Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Penindasan Rohingya, Hoax atau Bukan?

Penindasan Rohingya, Hoax atau Bukan?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
pengungsi-rohingya-di-aceh

pengungsi Rohingya di Aceh (viva.co.id)

Sejujurnya, saya tidak ahli soal Myanmar. Membaca sejarahnya yang panjang dan rumit, dengan nama-nama yang terasa asing buat saya, membuat saya pusing. Karena itu dua hari ini di facebook saya cuma sharing tulisan orang (yang menurut saya tulisannya bisa dipercaya) soal sejarah Myanmar. Kenapa harus tau sejarahnya? Karena menganalisis konflik tidak bisa ujug-ujug pada momen tertentu saja.

Lalu bagaimana dengan isu akhir-akhir ini yang heboh disebar di medsos (orang-orang Rohingya dibakar hidup2, dll)? Saya juga tidak tahu. Yang jelas, terbukti beberapa foto yang disebarkan adalah hoax. Tentu perlu dikirim peneliti ke sana (misalnya, dari Human Right Watch dan sejenisnya) dan kita tunggu hasilnya.

Lalu, kemarin Dubes Indonesia untuk Myanmar menyatakan bahwa isu soal Rohingya “tidak sepenuhnya benar”. Ini saya copas sebagian beritanya.

“Dia [Dubes Ito] bersama belasan perwakilan negara lainnya di Myanmar juga sudah diajak oleh pemerintah setempat menyaksikan kampung-kampung etnis Rohingya yang disebut dibakar dan masyarakatnya dibantai. Pada kenyataannya kata Ito tak demikian sepenuhnya.
….saat ini memang sedang dilakukan operasi keamanan oleh militer di Myanmar menyusul penyerangan terhadap sejumlah pos keamanan di utara negara tersebut. Dikhawatirkan ekses operasi militer itu memang bisa mengarah pada kekerasan terhadap warga Rohingya.”

Ada dua hal yang perlu dikritisi di sini. Pertama, isu soal pembantaian di Rohingya tidak hanya beredar di Indonesia, ini sudah jadi isu internasional dan karena itulah direspon oleh pemerintah Myanmar dengan mengundang para diplomat untuk melihat sikon sesungguhnya.

Kedua, kesalahan dilemparkan kepada “kelompok radikal” yang menyerang pos keamanan lalu dibalas oleh militer Myanmar dan “dikhawatirkan ekses [pengaruh]-nya mengarah pada kekerasan terhadap warga Rohingya”.

Poin kedua ini khas diplomat banget yah, memperhalus bahasa. Apa maksudnya ‘dikhawatirkan’? Kenapa tidak jelas-jelas saja, ada warga sipil yang mengalami kekerasan atau tidak? Tapi bisa dipahami, Myanmar berani mengajak para diplomat ke lokasi tentu ketika lokasinya memang ‘bersih’.

Nah, menyikapi ini, penting untuk menengok kembali sejarahnya dan melihat konteksnya. Selama ini, apa yang sudah terjadi pada orang Rohingya? Yang jelas, sikap resmi pemerintah Myanmar adalah TIDAK MENGAKUI orang Rohingya warga mereka dan karena itu hak-hak asasi mereka tidak dipenuhi. Saya pernah menulis paper soal Myanmar dalam konferensi intl di Jogja, antara lain saya mencatat pernyataan pemerintah Myanmar (ingat, ini data valid yang bisa digunakan dalam analisis). Ketika Indonesia dan Malaysia menyatakan akan menerima pengungsi Rohingya (karena adanya tekanan publik di kedua negara), pemerintah Myanmar malah cuci tangan dan mengatakan, “Sudah sangat jelas bahwa Myanmar bukan sumber dari problem terkait manusia perahu di Laut Andaman,” kata Zaw Htay, deputy director of the office of President Thein Sein.

Statement ini disampaikan Zaw Htay setelah heboh kasus manusia perahu Rohingya tahun 2015 (sebagiannya diselamatkan nelayan Aceh) dan PM Thailand Prayuth Chan-ocha mengajak Myanmar untuk hadir dalam pertemuan Thai-Indonesia-Malaysia untuk membicarakan kasus ini. Myanmar menolak bertemu. Ibu Menlu kita yang keren itu kemudian langsung datang ke Naypyidaw untuk membujuk pemerintah Myanmar agar mau ikut pertemuan tersebut. Di hari yang sama, Wakil Menlu AS, Antony J. Blinken, juga datang ke Myanmar dan bertemu Presiden Thein Sein dan panglima militer, Jend. Min Aung Hlaing. Setelah itulah, Myanmar menyatakan siap hadir di pertemuan tersebut asal negara-negara lain menggunakan istilah “illegal migrant”, bukan “Rohingya.”

Terlihat kan, betapa songongnya pemerintah Myanmar?

Singkat kata, orang-orang Rohingya memang tertindas, mau sejarahnya gimana, mau mereka memang asli Myanmar atau tidak. In fact, mereka tertindas. Perdebatan soal ‘asal-usul’ ini mengingatkan saya para orang-orang yang berusaha membela Israel dengan mengutak-atik sejarah, demi membuktikan warga Palestina itu bukan “penduduk sah” tanah Palestina atau “gara-gara Hamas menyerang Israel, makanya Israel membalas dengan membombardir Gaza”.

Bagaimana solusinya? Menurut saya cuma satu: AS, China, ASEAN kompak menekan Myanmar, termasuk mengembargonya. Tapi itu tidak akan mau mereka lakukan karena masing-masing punya kepentingan ekonomi sendiri.

Lalu Indonesia, ngapain? Nah ini yang penting. Indonesia terbukti selama 10 tahun masa pemerintahan SBY tidak berhasil menekan Myanmar agar mau mengakui hak-hak asasi orang Rohingya. Diplomasi kita sudah habis-habisan (istilah bu Menlu kesayangan saya itu: “sudah extramile”) untuk Myanmar. Bahkan agar Myanmar mau datang ke perundingan saja, musti Wakil Menlu AS yang datang memaksa.

Trus, kalau pemerintah negara lain songong setengah mati gitu, masak kalian ribut bener menyalah-nyalahkan pemerintah sendiri?

Yang aneh juga buat saya, mengapa ya, untuk orang Rohingya orang Indonesia sedemikian emosional, tetapi ketika para petani dan nelayan di negeri sendiri digusur di sana-sini demi “pembangunan” kok responnya sayup-sayup tak sampai?

Tentu simpati boleh, tapi jangan menyebar hoax dan kebencian. Di setiap agama (termasuk Islam) selalu ada golongan fanatik kelas berat (lalu ditunggangi oleh politik). Mau bantu uang juga silahkan. Hanya, hati-hati saja saat memilih lembaganya, soalnya saya dapat info ada lembaga-lembaga yang tidak amanah. Saya merekomendasikan MER-C karena di Myanmar selama ini mereka bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan terbukti uang yang didonasikan masyarakat kepada mereka memang “jadi” dan “kelihatan”.

Demikian.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: