Kajian Timur Tengah

Beranda » Arab Saudi » Syekh Nimr

Syekh Nimr

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Status Facebook saya tentang Syekh Nimr memicu diskusi menarik, sehingga perlu saya dokumentasikan di sini.

Awalnya, saya menulis status ini:

SYEKH NIMR

Semalaman ini, di timeline saya banyak info tentang eksekusi hukuman mati terhadap ulama Syiah di Arab Saudi, Syekh Nimr. Saya pun mencari di youtube ceramah-ceramahnya, ternyata memang dia keras mengkritik Rezim Saudi, tak heran bila kuping Raja dan para pangeran kaya raya itu kepanasan lalu memutuskan untuk memenggalnya.

Sikap seseorang kepada pemenggalan Syekh Nimr pasti sangat bergantung bagaimana ia memandang Rezim Saud. Bila baginya Rezim Saud adalah rezim suci penjaga Haramain, yang bahkan dosanya dalam tragedi Mina pun tak boleh dikritik (dan yang mengkritik disebut Syiah), maka Syekh Nimr pantas dipenggal karena mengganggu stabilitas negara.

Tapi, gambar ini memberikan perspektif lain.

isis hitam-putih

Seseorang bertanya, “Apa maksud ISIS hitam dan putih itu?”

Saya menjawab:

Dari sisi pakaiannya.. ISIS ‘asli’ berbaju hitam, tapi donaturnya kan rezim Saud yg berjubah putih. Nah yang dipenggal oleh ISIS hitam adalah orang2 yg anti-ISIS, sedangkan yg dipenggal oleh ISIS berbaju putih adalah org2 yg anti-pendukung-ISIS (anti-rezim Saud)

Kemudian, seseorang yang lain mengirim status dari Sumanto Al Qurtuby, profesor Indonesia yang mengajar di Arab Saudi, yang status-statusnya tentang kondisi domestik Arab Saudi sering di-share orang. Berikut copasnya:

“Kuliah virtual” singkat kali ini ttg eksekusi massal hukuman mati thd 47 tersangka gerakan terorisme, separatisme, sektarianisme & ekstremisme yg sdg “heboh”. Dari 47 itu, dua nama sangat pupuler: Shaikh Nimr Baqir al-Nimr (tokoh “sayap radikal” Syiah) dan Faris Al-Shuwail (gembong Al-Qaeda di Saudi). Sebagian besar mrk dihukum krn kasus “terorisme domestik” yg menimpa Arab Saudi sejak beberapa tahun silam. Hukuman thd “kelompok teroris” ini semakin gencar sejak Kementerian Dalam Negeri dipimpin oleh Putra Mahkota Muhammad bin Nayef yg “digadang-gadang” oleh Amerika & warga Saudi sbg pemimpin masa depan.

Penting untuk dicatat disini: pertama, Kerajaan Saudi tdk pernah kompromi thd aneka gerakan dan aksi2 terorisme & ekstremisme siapapun pelakunya (Wahabi, Syiah, Sunni, Ikhwan, Al-Qaedah, ISIS, dlsb) karena akan mengganggu & mengancam stabilitas sosial-politik, ekonomi, dan keamanan negara & masyarakat. Bny para tokoh “Wahabi/Ikhwan radikal” yg dipenjara & dieksekusi krn terlibat berbagai kasus kekerasan domestik spt yg menimpa Juhayman al-Utaibi yg pernah “mengkudeta” Mekah.

Kedua, eksekusi thd Shaikh Nimr al-Nimr bukan karena kapasitasnya sbg “tokoh agama Syiah” tapi karena keterlibtannya dlm berbagai upaya makar (separatisme & sektarianisme) thd Pemerintah Saudi. Sejak Revolusi Iran 1979 (dan diperkuat sejak tumbangnya “rezim Sunni” Saddam Hussein Irak), para tokoh Syiah Saudi terbelah: ada yg “pro-Iran”, ada yg pro-Saudi. Syaikh Nimr adl salah satu klerik yg dianggap sbg “perpanjangan tangan politik Iran” yg paling gencar dlm melakukan aksi2 resistensi thd Dinasti Saud. Apakah semua tokoh2 Syiah Saudi pro Nimr al-Nimr? Jelas tidak. Ada bny tokoh Syiah Saudi (spt Shaikh Hassan Al-Saffar, Shaikh Jafar Al Shayeb, Sayyid Hasyim al-Salman, dlsb) yg menentang tindakan2 Syaikh Nimr krn dianggap tdk “strategis” dan merugikan warga Syiah Saudi. Banyak para tokoh Syiah Saudi yg lbh memilih “jalan damai” dan bergabung di “Dialog Nasional” yg diprakarsai oleh mendiang Raja Abdullah yg dikenal sangat moderat & toleran thd kaum Syiah.

Akhirul kalam, teman2 di Indonesia tdk usah “overdosis” dlm menanggapi kasus eksekusi thd Nimr al-Nimr ini. Sy lht “kubu liberal” mengkritik keras eksekusi thd tokoh ini sambil mewacanakan ttg diskriminasi HAM Syiah tanpa melihat posisi & aksi2 kubu Syiah yg moderat & pro-Saudi. Sementara “kubu radikal” melihat fenomena ini sbg momentum utk “mengganyang” Syiah di Indonesia tanpa melihat alasan2 eksekusi & peta geo-politik di Saudi & Timur Tengah. Mereka tdk melihat bahwa eksekusi itu bkn lantaran Nimr al-Nimr itu pengikut Syiah yg sesat tapi krn keterlibatannya sbg “spion” dan “pion” Iran di Saudi. Kedua kubu sama2 melakukan “korupsi fakta” utk kepentingan masing2.

Jadi teman2, sekali lagi sy tegaskan, masyarakat Indonesia jangan sampai terbawa arus konflik dan kekerasan geo-politik di Arab & Timur Tengah. Indonesia adalah Indonesia yg memiliki sejarah sendiri & kebudayaan sendiri yg hrs dijaga bersama-sama, jgn sampai menjadi porak-poranda karena mengikuti dan “membeo” perseteruan negara2 lain yg tdk memiliki sangkut-paut dg kepentingan bangsa, negara & Tanah Air tercinta. Demikian khutbah singkat ini. Selamat berhari Minggu…

Saya pun menjawab:

Status pak Qurtuby sudah saya baca dan saya memang follow beliau. Spiritnya saya setuju: org Indonesia gak perlu ikut2an berkonflik gara2 terseret isu Timteng (itu pula yang saya suarakan selama ini). Tapi untuk menganalisis konflik Timteng, perspektif pak Sumanto tidak saya sepakati: memposisikan rezim Saud itu “tak bermasalah” (dg berbagai bukti yg selama ini beliau sebutkan di status-statusnya). Bagaimana keterlibatan rezim Saud dalam memporak-porandakan Suriah dan Yaman, bagaimana perannya dalam membacking ISIS dan penggulingan Mursi tidak akan terjawab dg memuaskan bila menggunakan perspektif pak Qurtuby. Saya lebih melihat beliau sebagai orang Indonesia mapan yang bekerja di kalangan menengah ke atas (profesor di universitas) dan bergaul dg civil society di Arab Saudi, yang sangat mungkin everything seems fine. Teman saya yang pernah jadi expat di Saudi juga pernah menceritakan hal mirip cerita2 pak Qurtuby. Tapi menganalisis konflik Timteng tidak bisa dilandasi “kesan personal” seperti itu.

Contoh lain, teman-teman yg tinggal di AS dan Inggris misalnya, banyak yang memuji-muji kebaikan pemerintah di sana, perlindungan HAM yg baik, dll. Tapi kesaksian masyarakat sipil tidak bisa dipakai utk menafikan kebijakan LN AS dan Inggris yg jelas tercatat sangat banyak berlumuran darah di berbagai penjuru dunia, terutama Timteng.

Khusus utk Syekh Nimr, pak Qurtuby melakukan blaming the victim (menyebutnya sebagai teroris, pembuat makar, padahal dia sama sekali tidak angkat senjata, hanya demo; justru kontras dg kebijakan Arab Saudi yg membacking ISIS dan Al Qaeda selama ini) dan mengaitkannya dengan Iran (sama persis dg narasi Arab Saudi terhadap konflik Yaman: Houthi itu perpanjangan tangan Iran, Houthi itu pemberontak yg mengkudeta pemerintahan demokratis, atau di Suriah narasi serupa juga diumbar: Assad itu antek Iran, perpanjangan tangan Iran, dll), dan saya tidak sepakat. Alasannya, sependek pengetahuan saya, Syekh Nimr sama sekali tidak berpatron ke Iran (apa karena sama2 Syiah, pasti berpatron ke Iran?).

Di sini ada penjelasannya yg membantah tuduhan pak Sumanto, tapi ya pada akhirnya tergantung masing-masing, percaya pada ‘kata siapa’ : http://www.adhrb.org/…/fact-check-the-truth-about…/

Seorang teman bernama Irfan Permana P menulis tanggapan yang bagus:

Sama seperti Mba Dina, saya juga menangkap kesan beliau tergesa-gesa menyiapkan materi “kuliah”-nya kali ini. Pinjam istilah Mba Dina, saya juga menangkap ada ‘kesan personal’ dari Pak Dosen kita ini. Di sini saya menggarisbawahi tiga poin yang ingin saya tanggapi dari tulisan tsb:

1. Eksekusi Syeikh Nimr adalah akibat keterlibatannya dalam berbagai upaya makar (separatisme dan sektarianisme).
2. Syeikh Nimr dianggap sebagai pion Iran di Saudi.
3. Syeikh Nimr termasuk yang dihukum karena aksi terorisme (Ada di paragraf pertama namun saya simpan di poin ke-3).

Jika kita lacak kronologis kasus Syeikh Nimr ini, ia ditangkap pada Juli 2012 karena aksi protes yang dilakukan sebelumnya pada bulan Februari 2011 di Qatif, Arab Saudi timur. Yang ia lakukan adalah menuntut hak-hak legal bagi warga Syiah di Saudi. Syeikh Nimr mengkritik diskriminasi terhadap warga Syi’ah Saudi di bidang pendidikan, pekerjaan, agama, jaminan hukum, dan sektor-sektor lainnya. Tidak ada upaya kudeta untuk menggulingkan pemerintah. Tidak pernah pula ada upaya provokasi terhadap masyarakat untuk mengangkat senjata atau merancang suatu konspirasi. Dalam salah satu ceramahnya, ia mengatakan: “Ketika kita melihat seseorang menggunakan senjata dalam demonstrasi, kita akan memberitahukan mereka bahwa hal tsb tidak dibenarkan. Pulanglah, kami tidak memerlukan kalian.” Secara moral dan strategi, Syeikh Nimr menganggap kekerasan bukanlah cara yang baik untuk mencapai tujuan. Lihat di sini:https://www.youtube.com/watch?v=_SVxPEoKO_M

Mungkin kritik Syeikh Nimr terbilang pedas. Namun apakah sekedar mengkritik dapat dikategorikan sebagai makar? Kalau sekedar dipenjara sih masih ok, tapi dipenggal?

Kemudian tentang anggapan Syeikh Nimr sebagai pion Iran di Saudi, apakah karena beliau seorang Syi’ah yang berseberangan pandangan dengan pemerintahnya, maka otomatis jadi pionnya Iran?

Simak video berikut:
https://www.youtube.com/watch?v=PEIx-moB_cs

Tentang hubungannya dengan Iran, beliau menyatakan:
“Kita tidak memiliki hubungan dengan Iran atau dengan negara manapun. Kita terhubung dengan nilai-nilai, dan kita akan (terus) mempertahankannya sekalipun media-media melakukan distorsi (dalam pemberitaan).” Simak di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PEIx-moB_cs

Coba lacak juga, Syeikh Nimr ini mengkritik rezim Assad sebagai oppresor, jelas beda pandangan dengan Iran.

Poin ketiga, apakah Syeikh Nimr seorang teroris?

Syeikh Nimr tidak pernah terlibat dalam aksis kekerasan dan tidak memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris manapun. Namun pemerintah Saudi menyatakannya bersalah dan mengadilinya melalui Specialized Criminal Court (SCC), sebuah pengadilan yang khusus mengadili kejahatan yang berkaitan dengan aksi terorisme.

Terakhir, ini komentar saya

Menyalahkan Iran dalam konflik domestik sepertinya trend di negara2 Arab. Modusnya, semua demo/aksi protes terhadap kebijakan pemerintah dikaitkan dg upaya makar dan ‘proxy’ Iran. Barusan saya baca kutipan pidato Syekh Nimr yang cocok sekali menggambarkan hal ini:

“Kalian mengatakan, memerangi kami, karena kami agen Iran dan Iran mngancam keselamatan kalian… mngapa kalian tdk menyerang Iran? mengapa harus memerangi kami yg tdk bersenjata dan tdk punya kekuatan? Kalau kalian mengaku, rakyat Bahrain dan Yaman telah terhasut Iran untuk meruntuhkan kalian… mengapa kalian tdk menyerang Iran, mengapa tdk menghancurkan dalangnya? mengapa hanya mau menyerang yang lemah?”

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: