Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Logika Boikot Zionis

Logika Boikot Zionis

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
boikotKTT Luar Biasa OKI 2016 telah mengeluarkan resolusi dan Deklarasi Jakarta yang menurut saya, cukup tegas dan ‘bertenaga’. Kita patut bangga, karena dalam proses perumusan resolusi dan deklarasi semacam ini dalam konferensi internasional, peran tuan rumah (dalam hal ini Kemlu RI) sangat signifikan. Tentu saja, kita musti wait n see untuk melihat bagaimana implementasinya.
Namun, ada satu poin dalam resolusi itu yang bisa dilakukan oleh kita, masyarakat sipil, yaitu boikot. Biasanya, seruan boikot akan ditanggapi sinis, “Lu aja fesbukan, itu kan buatan Yahudi?!”
Berikut ini penjelasan singkat soal boikot.
1. Perusahaan yang diboikot adalah perusahaan yang menyalurkan sebagian labanya untuk mendukung Israel. Israel bisa tegak sampai hari ini karena sebagian besar biaya operasional pemerintahannya disumbang (istilah mereka: ‘tzedakah’) perusahaan-perusahaan transnasional. [catatan: di resolusi/deklarasi OKI, disebut yang diboikot adalah ‘perusahaan yang ada di wilayah pendudukan; tapi gerakan boikot Zionis internasional sebenarnya jauh lebih luas]
2. Boikot adalah bentuk solidaritas. Ini masalah hati, Kang. #eaaa. Ketika kamu tahu bahwa sebuah perusahaan menyalurkan profitnya untuk mensupport rezim penjajah, hatimu menolak memakai produk itu dan memilih produk lain.
3. Tujuan boikot adalah memberikan tekanan kuat kepada Israel dan para pendukungnya, dengan harapan rezim Zionis bisa kepepet, bahkan tumbang, sehingga bisa dibentuk rezim baru yang demokratis dan mengembalikan hak-hak bangsa Palestina. Gerakan boikot internasional pernah berhasil menumbangkan Rezim Apartheid di Afrika Selatan, sehingga kita boleh optimis bahwa bila umat manusia pencinta keadilan dan perdamaian bersatu memboikot Israel (dan para pendukungnya), kita juga bisa menumbangkan Rezim Zionis.
Btw, dampaknya sudah pernah sedikit terlihat, misalnya pada tahun 2014, perusahaan2 Israel sudah kompak menekan Netanyahu bahwa “kestabilan ekonomi hanya bisa dicapai kalau Israel berdamai dengan Palestina” [http://mondoweiss.net/2014/01/business-confront-netanyahu/].
4. Boikot Israel bukan urusan umat Islam semata, tapi seluruh umat yang peduli pada kemanusiaan. Gereja Vatikan sudah menarik sahamnya dari Caterpillar, karena buldoser2 Caterpillar digunakan untuk menghancurkan rumah-rumah orang Palestina. Lembaga investasi terbesar di Belanda PGGM, tahun 2014 telah memutuskan tidak berinvestasi di Israel karena kejahatan Israel terhadap Palestina. Di Irlandia, supermarket-supermarket telah menolak memasukkan buah-buahan asal Israel.
5. Bagaimana bila kita tak punya alternatif? Misal, produk A sudah jelas pendukung Israel, tapi kita terpaksa menggunakannya. Jawaban saya: ibarat jawab soal ujian, kalau 10 soal bisa jawab 8 ya sudah lumayan, biarlah yang 2 salah karena terpaksa. Tapi, jujurlah pada diri sendiri, terpaksa, atau sekedar memenuhi selera? *aku tuh ga bisaaaa… kalau gak pake komestik produk A*
Demikian, semoga dipahami. Mari kita ingat, bahwa membela bangsa yang terjajah adalah mandat UUD 1945. Dan kalau mau sedikit berpikir lebih luas, sebenarnya, melawan Israel adalah membela kepentingan nasional kita sendiri (silahkan baca-baca secara mendalam, siapa sebenarnya yang ada di balik berbagai konflik di dunia ini, pasti ketemu: perusahaan-perusahaan trasnnasional, terutama migas, rekonstruksi, dan senjata. Lalu siapa pemiliknya? Cek saja sendiri).
—-
* web yang menurut saya credible memberi info ttg perusahaan2 yang pro Israel: http://inminds.com/   Merek2 yang diboikot: http://inminds.com/boycott-brands.html
Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: