Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

Antara Hillary, Ahok, dan Lawan-Lawannya

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

hillary-trumpPemilu AS sudah menjelang. Sebagai negara yang paling berpengaruh bagi Indonesia sejak tahun 1960-an, apa yang terjadi di AS sebenarnya “penting” bagi bangsa ini. Namun, di sisi mana “penting”-nya, masih banyak yang tak terlalu paham. Banyak yang memandang AS dengan penuh pesona, karena mata yang dipakainya adalah ‘mata ekonomi’, bukan mata ‘ekonomi-politik’.

Dengan ‘mata ekonomi’, banyak orang Indonesia menggantungkan impiannya ke AS: jalan-jalan, beasiswa, berkarir, dll. Tidak salah, wajar saja. Tapi dengan ‘mata ekonomi-politik’, seharusnya kita kesal karena AS sejak 1960-an telah mengeksploitasi negeri ini, antara lain lewat Bank Dunia dan IMF (saham terbesar dimiliki AS dan markasnya juga di AS). Bahkan UU Migas  No. 22 Tahun 2001 yang membuka peluang sebesar-besarnya kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi migas dan membuat negara kehilangan kontrolnya dalam tata kelola migas, ternyata penyusunannya didanai oleh USAID sebesar $21,1 juta*. Ada banyak lagi tangan-tangan AS yang berada di balik berbagai fenomena ekonomi-politik di negeri ini, tapi hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Datanya susah didapat. Misalnya saja, reformasi 1998, kalau baca tulisannya Chomsky, ada peran AS, yang sudah tidak menghendaki lagi Suharto. Tapi buktinya apa? Saya cuma dengar kisah lisan, bahwa pada malam-malam demo itu, uang berkarung-karung didistribusikan ke kampus-kampus, untuk logistik para mahasiswa, tanpa kwitansi.

Adalah lebih mudah untuk menganalisis ekonomi-politik di dalam AS sendiri. Transparansi data di sana membuat saya bisa menyusun sebuah buku Obama Revealed (unduh gratis di sini) yang isinya menceritakan keterkaitan hampir semua menteri Obama dengan korporasi pro-Zionis.

Tapi, dengan data yang sedemikian mudah diakses pun, masyarakat AS tidak punya pilihan lain, mereka tetap memilih Obama untuk periode kedua, meski terbukti janjinya terkait politik luar negeri tidak ditepati.  Obama tetap melanjutkan kebiasaan presiden-presiden AS sebelumnya: mendukung Israel dan melancarkan perang ke berbagai negeri. Obama bahkan dijuluki King of Drone, saking banyaknya rakyat sipil, termasuk anak-anak, tewas akibat pengeboman dengan drone yang dilakukan AS. Suriah, negeri Arab sekuler-sosialis, menjadi korban paling tragis dari kebijakan perang Obama, dengan menggunakan proxy-nya: para mujahidin.

Dalam pilpres November 2016, pilihan bagi rakyat AS cuma dua, Hillary atau Trump. Ada capres-capres independen, tapi dipastikan tidak akan mendapat banyak suara. Seperti dikatakan Chomsky (liat video), kurang lebih, “Kalau memilih capres independen, artinya mengalihkan dukungan dari Hillary, dan membuat Trump menang.” Sungguh ironis, Chomsky, dikenal sebagai pengkritik utama kebijakan perang AS, kini secara terang-terangan mendukung Hillary, sosok yang dipastikan akan melanjutkan kebijakan perang AS. Tentu, ada “sesuatu” di balik Chomsky, terlalu panjang ditulis di sini. Yang jelas, buat dia, “Daripada Trump menang, mending kalian pilih Hillary deh!”  Trump, menurut cerita media mainstream, adalah sosok amat buruk.

Seorang teman, warga AS muslim, menulis kegalauannya di FB, “Kalau pilih Hillary, sudah pasti perang di negara-negara Muslim akan terus berlanjut, tapi kalau pilih Trump, mungkin cuma kami saja warga muslim di AS yang akan sengsara.” Padahal, ya belum tentu juga. Rekam jejak Obama membuktikannya.

Lalu apa hubungannya dengan Ahok?

pilkada-jakartaDari sisi situasinya: mirip sekali. Sejak pilpres 2014, masyarakat Indonesia seolah berubah drastis, hanya mampu berpikir “oposisi biner” : kalo enggak A, pasti B. Kalau kamu kritik Jokowi, kamu pasti antek Prabowo. Kalau kamu kritik Ahmad Dhani,PKS, apalagi Prabowo, pasti kamu kecebong. Kalau kamu kritik penggusuran yang dilakukan Ahok, kamu pasti anteknya Anies, atau Agus. Dst.

Banyak orang tidak mampu berpikir by issue (per-topik). Contohnya, mengkritik Ahok soal penggusuran tidak sama dengan mengabaikan prestasinya di bidang penataan birokrasi. Mengkritik penggusuran adalah menggunakan “mata ekonomi-politik”, siapapun gubernurnya akan terkritik, bila konsisten menggunakan mata ini. Dengan “mata ekonomi-politik” pula, kita akan melihat calon-calon lain dengan cara berbeda, tidak sebatas membahas isu-isu remeh yang banyak diangkat seleb medsos dan para fansnya untuk rame-rame menertawakan lawan-lawan jagoan masing-masing (menurut saya ini sebuah cara berpolitik yang memuakkan).

Perspektif ekonomi-politik akan mengkritisi Sandiaga soal rekam jejaknya di dunia tambang. Yang paling mutakhir, perusahaan tambang emas Sandi di Bayuwangi telah membuat rakyat sengsara. Tak bisa dipungkiri, Sandiaga adalah bagian dari kelas kapitalis elit, semua juga tahu. Lalu Anies? Dia banyak dikagumi–termasuk saya- atas inovasinya, Indonesia Mengajar. Tapi, dari perspektif ekonomi-politik, Anies bukan sosok ideal karena dia tidak pernah melakukan perlawanan terhadap kapitalisme AS. Bahkan salah satu donatur Indonesia Mengajar adalah Chevron. Silahkan cari siapa pemilik sahamnya, akan ketemu dua nama besar yang selalu ada di balik berbagai konflik di Timteng. Lalu Agus? Semua tahu bahwa Dinasti Cikeas identik dengan kata-kata ini:  AS adalah negara kedua saya, Century, dan Hambalang.

So, dengan perspektif ini, tidak ada yang ideal. Semuanya berasal dari kelas borjuis, yang tidak akan melakukan perubahan fundamental di negeri ini. Persis saya tulis di blog ini dua tahun lalu, baik Jokowi maupun Prabowo sebenarnya berada di kelas yang sama, borjuis, sehingga sulit berharap kebijakan mereka akan keluar dari kelasnya (saya mempelajari model analisis seperti ini dari sini meski saya bukan pemikir “kiri”).

Lalu, milih siapa dong? Ya terserah. Karena saya tidak sedang menulis pilihan, atau menyodorkan pilihan. Yang saya (dan banyak penulis lain) lakukan adalah membahas isu-isu fundamental dengan tujuan pembelajaran. Perubahan sosial hanya bisa terjadi melalui pencerahan mengenai bagaimana dunia kita berjalan.

Nah, aura saat membahas pilkada di medsos mirip dengan saat membahas AS. Kalau orang yang menulis soal rekam jejak kejahatan perang Hillary di medsos, ada saja yang nyolot, menuduh si penulis mendukung Trump. Seolah di dunia ini cuma ada dua pilihan: lo kritik Hillary, artinya lo antek Trump.

Rekam Jejak Hillary

Di bagian akhir tulisan ini, saya posting sebuah video yang memperlihatkan rekam jejak Hillary yang merupakan pendukung perang sejati, sejak awal karir politiknya. Di menit 1:29, dia mengakui bahwa AS membentuk mujahidin di Afghanistan. Merekalah cikal bakal jihadis, termasuk ISIS, yang kini memporak-porandakan negeri indah bernama Suriah. Hillary di menit 2:01 berkata, “Inilah waktunya bagi Suriah untuk melakukan transisi demokrasi, inilah waktunya bagi Assad untuk pergi.”

Transisi demokrasi, dengan mendukung mujahidin yang memimpikan khilafah? Adakah yang lebih absurd? Tidak absurd, bila kita merunut lagi sejarah berdirinya ormas-ormas yang getol bicara soal khilafah itu. Semua akan kembali ke kantong yang sama.

Mujahidin jugalah yang memulai perang terhadap Qaddafi pada 2011. Eksekusi finalnya dilakukan AS bersama NATO. Dan Hillary di menit 2:28 berkomentar soal Qaddafi, “We came, we saw, he died,” [kami datang, kami lihat, dia mati] lalu tertawa terbahak.

Di menit 10:48, ada kata-kata penting yang perlu digaris bawahi, yang terkait dengan “berpikir fundamental” ini; yang akan membawa kita lepas dari sikap “oposisi biner”. Penulis buku Queen of Chaos, Diane Johnston, menyatakan, Hillary harus dilihat sebagai instrumen yang dimanfaatkan oleh lembaga think-thank Washington, yang dibaliknya ada para pialang Wall Street yang ingin menjerumuskan AS ke dalam perang illegal lebih banyak lagi. Artinya, kalaupun bukan Hillary yang naik, sang pialang akan (sudah) menaruh sahamnya di kandidat lain. Fenomena Obama akan terulang.

Berikut ini videonya. Semoga setelah saya “berbusa-busa” menulis pengantarnya, tidak ada yang nyolot, “Jadi, maksud lo, mendingan si Trump?!”

*datanya semula ada di official web USAID tapi kini sudah dihapus, tapi jejaknya masih bisa digoogling; bisa dilihat juga di buku Kudeta Putih (karya Syamsul Hadi dan Salamuddin Daeng dkk).

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: