Kajian Timur Tengah

Beranda » Yaman » Nestapa Yaman: Perbincangan dengan Perempuan Ansharullah

Nestapa Yaman: Perbincangan dengan Perempuan Ansharullah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dina Y. Sulaeman

anak-anak Yaman bermain di puing mobil yang dibom Saudi (foto: Washington Post)

anak-anak Yaman bermain di puing mobil yang dibom Saudi (foto: Washington Post)

Perempuan berjilbab hitam itu berpostur kecil dan berkulit sawo matang, seperti orang Indonesia kebanyakan. Matanya bundar dan cerah, memancarkan optimisme. Saya melihatnya di sebuah restoran hotel di Teheran. Dengan bahasa Arab ‘amiyah (yang tak terlalu saya pahami), dia sepertinya bercerita pada teman semejanya bahwa setiap orang Yaman memiliki senjata. Arab Saudi takkan bisa mengalahkan kami, katanya. Saya mendatangi mejanya, sambil berharap dia bisa bahasa Inggris. Ternyata bisa. Saya memperkenalkan diri sebagai penulis dari Indonesia. Benar dugaan saya, dia perempuan Yaman. Namanya Elham. Saya beruntung, mendapat narasumber primer: Elham adalah anggota Ansharullah. Dia bertugas di divisi perempuan, dengan fokus meningkatkan taraf pendidikan kaum perempuan. Elham berjuang dengan ilmu, bukan dengan senjata. Namun sejak usia 5 tahun dia sudah mahir mengokang bedil, diajari oleh ayahnya sendiri.

“Seperti apa situasi negaramu, sehari-hari?” tanya saya.

“Kamu tidak akan percaya ini. Kami menjalani hari dengan sangat normal. Kami tetap ke sekolah, ke pasar. Kami sama sekali tidak takut pada apapun,” jawab Elham.

“Arab Saudi membombardir Yaman secara masif, kan?”

“Ya, setiap kali ada pesawat muncul di udara, kami semua akan menengok ke atas. Sebagian bahkan segera naik ke loteng, untuk melihat, kawasan mana yang dijatuhi bom. Lalu merekamnya dengan handphone dan mengunggahnya di internet.”

“Kalian bangsa pemberani ya? Saya dengar tadi Anda bilang, semua rumah di Yaman menyimpan senjata? Mengapa?”

“Sejak dulu bangsa kami selalu dijajah bangsa asing. Dan sudah menjadi tradisi kami untuk melawan. Sejak kecil kami sudah diajari memegang senjata. Semua rumah pasti menyimpan senjata; ini adalah simbol kehormatan kami.”

“Banyak yang bilang, konflik di negaramu saat ini adalah Syiah melawan dominasi Sunni?” tanya saya.

“Tidak, tidak. Ini perjuangan semua bangsa Yaman, Sunni,  Syiah Zaidi, Syiah 12 Imam, dan Sufi, melawan Amerika dan Wahabi,” jawabnya tegas.

Serangan Arab Saudi

Dubes Saudi untuk AS, Adel bin Ahmed Al Jubeir, saat mengumumkan agresi Saudi (Maret, foto: Reuters)

Dubes Saudi untuk AS, Adel bin Ahmed Al Jubeir, saat mengumumkan agresi Saudi (25 Maret 2015, foto: Reuters)

Arab Saudi (dengan didukung pasukan koalisi) mulai membombardir Yaman pada 26 Maret 2015, dengan alasan membantu Presiden Yaman terguling, Mansour Hadi, untuk meraih kembali kekuasaannya. Hampir delapan bulan berlalu, para pejuang Yaman tak bisa ditundukkan. Namun rakyat sipil yang menjadi korban sangat banyak. Data dari WHO menyebut 5.564 orang tewas (lebih setengahnya adalah rakyat sipil), dan 26. 568 lainnya terluka (angka ini melebihi jumlah warga sipil yang tewas di Suriah dalam periode yang sama).[1]

Arab Saudi mengirim pesawat-pesawat tempur dan secara acak menjatuhkan bom di gedung sekolah, universitas, rumah sakit, berbagai fasilitas infrastruktur di Yaman, dan bahkan pesta perkawinan warga. Arab Saudi juga melakukan blokade laut sehingga bahan bantuan dari luar Yaman tidak bisa masuk. Akibatnya sekitar 12 juta warga Yaman (total populasi: 24 juta) kekurangan makanan, air, dan obat-obatan. [2] Masih belum cukup, Saudi juga melarang warga Yaman untuk menunaikan haji tahun ini. [3]

Human Right Watch mengecam Arab Saudi karena menggunakan bom cluster (jenis bom yang setelah diluncurkan dari pesawat tempur atau bomber, akan pecah menjadi ratusan bom kecil berupa kaleng) yang berakibat banyaknya korban rakyat sipil.[4] Analisis video yang dilakukan Jeff Smith (mantan inspektur IAEA) mendeteksi bahwa koalisi Arab Saudi juga menggunakan bom nuklir mini pada bulan Mei 2015.[5]

Pejabat PBB menyatakan keprihatinannya atas “sikap diam” dunia di hadapan nestapa rakyat Yaman.[6] Sikap diam komunitas internasional atas tragedi kemanusiaan di Yaman sangat mungkin disebabkan oleh pemberitaan media massa mainstream yang tidak berimbang. Khususnya Dunia Islam, sikap diam muncul karena aktor utama konflik ini, Arab Saudi, dipandang sebagai ‘kerajaan suci’ penjaga dua kota suci (Haramain).

Houthi Tidak Sama dengan Ansarullah

Demo perempuan Yaman, di Sana'a University, April 2011 (menuntut mundur Presiden Ali Abdullah Saleh)

Demo perempuan Yaman, di Sana’a University, April 2011 (menuntut mundur Presiden Ali Abdullah Saleh)

“Saya membayangkan, kalian bersembunyi di gua-gua di gunung pasir,” kata saya. Memang itulah kesan yang saya dapat saat membaca media.

“Kamu tahu, Sayyid Badroddin mendapatkan beasiswa S3 di Sorbonne University. Kemudian, pecah perang Iran-Irak. Dia tinggalkan studinya dan datang ke Iran untuk ikut perang membela Iran. Tapi Imam Khomeini melarangnya angkat senjata, Imam menyuruhnya mempelajari perjuangan Iran. Dia kemudian kembali ke Yaman, mendirikan Syabab Mu’min. Anggota gerakan ini terdiri dari berbagai profesi, mulai guru, dokter, insinyur, dll,” jawab Elham.

“Jadi, ini gerakan berbasis intelektual ya, bukan kebangkitan suku tertentu?”

“Betul sekali.”

Mudah bagi saya untuk percaya pada kata-kata Elham itu karena dia sendiri terlihat sangat cerdas. Suaminya, yang juga ada di restoran itu, terlihat tampan, mengenakan kemeja dan jas rapi, tak beda dengan eksekutif muda yang bekerja di bank internasional.

“Di media selalu disebut, gerakan Houthi adalah gerakan Ansarullah,” kejar saya.

“Bukan demikian, Ansarullah adalah gerakan bersenjata dari seluruh bangsa Yaman, dari berbagai latar belakang, untuk melawan rezim yang bekerja sama dengan AS, Israel, dan Wahabi. Di antara anggotanya memang dari etnis Houthi, dan pemimpinnya pun saat ini Sayyid Abdul Malik, dari etnis Houthi,” jelas Elham.

[bersambung ke bagian 2]

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: