Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

Medsos Adalah Fana, Kebencian Abadi?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

isis1Kalimat yang saya pakai jadi judul itu saya ambil dari status seseorang yang nge-tag saya. Saya baca dini hari ketika suasana sepi, sehingga membuat saya mikir lama. Saya teringat cerita yang disampaikan seorang dosen Sejarah Peradaban Islam. Dulu, orang menerima kabar dari mulut ke mulut. Dulu banyak orang-orang Syam (Suriah saat ini) yang membenci Sayyidina Ali bin Abi Thalib karena mengiranya sebagai sosok yang meninggalkan sholat. Sampai suatu hari, Ali ditikam/dibunuh orang (yang agamanya Islam juga) di saat beliau sedang sholat Subuh. Kabar itu akhirnya sampai ke Syam dan orang-orang pun kaget, lho ternyata Ali itu sholat, tho?

Dulu, sebelum Revolusi Islam Iran 1979, buku-buku yang ditulis tentang “kesesatan Syiah” sangat sedikit dan dulu tidak ada perseteruan politik antara Sunni-Syiah. Yang ada, oposisi versus penguasa. Makanya ada istilah “rafidhah” (penolak) yang disematkan kepada kelompok oposisi. Pokoknya, kalau melawan penguasa, pastilah kamu Rafidhah, apapun mazhabnya. Dan rupanya, karena sebagian kaum Syiah di zaman dulu menjadi oposisi penguasa, akhirnya Rafidhah diidentikkan dengan Syiah dan kebencian disebarluaskan kepada Syiah. So, akarnya politik, ketakutan pada oposisi, keinginan untuk mempertahankan kekuasaan. Penguasanya boleh mati, tapi kebencian terus menurun kepada generasi berikutnya.

iran-saudi

Ketika Shah Reza Pahlevi masih berkuasa, Arab Saudi berhubungan baik dengan Iran. Saat Shah Reza datang ke Saudi, Pangeran Salman bahkan menyambutnya sambil menari. Tapi setelah Ayatullah Khomeini berkuasa, tiba-tiba saja Syiah disebut kafir. Padahal Shah Reza kan Syiah juga. Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa kafir tidaknya Syiah semata-mata urusan politik. Setelah Iran jadi Republik Islam dan memutuskan hubungan diplomatik dengan AS, buku-buku anti Syiah (buku agama) diproduksi secara masif dalam berbagai bahasa (disponsori Arab Saudi, sekutu AS). Ulama-ulama didikan Saudi disebarkan ke berbagai penjuru dunia membawa narasi Syiah bukan Islam. Untungnya banyak ulama yang lurus dan menyadari resiko yang besar jika umat Islam terus-menerus diadu domba seperti ini. Mereka pun menandatangani Risalah Amman pada 2005 yang antara lain menyatakan bahwa Syiah adalah bagian dari Islam. [ammanmessage.com, terjemahannya antara lain bisa baca di sini .

Tapi karena politik pula, ulama besar yang dulu menandatangani Risalah Amman dan berhubungan baik dengan Iran, Syekh Yusuf Qardhawi, pada 2013 mengeluarkan fatwa untuk memerangi/membunuh warga sipil, ulama, dan tentara Suriah yang mendukung Bashar Assad. Sulit diterima akal sehat, bukankah dalam Islam, perang itu ada etikanya? Bahkan sumber air dan pohon pun harus dijaga, lalu mengapa warga sipil dan ulama boleh diperangi/dibunuh?

Di era internet, media yang dipakai untuk menyebarkan kebencian adalah media online yang jangkauannya jauh lebih masif dan mengglobal. Tak heran bila sebuah negara (Suriah) bisa hancur gara-gara ini.
Baru-baru ini, Tim Cyber NU merilis daftar 208 situs radikal . Saya tertegun membacanya, situs sebanyak itu? Bagaimana melawan ujaran kebencian yang mereka sebarkan setiap hari dengan amat masif, dengan berbungkus agama? Mereka bukannya memberikan pencerahan tentang bagaimana bangsa ini bisa maju, tetapi bagaimana agar semakin membenci.

Di video berikut saya sandingkan “fatwa” Yusuf Qardhawi, dan jawaban dari Mufti Suriah, Syekh Hassoun. (FYI, keduanya sama-sama Ahlus-sunnah). Semoga bisa membuat kita waspada, betapa kata-kata kebencian bisa menghancurkan sebuah negara dan mari bergerak menjadi agen perdamaian.

Saya optimis, bila kita semua bergerak, kalimat di judul bisa kita ubah menjadi “kebencian adalah fana, sedang cinta itu abadi”. Karena, setan (sumber kebencian) itu makhluk fana, sedangkan Tuhan Sang Pengasih adalah abadi.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: