Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Kebodohan

Kebodohan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

abuharahap1KEBODOHAN

Tahun baru 2016 di timeline saya berseliweran status atau link yang membahas berita fitnah terbaru produksi kaum ‘you know who’. Beritanya tentang ‘Abu Nuaim, Penyair Irak yang Digantung pemerintah Irak yang berada di bahwa kendali Iran”. Tentu saja hoax, itu foto orang Iran pembunuh 5 perempuan yang dijatuhi hukuman gantung tahun 2011.

Yang terbanyak dikritik adalah situs portalpiyungandotcom (nama baru dari pkspiyungan) dan nugarislurusdotcom (pakai nama NU, tapi tentu saja mereka bukan NU ‘asli’) sebagai web yang menyebarkan berita tersebut (dan telah di-share ribuan kali). Tapi, ada yang ‘lupa’dikritisi, yaitu akun-akun pribadi yang gaungnya sangat besar. Misalnya, akun Abu Harahap yang saya screenshot ini (dia dipanggil ‘ustadz’ oleh friend-nya), sejak posting tanggal 31 Desember, statusnya sudah dishare 15.201 kali.

Yang ingin saya bicarakan, soal kebodohan orang Indonesia. Mohon maaf, bukan saya sok pintar, tapi memang inilah satu-satunya jawaban, mengapa fitnah sedemikian mudah tersebar di negeri ini. Dalam perbicangan saya dengan Andre Vltchek di Bandung, saya tanyakan padanya, kenapa kok dia terlihat kesal sekali pada kondisi di Indonesia. Kritikan-kritikannya atas kondisi di Indonesia sangat pedas. Saya akui yang dia tulis benar, tapi gak segitunya kali… “Negara-negara Afrika lebih parah daripada Indonesia… Indonesia ini masih lumayan, lho..” begitu kata saya kurang-lebih (saya pake bahasa Inggris, jadi ga persis gitu kata-kata saya).

Andre menjawab, kurang lebih, “Siapa bilang? Saya sudah keliling Afrika dan Asia. Indonesia ini kondisinya setara dengan Sub-Sahara Afrika. Nigeria dan Rwanda bahkan masih lebih baik dari Indonesia. Anda jangan lihat di kota saja. Cobalah keliling kampung-kampung. Selama ini di Indonesia saya selalu keliling kampung-kampung dan melihat sendiri betapa buruknya kondisi di sini. Tapi, bahkan orang kampung yang mandi dan mencuci di kali yang sangat kotor pun marah ketika disebut miskin. Orang Indonesia kebanyakan tidak sadar pada kondisi yang sedang dihadapinya…” (masih panjang sih penjelasannya… kapan-kapan saya tulis lagi).

Inti pemikiran Andre (ini interpretasi saya ya, bukan kalimat dari dia), ‘ketidaksadaran’ itu berawal dari tahun 1965. Pada saat itu terjadi pemberangusan intelektual di Indonesia secara dahsyat. Terlepas dari kesalahan faktual PKI (misalnya, pembunuhan terhadap ulama-ulama), tapi faktanya, saat itu ‘komunisme’ dijadikan mantra untuk melakukan pembunuhan massal besar-besaran di berbagai penjuru Indonesia; segala sesuatu yang ‘berbeda’ dari narasi mainstream dituduh komunis dan diberangus, dipenjara, atau dibunuh. Secara massal, cara berpikir bangsa Indonesia dibentuk atau ‘disetting ulang’ sehingga takut dan benci pada sesuatu yang berbeda, dan menerima bahwa cara berpikir ala Barat-lah yang maju dan modern. Seiring dengan itu, Imperium pun leluasa menguasai berbagai kekayaan alam di Indonesia.

Kata Andre, metode yang sama kemudian ingin dilakukan ‘Imperium’ di Chile dan Rwanda, tapi rakyat di kedua negara itu lebih cerdas, sehingga hasilnya tidak separah di Indonesia. Nah kalimat ini yang saya garis bawahi: mereka lebih cerdas. Pastilah banyak yang protes. Lho buktinya orang Indonesia banyak yang jadi ilmuwan hebat..bla..bla..

Agaknya definisi ‘kecerdasan’ itu yang musti kita pertanyakan. Bila benar cerdas, kok bisa berbagai berita fitnah dan hoax ditelan mentah-mentah? Kok bisa 500rb hingga jutaan (angka pastinya belum ada) warga Indonesia dibunuh massal oleh sesama rakyat Indonesia sendiri hanya gara-gara isu komunis? Mengapa yang komunis-komunis itu tidak dipenjara saja, mengapa harus ramai-ramai dibunuh dengan cara barbar? Kalau pelakunya rezim/tentara, itu bahasan lain, tapi ini pelakunya rakyat biasa, banyak pelakunya yang sebenarnya tetangga si korban. Mengerikan sekali.

Dan apa Anda pikir kebodohan dan ‘setting ulang pikiran’ serupa TIDAK MUNGKIN terjadi lagi? Nuduh-nuduh komunis sudah gak kekinian. Anak muda sekarang malah ketawa kalau dikatain komunis. Di kampus-kampus sudah biasa Marxisme dibahas (diajarkan). Bahkan kajian tentang Marx pernah digelar di salah satu ruang kelas di kompleks Masjid Salman dengan peserta membludak. Padahal yang jadi pembicara orang “kafir” (saya juga hadir dalam kajian itu, duduk paling depan, dan mengajukan pertanyaan paling awam sedunia: apakah benar Marx itu atheis?).

Jadi, isu yang paling efektif dipakai SAAT INI untuk menstimulasi orang-orang bodoh memang isu Sunni-Syiah (eksperimennya sudah berhasil di Irak dan Suriah). Buatlah orang-orang bodoh itu marah, lalu angkat senjata, bunuh semua orang Syiah, terindikasi Syiah, punya buku Syiah, pernah nulis membela Syiah, pernah berteman dengan orang Syiah, atau apa saja. Persis seperti stigma ‘komunis’ yang dulu dipakai zaman Orba. Dan sekali lagi, ‘bodoh’ di sini tidak ada urusan dengan gelar akademis. Tak terhitung facebooker yang punya gelar tinggi, kuliah di luar negeri, berkarir jadi PNS-padahal-katanya-ini-pemerintah-thogut, tapi pikirannya ‘bodoh’ dan dengan gampang disetir Imperium untuk larut dalam upaya adu domba.

Entahlah, bagaimana cerita akhir dari semua pertunjukan kebodohan ini….

===

Setelah ramai dikritik netizen,situs NU Garis Lurus (NUGL) membuat artikel klarifikasi, namun isinya mengandung sejumlah kesalahan, sehingga dikritik balik oleh akun Azis Anwar Fachrudin. Berikut copas utuh dari statusnya:

Klarifikasi NUGL [NU Gagal Loading] dan Beberapa Kekonyolan

Pagi ini di beranda saya ‘methungul’ link klarifikasi NUGL terkait berita hoax eksekusi penyair Irak bernama Ahmad Nu’aimi dua hari lalu
(http://www.nugarislurus.com/2016/01/klarifikasi-berita-eksekusi-ahmad-nuaimi-dan-syairnya.html).
Saya baca, lalu saya buka tautan-tautan yang disediakan di klarifikasi itu. Dan karena saya menemukan beberapa hal yang agak ‘nganu’ di dalamnya, maka perlu kiranya saya sampaikan tiga hal berikut.

Pertama, link-link yang di-share di klarifikasi itulah antara lain berita hoax di situs-situs Arab yang dibantah oleh ketua persatuan penulis dan sastrawan Irak sebagaimana saya sebut di postingan sebelum ini. Saya mulanya mengira bahwa NUGL akan menyediakan link yang membantah balik, tapi NUGL malah memberi link-link berisi hoax-nya itu sendiri. Ibaratnya, NUGL memberitakan A yang lalu dibantah berita B, tapi bukannya kemudian memberi berita lain yang membantah B, NUGL malah menyodorkan kembali berita A. Dan, tak kalah penting, satu di antara link-link yang disodorkan NUGL meskipun gambarnya salah (yakni inihttp://www.iraqpressagency.com/?p=177570&lang=ar)
justru berisi keterangan soal bantahan dari persatuan penulis Irak. Artinya, NUGL menyodorkan link yang mengafirmasi ke-hoax-an berita yang disebarkannya sendiri. (Ini agak konyol)

Kedua, klarifikasi NUGL memberi link ke youtube yang berisi syair Ahmad Nu’aimi itu dengan ditambahi keterangan “sudah ditonton lebih dari 500 ribu pemirsa”
(linknya ini: https://www.youtube.com/watch?v=s6wYShV-cGw).

Saya buka link youtube-nya, dan syairnya ternyata sama dalam soal judul tapi isinya 100% tidak sama dengan isi syair di berita hoax yang di-share NUGL. Setelah saya cari sendiri, syair asli dari Ahmad Nu’aimi yang disuarakan di link youtube itu adalah ini
(https://web.facebook.com/Syrian.Revolution/posts/10153050040575727).
Syair yang di youtube ini adalah syair ratapan (istilah teknis dalam sastra Arab: syair “ratsa”) yang isinya justru mengutuk-utuki bangsa Irak sendiri, termasuk meratapi diri penyair sendiri karena banyak baitnya yang pakai kata ganti “kita” (nahnu dan dhamir “-na”). Maka, dengan men-share link itu, NUGL justru sedang menambahi info bahwa penisbahan syairnya adalah salah. Dengan kata lain, NUGL melempar bumerang untuk dirinya sendiri. Kekeliruan NUGL kini bertambah jadi dua: salah atribusi gambar plus salah atribusi syair. (Ini mulai konyol)

Ketiga, demi membuktikan bahwa figur Ahmad Nuaimi bukan fiktif, NUGL memberi link akun FB Ahmad Nuaimi itu, ditambahi keterangan “mempunyai lebih dari 1000 penggemar”
(yakni ini: https://facebook.com/الشاعر-احمد-النعيمي-376463835811677/ ).
Saya buka, dan setelah saya lihat per pukul 8 pagi WIB ini, ternyata akun FB Ahmad Nuaimi itu baru saja 10 jam lalu posting foto. (Lho, berarti di masih hidup? Bukannya di berita NUGL dia sudah dihukum gantung tanggal 27 Desember lalu?) Jadilah saya berkesimpulan bahwa dengan memberikan link akun FB itu, NUGL justru sedang menambah kesalahan bagi beritanya sendiri menjadi tiga: salah gambar, salah syair, dan salah orang. (Yang ini sudah konyol)

Tentang hal terakhir terkait akun FB Ahmad Nu’aimi ini, kepada situs NUGL, yang adminnya tampaknya tak berani menampilkan identitas, sudahkah Anda punya bahan ngeles untuk membantah? Kalau belum punya bahan ngeles, dan karena saya sebenarnya agak merasa tak enak body sama Anda, baiklah saya beri alternatif bahan untuk ngeles dari tiga perspektif: secara konspiratif, supernatural, dan psikologis.

Secara konspiratif: bisa saja yang posting itu adalah keluarganya. Tapi probabilitas kebenaran ini 30%, sebab keluarganya semestinya mengabarkan berita berkabung bahwa sang penyair baru saja dihukum mati. Secara supernatural: mungkin saja dia bangkit dari kubur, arwahnya gentayangan, lalu login akun FB-nya. Tapi ini probabilitas kebenarannya 60%, karena dia itu setidak-tidaknya mbok ya mengabarkan apa yang terjadi di alam barzakh buat bekal kita-kita ini untuk bersiap-siap. Secara psikologis, yang probabilitasnya saya duga mencapai 90%: mungkin Anda sedang lelah. Kalau ini benar, perkenankan saya untuk memberi saran agar Anda sebaiknya bobok dulu, biar pikiran cerah dan hidup Anda ndak suram-suram amat.

Terakhir, Anda mengklaim bahwa berita hoax Anda “membuat gerah berbagai kalangan pro syiah dan pro liberal.” Menurut saya ini keliru. Berita hoax Anda sudah dan memang semestinya membuat gerah kaum Nahdliyin. Karena, selain membawa nama NU dan suka tanpa malu menghujat petinggi NU, Anda mengklaim “garis lurus” padahal berita yang Anda sebar tidak lurus.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: