Kajian Timur Tengah

Beranda » Arab Saudi » Dimanakah Ribuan Al Nimr Itu, Alwi?

Dimanakah Ribuan Al Nimr Itu, Alwi?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

al nimrOleh: Dina Y. Sulaeman*

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan “Ada Banyak Al Nimr di Iran” yang ditulis Alwi Alatas (AA) di http://www.hidayatullah.com. Di judul AA menyebut “banyak”, tetapi di dalam artikel, dia menyebut “ribuan”. Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip pidato Ayatullah Khamenei yang dikritisi AA di akhir tulisannya, karena inilah poin terpenting dalam tulisan AA maupun tulisan ini.

The Almighty God shall not ignore the innocents’ blood and the unjustly spilled blood will backfire on the politicians and the executives of this regime very quickly. The Muslim world and the entire world must feel responsible towards this issue,” kata Ayatullah Khamenei, dikutip AA dari situs berbahasa Inggris.

AA berkomentar, ““Tuan Khamena’i, apakah Anda tidak merasa bertanggung jawab atas tumpahnya ribuan ‘darah tak berdosa’ di Iran, di bawah pemerintahan Anda sendiri? Darah-darah itu pada satu hari nanti akan memercik juga ke wajah Anda, di dunia ini, di dalam lembaran-lembaran Sejarah.”

AA tidak mengutip lanjutan perkataan Khamenei, “این عالمِ مظلوم نه مردم را به حرکت مسلحانه تشویق می‌کرد و نه به صورت پنهانی اقدام به توطئه کرده بود، بلکه تنها کار او، انتقاد علنی و امر به معروف و نهی از منکرِ برخاسته از تعصب و غیرت دینی بود.” (Ulama mazlum ini [Syekh Nimr] tidak memprovokasi rakyat untuk melakukan gerakan bersenjata, dan tidak pula secara sembunyi-sembunyi melakukan konspirasi; satu-satunya yang dilakukannya adalah mengkritik secara terang-terangan, serta amar ma’ruf nahi munkar yang didasari kecintaan pada agama).[1]

Di sinilah POIN PENTING-nya: Iran tidak mengkritik model hukuman mati, tetapi ALASAN Syekh Nimr dihukum mati. Iran menerapkan hukuman mati, seperti juga di Arab Saudi, Indonesia, atau AS (ada 58 negara di dunia yang menerapkan hukuman mati).

Kemudian, AA mengambil rujukan utamanya dari Iran Human Rights. Dalam situsnya, IHR menyatakan Iran Human Rights condemns the death penalty for any crime (IHR mengutuk hukuman mati untuk SEMUA KEJAHATAN). [2] Artinya, dalam pandangan IHR, kejahatan terorisme, upaya kudeta, pembunuhan, bandar narkoba, atau apapun, tidak boleh dihukum mati. Dan karena AA mengakui IHR sebagai sumber valid, seharusnya dia tak perlu menulis “Terlepas dari tepat tidaknya eksekusi yang dilakukan pemerintah Saudi,…”. AA seharusnya tak perlu malu-malu mengakui bahwa dia sepakat dengan IHR: Arab Saudi salah karena menghukum mati Syekh Nimr.

Manipulasi Informasi

Dalam tulisan singkat ini, saya tidak membahas tepat/tidaknya hukuman mati. Saya sekadar ingin membuktikan benar atau salahnya klaim AA bahwa di Iran, “ada ribuan Al Nimr di Iran” dan “kaum Sunni dihukum mati karena memiliki hubungan dengan kelompok Salafi.”

Tuduhan ini terlihat didasarkan (dan dimanipulasi) dari info situs IHR yang menulis, “[Shahram Ahmadi dituduh] having relations with Salafi groups and assassinating Sanandaj’s Sunni Friday Prayer Imam” (memiliki hubungan dengan kelompok Salafi dan membunuh Imam Sholat Jumat SUNNI di Iran).[3] Di tulisannya, AA sama sekali tidak menyebut bahwa Imam Sholat Jumat yang syahid itu SUNNI, namanya Syekh Mamosta Borhan Ali.[4]

Siapa kelompok Salafi? Semua tahu, Al Qaida, ISIS, dan kelompok-kelompok teror sejenisnya indentik dengan paham Salafisme/Wahabisme. Namun AA (dan IHR) “memperhalus” kata “terorisme” dengan “Salafi”. AA menulis “Menjadi salafi atau berhubungan dengan kalangan salafi tampaknya di Iran dianggap sebagai suatu kejahatan, satu bentuk moharebeh.” (kata “tampaknya” jelas opini subjektif).

Definisi moharebeh yang digunakan oleh AA jelas bersumber dari sumber sekunder. Bila kita merujuk langsung ke Kitab UU Hukum Pidana Islam 1370, «محاربه و افساد فی الارض» “moharebeh dan perusakan di muka bumi” dinyatakan sebagai salah satu kejahatan dengan hukuman pidana maksimal (hukuman mati). Dalam pasal 183, dinyatakan bahwa “barang siapa yang menggunakan senjata dengan tujuan menciptakan ketakutan dan atau menghilangkan kebebasan dan keamanan di tengah-tengah masyarakat, dia dinyatakan sebagai mohareb dan pelaku kerusakan di muka bumi.”

Ayat 1: Jika seseorang menggunakan senjata dengan tujuan tersebut, tapi karena ketidakmampuannya, tidak sampai menimbulkan ketakutan seorang pun, dia tidak disebut mohareb.

Ayat 2: Jika tujuan penggunaan senjatanya itu murni masalah pribadi dengan target satu atau beberapa orang, dan tidak sampai menimbulkan ketakutan pada pihak lain yang tidak terlibat, dia juga tidak disebut mohareb.

Ayat 3: Senjata yang dimaksud meliputi senjata api dan ataupun senjata tajam. [5]

Jadi, moharebeh tidak ada urusan dengan “salafi” seperti diklaim AA.

Aksi-Aksi Terorisme di Iran

Iran, terutama di kawasan perbatasan dengan Irak dan Pakistan, sering diganggu oleh aksi-aksi terorisme. Iran adalah negara dengan jumlah korban akibat aksi teroris TERBANYAK di dunia. Sejak kemenangan Revolusi Islam 1979 sampai tahun 2014, jumlah korban tewas akibat aksi teror yang dilakukan berbagai kelompok teroris mencapai angka 17.180 orang. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, Panglima Angkatan Bersenjata Shirazi, dll. [6] Ayatollah Khamenei sendiri adalah korban teror yang dilakukan kelompok Furqan. Hingga kini, tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981).

Di antara kelompok-kelompok teror yang berkali-kali menyerang Iran adalah Mujahideen-e-Khalq/MEK (berbasis di Irak, sudah “mati” dan pentolannya mendapat suaka di Barat) dan Jundullah (berbasis di Pakistan). Sejak Desember 2005 – Oktober 2009, ada 98 warga Iran yang meninggal akibat aksi teror Jundullah. Di antaranya adalah aksi teror yang terjadi pada tanggal 14 Februari 2007, yang menewaskan 13 orang. Aksi ini secara resmi disebut “aksi teror” oleh Uni Eropa dan Dewan Keamanan PBB. [7]

Apakah mazhab anggota Jundullah? Sama seperti Al Qaida dan ISIS, mereka berideologi Salafi/Wahabi yang sering mengklaim diri sebagai Sunni. Paham Wahabi yang menghalalkan teror jelas berbeda dengan paham Ahlussunnah sejati. Jurnalis investigatif terkemuka, Seymour Hersh pernah menulis laporannya tentang kucuran dana AS untuk membiayai kelompok-kelompok teror yang mendestabilisasi Iran (termasuk Jundullah, the Mujahideen-e-Khalq/MEKdan kelompok separatis Kurdithe Party for a Free Life in Kurdistan/PJAK.) [8].

Namun data-data ini diabaikan AA. Dia malah menyebut nama sejumlah orang yang dihukum mati karena ke-Sunni-annya dan tuduhan moharebeh. Tadi sudah saya jelaskan apa definisi moharebeh. Lagipula, siapa yang menjamin bahwa mereka bukan anggota kelompok teroris, atau pembunuh, atau kejahatan lain? Bukan tugas saya untuk mencari satu persatu file pengadilan orang-orang itu. Silahkan si penuduh (AA) membuktikan sendiri tuduhannya; menuduh sangat gampang, membuktikannya soal lain. Yang jelas, Ahmadi bersaudara diadili karena kasus pembunuhan Imam Jumat SUNNI di Sanandaj (diakui oleh IHR), bernama Mamosta Borhan Ali (nama ini tidak disebut oleh IHR, maupun AA), yang dikenal sebagai ulama pro-ukhuwah dan selalu mengingatkan umat agar menjaga persatuan.[9]

Manipulasi informasi ala AA sangat sering ditemukan. Ketika seorang yang kebetulan bermazhab Sunni melakukan aksi terorisme (atau membunuh, menjual narkoba, korupsi, dll) dihukum mati di Iran, segera terjadi pelintiran informasi: mereka dibunuh karena ke-Sunni-annya (bukan karena kejahatannya).

AA menulis, “Ada ribuan “al-Nimr” yang menjadi korban di Iran sejak revolusi tahun 1979.” Tentu dia perlu menuliskan sumber resminya yang valid, dengan angka yang jelas. Ribuan itu berapa? Data dari Kurdistan Press Agency (ini adalah situs anti pemerintah) misalnya, pada tahun 2013, ada 826 orang (data umum, tidak disebut mazhabnya) yang dihukum mati di Iran: 319 orang penyelundup narkoba, 119 pembunuh, 58 pemerkosa, 29 MOHAREBE, dll. Di sini bisa dilihat kejahatan “moharebe” jumlahnya minor. [10]

Dan apa definisi “Al Nimr” yang dimaksud AA? Apakah SEMUA SUNNI (atau tepatnya Wahabi/Salafi?) yang dihukum mati, apapun kejahatannya, bisa dikategorikan “Al Nimr”?

Iran (dari pidato Khamenei) mendefinisikan “Al Nimr” sebagai ulama yang mengritik terang-terangan atas dasar kecintaan pada agama; tidak memprovokasi gerakan bersenjata, tidak melakukan konspirasi melawan negara. Jadi, ketika Iran menghukum mati seseorang, sudah dipastikan orang tersebut di luar kategori/definisi “Al Nimr”. Sementara yang dilakukan AA dalam tulisannya, menyamakan ulama sekelas Al Nimr dengan teroris anggota MEK, PJAK, dan Jundullah yang terbukti terkait dengan CIA (lihat tulisan Hersh).

Kondisi Penjara Iran

AA dengan mengutip sumber sekunder menyebut bahwa kondisi penjara Rajai Shahr (tempat ditahannya Ahmadi) buruk. “…kemungkinan telah mengalami penyiksaan fisik dan psikologis selama berada di dalam tahanan, hal yang biasa terjadi di penjara-penjara Iran,” tulis AA.

Perhatikan AA menggunakan kata “kemungkinan” dengan menyebut referensinya adalah buku “Tortured Confession” karya Ervand Ebrahimian, profesor di University of New York (1999). Saya sudah membaca scanning buku Ebrahimian. Ebrahimian melakukan analisis dari buku-buku (artinya: dari sumber sekunder), antara lain, novel yang ditulis oleh Bozorg Alavi (1942), memoar Ovanessian dan Pishevari, dan berbagai memoar lainnya. “Banyak dari penulis [memoar] adalah perempuan yang menyaksikan orang-orang tercinta mereka tewas di penjara. Sebagian besar dari penulis itu berhaluan kiri, sebagian lagi kalangan kerajaan, nasionalis, dan Islamis. …mereka semua terpengaruh secara eksplisit atau implisit dari karya Bozorg Alavi,” tulis Ebrahimian. Ingat, karya Bozorg Alavi yang dimaksud adalah NOVEL). Ebrahimian juga menuliskan alasan orang-orang dihukum mati pemerintah Islam Iran, antara lain karena “pembunuhan”, “upaya kudeta”, serta bergabung dengan organisasi teror (yang sudah saya sebutkan di atas, seperti MEK, Furqan, dan sejenisnya).

Tuduhan bahwa napi di penjara Rajai Shahr disiksa, rupanya sudah ditanggapi Iran, antara lain dengan merilis berita berjudul “Penjara Rajai Shahr, Antara Kenyataan dan Tuduhan”, dilengkapi dengan foto-foto para napi. Penjara ini adalah penjara narapidana kriminal, seperti pembunuh, penyelundup narkoba, atau pemerkosa; bukan kejahatan politik. [11]

Ulama Anti Pemerintah

AA menulis, “Ayatollah Kazem Shariatmadari, ayatollah Khagani, sekedar menyebut contoh, masing-masing meninggal didalam tahanan rumah karena berseberangan paham dengan Khomeini, begitu pula dengan ayatollah Rastegari yang berkali-kali ditangkap dan dikenai tahanan rumah di bawah pemerintahan Khamenei. Mereka mengalami semua itu karena sikap oposisinya terhadap pemerintah.”

Informasi ini justru memperkuat bagian pertama tulisan saya (kutipan pidato Khamenei): seorang ulama TIDAK BOLEH dipancung hanya karena mengkritik pemerintah. Lalu, mengapa AA malah menyamakan para ulama Iran itu dengan Al Nimr? Bukankah mereka “hanya” dikenai tahanan rumah oleh Iran, sementara Arab Saudi menembak, menyiksa (hingga tangan dan kakinya patah), lalu memenggal kepala Al Nimr?

Informasi ini juga memberitahukan bahwa Syiah memang banyak versi, dan tidak semua ulama Syiah sepakat dengan sistem Wilayatul Faqih Iran. Ketika Shah Reza Pahlevi berkuasa, ada ulama-ulama pendukungnya, ada yang menentang. Kazem Shariatmadari masuk dalam ulama barisan pendukung Pahlevi. Tidak aneh, ketika Shah terguling, mereka aktif berceramah mengecam pemerintah baru. Ayatullah Khagani malah berceramah menyeru penduduk Ahwaz agar mendukung Saddam saat Presiden Irak itu memulai invasinya ke Iran tahun 1980. [12]

Ada juga ayatullah yang tadinya pro-Khomeini, tapi akhirnya menentang dan dikenai tahanan rumah, yaitu Ayatullah Montazeri. Dia marah kepada Khomeini karena saudara dari menantunya dikenai hukuman mati dalam kasus pembunuhan. Agaknya karena nepotisme berusaha dihindari, seorang kerabat dekat ulama besar pun ketika bersalah tetap tak ada ampun: nyawa harus dibayar nyawa. Sayang sang ulama tak terima. Karena terus berpidato mengecam rezim, dia pun dikenai tahanan rumah, wafat tahun 2009 .[13] Tetapi kantor dan yayasannya sampai hari ini masih beraktivitas. Perlu dicatat, penerapan hukuman terhadap ulama dilakukan oleh Dewan Pengadilan Ulama (Dadgah-e Ruhani), bukan oleh pengadilan pidana, bukan pula oleh aksi diktator pemimpin tertinggi (Leader, saat ini dijabat Khamenei). Bahkan Leader pun dipilih rakyat melalui pemilu, dan harus bertanggung jawab kepada Dewan Pakar (Majles-e Khubregan), serta sewaktu-waktu bisa diturunkan seandainya pengadilan membuktikan ia bersalah melanggar UU.[14]

Jadi, dimanakah ribuan Al Nimr yang Anda klaim, Alwi? Saya duga, mereka justru ada di Arab Saudi dan di Bahrain.

[1] http://farsi.khamenei.ir/news-content?id=31802

[2] http://iranhr.net/en/articles/2349/

[3] http://iranhr.net/en/articles/2349/

[4] http://www.tabnak.ir/fa/pages/?cid=63955

[5] http://law.tabrizu.ac.ir/article_2083_320.html

[6] http://www.irna.ir/fa/News/81741947/

[7] http://en.people.cn/200702/17/eng20070217_350759.html

[8] http://www.newyorker.com/magazine/2008/07/07/preparing-the-battlefield . Telegraph juga memberitakan Operasi Hitam AS di Iran (antara lain menyebut Jundullah terkait dengan CIA) http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/1552784/Bush-sanctions-black-ops-against-Iran.html. Rangkumannya bisa dibaca di https://dinasulaeman.wordpress.com/2009/10/19/jundullah-teror-di-iran-dan-catatan-untuk-eramuslim/

[9] profil Syekh Borhan Ali didapat dari wawancara dengan informan (warga Iran), 8/1/2016

[10] http://www.kurdpa.net/farsi/idame/13611

[11] http://www.mashreghnews.ir/fa/news/275308/%D8%B2%D9%86%D8%AF%D8%A7%D9%86-%D8%B1%D8%AC%D8%A7%DB%8C%DB%8C%E2%80%8C%D8%B4%D9%87%D8%B1%E2%80%8C-%D8%A7%D8%B2-%D9%88%D8%A7%D9%82%D8%B9%DB%8C%D8%AA-%D8%AA%D8%A7-%D8%A7%D8%AF%D8%B9%D8%A7-%D8%AA%D8%B5%D8%A7%D9%88%DB%8C%D8%B1

[12] wawancara dengan informan (warga Iran), 8/1/2016

[13] http://jahannews.com/vdcf1edm1w6d1ya.igiw.html

[14] Penjelasan singkat struktur pemerintahan Iran: https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/11/01/sistem-demokrasi-ala-iran-demokrasi-tangan-tuhan/

*Dina Y. Sulaeman adalah kandidat Doktor Hubungan Internasional Unpad, peneliti ICMES (Indonesia Center for Middle East Studies). Tulisan ini dimuat di www.liputanislam.com

 

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: