS: Tentang nikah mut’ah, apa penjelasan bapak?

DML: Secara etimologis, semua nikah itu kan mut’ah (bersenang-senang). Lihat saja teks Al Quran, kata istamta’a digunakan (QS An-Nisa: 24). Bila mut’ah dipahami sebagai istilah pernikahan berjangka (temporary marriage), bukankah semua nikah ada jangka waktunya? Ada nikah yang selesai karena cerai, ada yang selesai karena pasangannya meninggal. Tapi dalam nikah mut’ah jangka waktu itu ditetapkan dari awal, yang menetapkannya pun si perempuan. Fiqihnya hampir sama dengan nikah permanen, harus ada izin wali bagi gadis, tidak boleh ada paksaan menikah, ada mahar, ada iddah pasca perceraian, anak punya hak waris, dll. Artinya, bukan nikah sembarangan dan identik dengan pelacuran seperti yang dituduhkan banyak pihak.

Bila ada penyimpangan dalam pelaksanaan nikah mut’ah, tentu yang salah adalah pelakunya yang melanggar aturan hukum; bukan hukumnya sendiri. Dalam nikah permanen pun banyak terjadi pelanggaran, misalnya KDRT atau penelantaran anak-istri oleh laki-laki. Apapun penyimpangan hukum, tentu salah dan dosa.

Satu hal yang menjadi catatan saya, dalam Islam, yang menikah itu perempuan. Hak menikah ada pada perempuan, laki-laki hanya sebatas ‘menerima’. Makanya laki-laki mengucapkan kalimat akadnya kan “Saya terima nikahnya…” Artinya, perempuan seharusnya berkuasa atas dirinya sendiri, harus menjaga dirinya sendiri, jangan mau dikadalin laki-laki. Perilaku buruk laki-laki pada perempuan bisa muncul dalam berbagai bentuk, mau pacaran, mut’ah, misyar, nikah biasa, dll.

DYS: Terakhir, kalau saya bilang, “Karena Bapak Syiah, pasti Bapak ini taqiyah, berbohong” apa jawaban Bapak?

DML: Itu artinya Anda sedang men-judgment saya. Anda tidak menjawab argumen saya, malah melakukan argumentum ad hominem, berdasarkan like dan dislike. Harusnya Anda lihat kata-kata saya, logis atau tidak? Dalam berdiskusi, kita harus bergeser dari “siapa” ke “apa”. Kita berurusan dengan premis, bukan dengan penyampai premis. Jadi, tak perlu Anda pedulikan, saya taqiyah atau tidak, tapi yang harus Anda pedulikan adalah apakah kata-kata saya logis atau tidak? Itulah cara berpikir yang benar. Kita itu harus mengukur sebuah ajaran dari konsepnya, bukan dari perilaku penganut ajaran itu. Kita tidak bisa menilai Sunni dari perilaku ISIS, tidak bisa pula menilai Syiah dari perilaku segelintir orang.

Kedua, Anda melakukan kesalahan definisi. Taqiyah tidak sama dengan bohong. Taqiyah itu menampilkan sesuatu yang tidak nyata, untuk menutupi yang nyata. Dalam Syiah, ada standarnya, yaitu: demi menjaga nyawa, kehormatan, dan harta. Misalnya, di Suriah, setiap Syiah akan dipenggal oleh ISIS. Saat itulah, Syiah dibenarkan mengaku bukan Syiah demi menyelamatkan nyawanya. Kenyataannya dia Syiah, tapi dia tutupi kenyataan itu.

Beda dengan bohong. Bohong itu menutupi sesuatu yang buruk. Misalnya, sebuah barang, kenyataannya sudah rusak. Si penjual berkata, “Ini barang bagus!” Nah, itu bohong.

Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua kita pernah bertaqiyah. Misalnya seorang bawahan akan tertawa mendengar joke tidak lucu bosnya. Tidak mungkin kan dia berkata pada bosnya, “Joke Anda tidak lucu!” Bisa dipecat dia. Nah itu bentuk taqiyah juga.

Tapi taqiyah dalam Syiah dimaknai menyembunyikan keyakinan demi menjaga nyawa, harta, dan kehormatan. Saya tidak taqiyah. Saya menyatakan diri sebagai Syiah, karena saya yakin di Indonesia ini tidak ada yang mengancam nyawa saya.

DYS:🙂 Baik, terimakasih atas penjelasan Bapak.

DML: Sama-sama

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: