Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Pejuang Kemanusiaan

Pejuang Kemanusiaan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

archipelagoSejak konflik Libya 2011, saya menemukan bahwa di dunia ini ada yang disebut ‘jurnalis independen’. Mereka tidak terikat pada media mainstream. Jangan harap berita dan artikel yang mereka tulis bisa kita baca di situs-situs terkenal macam CNN atau Aljazeera. Tapi yang mereka lakukan sangat berarti untuk dunia, meskipun mungkin baru dirasakan ‘nanti’ atau ‘kelak’.

Misalnya saja, saat saya menulis tentang Libya tahun 2011, sebenarnya saya sejak awal sudah mendeteksi bahwa serangan masif media internasional mendiskreditkan Moamar Qaddafi sangat terkait dengan proyek minyak Imperium. Tapi bagaimana saya bisa menuliskannya kalau data-data dari lapangan sangat minim? Yang tersedia umumnya berita senada, disuguhkan oleh media mainstream dan diberitakan ulang oleh media-media lokal (yang ironisnya, tiba-tiba saja untuk kasus Libya, media-media “kafir” bisa senada dengan media-media “Islam”).

Jadi, waktu itu saya stay tune di globalresearch.ca. Dari situs itu saya tahu ada beberapa jurnalis pemberani mempertaruhkan nyawa untuk memberitakan kejadian yang sebenarnya di Libya, antara lain Mehdi Darius Nazemroaya dan Thierry Mayssan. Dari merekalah ‘dunia’ (yang mau membaca media anti-mainstream, tentu saja) tahu bahwa ada demo sangat besar di Tripoli MENDUKUNG Qaddafi; bahwa NATO tidak sedang melakukan humanitarian intervention, tetapi membombardir Libya habis-habisan.

Berita yang mereka bawa jelas menghantam narasi media Barat + media “Islam” bahwa Qaddafi adalah rezim “thoghut” yang dibenci rakyatnya, sampai-sampai rakyatnya meminta bantuan NATO. Lalu NATO turun tangan ‘membantu’ dengan cara menghancur-leburkan infrastruktruktur Libya. Lalu, tentu saja untuk membangun kembali, pemerintah baru Libya berhutang ke Barat dan proyek-proyek rekonstruksi diserahkan kepada perusahaan Barat. Ini cerita lama, terulang terus, tapi opini publik mudah sekali tertipu berkali-kali.

Mehdi dan Thierry sempat hampir mati dibunuh para sniper saat mereka berada di Libya. Nasib lebih tragis dialami oleh jurnalis perempuan cantik, Sherena Shim. Di saat kaum “Islamis” mengelu-elukan Erdogan dan Turki, dia justru mengungkap support Turki dan Barat kepada ISIS. Dia mati dalam kecelakaan misterius, di perbatasan Turki-Suriah, tak lama setelah itu (Okt 2014). Tanggal 27 Desember kemarin, Naji Jerf, jurnalis Suriah pembuat film dokumenter anti-ISIS, tewas akibat tembakan di kepalanya, juga di Turki.

Jurnalis anti-mainstream lain yang saya hormati adalah Andre Vltchek. Dia keliling dunia dan memberitakan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Imperium. Andre istimewa karena banyak menulis tentang Indonesia. Pertama kali saya terpana membaca tulisannya yang berjudul Jakarta Kota Fasis. Lalu, saya membaca bukunya yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Beberapa waktu yang lalu, saya dan putri saya Kirana, berkesempatan bertemu dengannya. Kami berbincang-bincang cukup lama, hampir dua jam. Dan saya mendapat jawaban dari beberapa pertanyaan yang mengganggu saya selama ini. Lalu saya membaca ulang buku Andre. Rupanya diskusi langsung dengan Andre memberi saya ‘mata’ yang berbeda saat kembali membaca buku itu. Menurut saya, buku ini penting sekali dibaca orang Indonesia. Mungkin nanti saya akan tuliskan panjang lebar di blog, tapi sekarang saya cuma ingin cerita bahwa Kirana melakukan wawancara singkat dengan Andre dan sudah ditulis di blognya. Ada yang menohok dalam jawaban Andre: “sulit buatmu untuk bisa jadi pejuang kemanusiaan, karena lingkunganmu pasti akan mencegahmu; di Indonesia orang-orang masih egois…”

Waduh… saya jadi bertanya dalam hati, benarkah saya ingin anak saya jadi pejuang kemanusiaan? Relakah saya kalau kelak dia tewas terbunuh saat menyuarakan kebenaran seperti Sherena Shim? Ah, jangan jauh-jauh punya impian idealis, bila sekarang saja, saya sudah berkeberatan dengan impiannya sekolah di luar negeri dan mendoktrinnya, “Masuk HI Unpad aja, biar kakak ga jauh dari mama!”

Interview Kirana dengan Andre, bisa dibaca di kiranams.wordpress.com

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: