Kajian Timur Tengah

Beranda » Arab Saudi » Logika yang Tertukar

Logika yang Tertukar

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

brainCopas dari status Facebook saya:

LOGIKA YANG TERTUKAR

Kemarin ada yang share status saya “Pertanyaan Buat Kalian” dengan gaya khas kaum you know who. Saya bahas di sini semata-mata pingin share cara menganalisis pernyataan orang demi mencerdaskan bangsa. Anggap saja ini lanjutan pelajaran LOGIKA WARUNG yang dulu itu ya 😀

Ini saya copas argumen dia:

=============
Waspada dengan orang pintar yang menyesatkan. Seperti artikel terlampir ini. Saya kutip salah satunya : “apakah ceramah dan demo mengkritik pemerintah boleh dijatuhi hukuman pancung?”
Ya tentu saja boleh, kalau memang ada aturan hukum demikian di negeri tsb🙂 Dina Sulaeman ini seperti orang naif saja.
Bolehkah kita protes aturan hukum Saudi tsb ? Tentu saja juga boleh.
Bolehkan kita membakar kedutaan besar Saudi ? TIDAK BOLEH. Ini kesalahan fatal di Iran.
Di ‪#‎semua‬ Peradaban, di semua zaman; sejak dulu sampai sekarang, semuanya sama :
———
wakil negara (duta besar / ambassador) itu dijamin keselamatannya.
———
Mencederai duta besar itu artinya hanya satu : tantangan perang !
Ini bahasa yang universal, dipahami di mana saja.
Gerombolan pro Syiah ini memang bodoh + membodohkan.
Waspada.
=================

Analisis :
1. Dia menggunakan argumentum ad hominem (mencela si penulis, mengalihkan perhatian dari substansi tulisan). Dia menyebut: “orang pintar yang menyesatkan” dan “gerombolan pro Syiah yang bodoh”.

Saat berdebat, kita harus bergeser dari ‘siapa’ ke ‘apa’. Substansi argumen yang dibahas, bukan si pemberi argumen. Ketika seseorang tak mampu membalas argumen dengan argumen, maka jalan termudah adalah: hinalah si pemberi argumen. Dan ini tidak logis. Kalau ada yang berlaku demikian terhadap Anda, tidak usah marah, karena memang kemarahan Anda yang jadi tujuannya. Ketika Anda marah, logika Anda bisa macet dan akan sama bodohnya dengan dia.

2. Dia menggunakan “logika tabrir” (berlepas diri dari kesalahan dengan menyebut kesalahan orang lain). Ini juga logical fallacy (kesalahan logika). Contohnya: si A maling, si B maling. Yang tertangkap cuma si A. Lalu si A bilang ke polisi, “Pak polisi, saya tidak salah! Kan si B juga maling?!”
Jadi, katakanlah Iran memang jahat dan benar-benar membakar kedubes Saudi, tidak ada kaitannya dengan kejahatan Saudi memancung demonstran. Silahkan dibahas masing-masing secara terpisah. Bisa saja Saudi salah, Iran juga salah, tapi untuk dua kasus berbeda.

Di luar di luar kuliah logika/mantiq, ada analisis lain:
1. Dia melewatkan fakta bahwa segera setelah kejadian rusuh di Kedubes Saudi di Iran, 40 orang ditangkap polisi. Dan media-media berbahasa Parsi memberitakan bahwa aksi rusuh bahkan sudah dimulai sebelum mahasiswa demo dan ada berbagai indikasi lain yang mencurigakan, yang menunjukkan bahwa si pembakar adalah oknum (bukan demonstran/mahasiswa).
2. Kaum you know who ini suka sekali pakai standar ganda. Kalau Arab Saudi memancung demonstran/pengkritik pemerintah, mereka katakan: BOLEH dengan alasan ‘kan emang hukum di sana kayak gitu..hormati dong hukum di negara lain’. Tapi kalau Iran menggantung pembunuh dan bandar narkoba, langsung marah-marah dan memlintir “itu orang Sunni yang digantung”. Padahal, kalaupun benar itu Sunni, dan kalaupun memang UU di Iran jahat ke Sunni, dengan standar yang sama, tentu harusnya juga dikatakan “BOLEH, kan emang hukum di sana kayak gitu..hormati dong hukum negara lain.”

Orang cerdas akan menganalisis satu persatu, kalau Iran melanggar HAM, salah; kalau Arab Saudi melanggar HAM, ya salah juga. Tentu data yang dipakai harus valid ya, bukan hoax.

Inilah wujud logika yang tertukar, gara-gara otak ditaruh di dengkul.
‪#‎IndonesiaDaruratDengkul‬

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: