Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Trump Menang, Heran?

Trump Menang, Heran?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

trump-menangPembuat film dokumenter papan atas Amerika, Michael Moore, sejak bulan Juli sudah menulis dalam website pribadinya bahwa kandidat presiden AS, Donald Trump, akan menang. Moore bukan pendukung Trump, bahkan di artikelnya itu dia berharap prediksinya salah dan ia terang-terangan menyatakan dukungan pada Hillary. Dia juga menulis artikel lain yang mengecam Trump. Jadi, saya pikir, ini prediksi yang didasarkan pada pengetahuannya yang mendalam tentang watak warga AS. Ada 5 alasan yang dikemukakan Moore untuk prediksinya itu, yaitu:

1.Negara bagian Michigan kemungkinan besar akan memilih Trump karena sebagian besar mereka pro-Partai Republik. Mungkin karena Trump mengangkat isu ekonomi nasional (dukungan pada produk lokal), sementara Clinton mendukung globalisasi ekonomi (NAFTA, TPP) yang telah menghancurkan industri di Upper Midwest. Trump bahkan sudah mengancam Ford Motor yang berencana menutup pabrik di AS dan memindahkan ke Mexico, ia akan menetapkan pajak 35% untuk mobil produk Mexico yang diekspor ke AS. Ia juga mengancam Apple agar menutup pabriknya di China dan memindahkannya ke AS. Dalam pemilu 2012, kandidat Partai Republik, Mitt Romney, kalah di 64 electoral. Kemungkinan kelas pekerja di Michigan, Ohio, Pennsylvania dan Wisconsin memilih Trump, jumlahnya 64 elektoral. Negara-negara bagian “merah” mulai dari Idaho hingga Georgia yang masih memegang nilai tradisi tidak akan memilih Hillary Clinton

2. Kaum pria merasa terancam oleh naiknya seorang perempuan. Pria telah mendominasi AS selama 240 tahun dan mereka sangat takut dominasi ini akan berakhir. “Seorang wanita akan berkuasa! Bagaimana hal ini terjadi?! Sudah ada tanda-tanda tepat di depan kita, tapi kita tak memedulikannya. Perempuan telah berdeklarasi bahwa dominasi kita telah berakhir!”, demikian yang ada di pikiran mereka.

3. Hillary mendukung Perang Irak. Inilah masalah terbesar kita [warga AS], masalah terbesar ada pada Hillary, bukan Trump. Dia adalah sosok yang tidak populer— hampir 70% pemilih menyatakan bahwa dia tidak dapat dipercaya dan tidak jujur. Dia merepresentasikan cara politik lama, yaitu hanya memikirkan bagaimana caranya agar Anda mau memilih dia. Itulah mengapa dulu Hillary menolak pernikahan sesama jenis, namun kini ia mendukung. Tidak ada pendukung Demokrat yang akan memilihnya dengan antusias pada 8 November nanti, seantusias saat mereka memilih Obama atau Bernie.

4. Bernie Sanders [kandidat dari Partai Demokrat, pesaing Hillary, namun akhirnya tersingkir] memiliki pendukung yang ‘depresi’. Mereka mungkin akan memilih Hillary, tetapi mereka tidak pernah mempromosikan Hillary kepada lingkungannya dan tidak menjelaskan dengan antusias mengapa mereka memilih Hillary. Sebagian mereka akan memilih partai ketiga, tapi banyak dari mereka yang hanya diam di rumah.

5. Ada jutaan rakyat AS yang marah terhadap sistem politik Amerika sehingga mereka akan memilih Trump. Mereka memilih Trump bukan karena mereka setuju padanya, namun karena mereka sangat kesal terhadap sistem politik yang buruk. Mereka sengaja memilihnya sebagai sebuah candaan. Ingat dulu tahun ’90 an ketika rakyat Minnesota memilih seorang penggulat profesional bernama Jesse Ventura sebagai pemimpin mereka? Mereka tidak melakukan itu karena mereka bodoh atau berpikir Jesse Ventura adalah seorang intelektual politik. Mereka memilihnya karena mereka bisa. Minnesota adalah salah satu kawasan dengan penduduk paling pintar. Penduduknya memiliki rasa humor yang gelap— dan memilih Ventura adalah versi mereka dalam mempraktikkan candaan dalam sistem politik yang memuakkan. Hal ini akan terjadi lagi dengan Trump.

Dan ternyata, prediksi Moore menjadi kenyataan.

Banyak orang Indonesia yang mengkhawatirkan kemenangan Trump, terutama karena Trump berkali-kali menyuarakan sikap anti-Muslim dalam kampanyenya. Orang-orang AS juga mengadakan aksi demo memprotes kemenangan Trump (baca di sini), dari poster yang dipegang demonstran, ada tulisan “facist”.
Tapi benarkah demikian? Joke berikut ini (saya tidak tahu sumber awalnya, saya copas dari fb teman saya Efi Widiawati) dengan sangat baik menggambarkan situasi asli politik AS, siapa yang berkuasa sebenarnya. Sehingga, apapun retorika Trump ketika kampanye, tidak bisa dipercaya begitu saja akan ia realisasikan.

Trump’s first day at the Oval Office after being elected President.

First briefing by the CIA, Pentagon, FBI:

Trump: We must destroy ISIS immediately. No delays.

CIA: We cannot do that, sir. We created them along with Turkey, Saudi, Qatar and others.

Trump: The Democrats created them.

CIA: We created ISIS, sir. You need them or else you would lose funding from the natural gas lobby.

Trump: Stop funding Pakistan. Let India deal with them.

CIA: We can’t do that.

Trump: Why is that?

CIA: India will cut Balochistan out of Pak.

Trump: I don’t care.

CIA: India will have peace in Kashmir. They will stop buying our weapons. They will become a superpower. We have to fund Pakistan to keep India busy in Kashmir.

Trump: But you have to destroy the Taliban.

CIA: Sir, we can’t do that. We created the Taliban to keep Russia in check during the 80s. Now they are keeping Pakistan busy and away from their nukes.

Trump: We have to destroy terror sponsoring regimes in the Middle East. Let us start with the Saudis.

Pentagon: Sir, we can’t do that. We created those regimes because we wanted their oil. We can’t have democracy there, otherwise their people will get that oil – and we cannot let their people own it.

Trump: Then, let us invade Iran.

Pentagon: We cannot do that either, sir.

Trump: Why not?

CIA: We are talking to them, sir.

Trump: What? Why?

CIA: We want our Stealth Drones back. If we attack them, Russia will obliterate us as they did to our buddy ISIS in Syria. Besides we need Iran to keep Israel in check.

Trump: Then let us invade Iraq again.

CIA: Sir, our friends (ISIS) are already occupying 1/3rd of Iraq.

Trump: Why not the whole of Iraq?

CIA: We need the Shi’ite govt of Iraq to keep ISIS in check.

Trump: I am banning Muslims from entering US.

FBI: We can’t do that.

Trump: Why not?

FBI: Then our own population will become fearless.

Trump: I am deporting all illegal immigrants to south of the border.

Border patrol: You can’t do that, sir.

Trump: Why not?

Border patrol: If they’re gone, who will build the wall?

Trump: I am banning H1B visas.

USCIS: You cannot do that.

Trump: Why?

Chief of Staff: If you do so, we’ll have to outsource White House operations to Bangalore. Which is in India.

Trump (sweating profusely by now): What the hell should I do as President???

CIA: Enjoy the White House, sir! We will take care of the rest!

Untuk politik luar negeri AS terhadap Timur Tengah, saya kira tidak akan ada perubahan kebijakan yang drastis. Tapi hasilnya, who knows? Selalu ada kemungkinan keajaiban, seperti dulu AS kalah dan angkat kaki dari Vietnam; atau upaya kudeta AS di Iran yang gagal karena tiba-tiba saja ada angin topan yang menghancurkan pesawat-pesawat tempur AS, di kawasan Tabas.

Silahkan unduh file buku saya Obama Revealed, supaya bisa menelaah bahwa haluan politik luar negeri AS tidak akan berubah, siapapun presidennya; yang berubah cuma retorika dan gaya. Unduh di sini

(Terjemahan tulisan Michael Moore saya copas dari sini)

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: