Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » REFLEKSI 2016: Year of Lies?

REFLEKSI 2016: Year of Lies?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Robert Fisk, jurnalis Inggris terkemuka, menulis artikel panjang pada 29 Des 2016 berjudul “We are not living in a ‘post-truth’ world, we are living the lies of others”.

Saya terjemahkan bagian yang terkait dengan Suriah & Palestina; kata dalam […] dari saya:

Penggunaan media sosial dalam memberitakan pertempuran di timur Aleppo menjadi luar biasa, aneh, berbahaya, dan bahkan mematikan, ketika tidak ada satu pun jurnalis Barat yang melaporkannya dari tangan pertama, dari lapangan. Kredibilitas jurnalisme -dan politisi- telah sangat rusak akibat penerimaan pada satu sisi cerita karena tidak ada satu pun reporter yang bisa mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan.

Kita [masyarakat Barat] menyerahkan jurnalisme kepada media sosial, dan kepada milisi bersenjata yang mengontrol wilayah itu; dan para “reporter” ini tahu mereka bisa melakukan trik yang sama di masa yang akan datang. Mereka akan melakukannya lagi, di Idlib. Tapi masalah ini di Idlib tidak sekedar masalah pada sebuah provinsi di Suriah. Ini adalah masalah tentang kelenturan fakta [fakta bisa dibentuk semaunya] di seluruh Timur Tengah.

Angka 250.000 Muslim yang “terjebak” di Aleppo timur – kini 31.000 memilih untuk pergi ke Idlib, lebih banyak lagi yang pergi ke Aleppo Barat – terlihat lebih sedikit dari 90.000. Saat ini mungkin angka minimal 160.000 pun [yang disebut-sebut media Barat] tidak ada sebenarnya, tetapi tidak ada yang menyatakannya. Statistik vital menyebut angka 250.000 yang sangat ditekankan dalam setiap laporan mengenai “blokade Aleppo timur” saat ini dilupakan atau diabaikan oleh mereka yang mengutipnya.

Apakah ada yang melaporkan kepada kita tentang bagaimana [nasib] warga Palmyra ketika kini ISIS kembali ke sana? Dan bagaimana dengan Mosul? Tidakkah kita ingin membebaskan satu juta warga sipil yang ditahan di sana oleh para jihadis; bukankah mereka juga layak diselamatkan, seperti 250.000, 100.000, atau 90.000, atau kurang dari itu, rakyat sipil yang terjebak di Aleppo timur?

Bagaimana mungkin kita mengeluhkan tentang kebohongan Trump dan Brexiteers ketika kita, para jurnalis, memotong-motong fakta di Timur Tengah? Saya juga menyadari bahwa koran dan televisi kita masih menyebut tembok pembatas Israel sebagai “pagar keamanan”; daerah penjajahannya disebut “permukiman”; “wilayah permukiman yang sedang disengketakan” bukannya “permukiman illegal”.

Apakah kita benar-benar bisa menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya pada [kasus] kebohongan pemilu ketika kita telah membohongi pembaca dan pemirsa kita selama bertahun-tahun?

Komentar saya: kalau jurnalis media mainstream saja sudah mengaku bahwa media mereka sering menyiarkan kebohongan, masak kamu masih percaya saja pada mereka tanpa cek n ricek? Berita-berita internasional yang dibuat oleh media-media terkemuka di Indonesia pun umumnya berupa penerjemahan berita dari media-media Barat itu. Media-media Islam radikal pun sebenarnya melakukan kesalahan yang sama seperti yang disebut Fisk: menyandarkan informasi dari satu pihak yang bertikai [Al Qaida/ISIS].

Semoga di tahun 2017 ini, kita semua bisa lebih bijak dan lebih cerdas dalam menyaring informasi. Amin.

——

-Ini ada video wawancara Carla Ortiz, artis AS yang tinggal di Suriah selama 8 bulan membuat film dokumenter Voice of Syria (kemungkinan rilis Maret 2017). Dalam wawancara ini, Carla bercerita: setelah dia menulis di facebook bantahan atas propaganda dahsyat melalui twitter mengenai “genosida di Aleppo” (karena saat itu dia juga sedang di Aleppo), ada upaya penculikan pada dirinya. Tapi dia diselamatkan oleh warga sipil dan tentara Suriah. Mereka berhasil membantu Carla dan timnya keluar dari Aleppo. Mereka berpesan pada Carla, “Please, saat kamu kembali ke AS, katakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi.”

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: