Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Trump dan Era Post-Truth (Pasca Kebenaran)

Trump dan Era Post-Truth (Pasca Kebenaran)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

trumpMenyambung tulisan saya sebelumnya soal Hoax CNN dan Trump, saya ingin membahas sesuatu yang agak filosofis. Kemenangan Trump bikin banyak orang baper, termasuk orang-orang Indonesia (di fesbuk, minimalnya). Ada yang kuatir bahwa Trump akan dengan mudah menekan tombol perang nuklir (padahal yg selama ini sesumbar akan menuklir Iran adalah Hillary), ada yang kuatir rasisme akan semakin merebak di AS, dll.

Tapi, memang kemenangan Trump di luar dugaan banyak orang karena media mainstream AS habis-habisan membully Trump. Ada TV yang menyiarkan acara kuis yang menjelek-jelekkan Trump atau menyamakan wajah Trump dengan monyet. Ada koran terkenal menurunkan tulisan dengan judul “Trump, kandidat sampah”. Ada USA Today yang menyerukan, “Plis pilih siapa aja asal jangan Trump”. Sebaliknya, Hillary mendapatkan dukungan penuh dari media mainstream. Jadi, secara teori memang seharusnya Hillary yang menang.

Dan ketika akhirnya Trump menang, media massa mainstream dan para analis papan atas AS, termasuk juga Presiden Obama, segera menuduh ini akibat merebaknya fake news atau hoax yang disebarkan oleh media-media non-mainstream, yang “memfitnah” Hillary. Sebagian orang menggunakan kata “post-truth” (pasca kebenaran). Kata ini sedemikian sering dipakai sehingga kamus bahasa Inggris Oxford menobatkan post-truth sebagai “kata tahun ini”.

Rakyat AS (para pemilih Trump) konon adalah orang-orang yang secara riil mengalami rasa takut atas masa depan mereka yang terancam oleh globalisasi, frustasi melihat banyaknya imigran yang mengambil alih pekerjaan mereka, dan frustasi atas berbagai persoalan ekonomi yang membelit mereka. Bagi mereka, tidak penting Trump berbohong atau tidak, tetapi yang dikatakannya cocok dengan apa yang diinginkan oleh para pemilihnya. Itulah sebabnya Trump menang, kata para analis itu. Dengan kata lain, pemilih Trump adalah orang-orang yang termakan hoax soal Hillary.

Professor Lahcen Haddad dalam tulisannya di Aljazeera menulis bahwa dalam era “pasca kebenaran”, upaya-upaya pemutarbalikan, atau bahkan rekayasa fakta, dianggap sah karena yang terpenting bukanlah kebenaran objektif, melainkan perasaan takut, marah, atau frustasi. Post truth adalah kebenaran tanpa fakta: orang-orang meyakini kebenaran atas sesuatu karena secara emosional mereka yakin bahwa itulah yang benar. Dengan kata lain, di era post-truth ini, kebenaran muncul dalam banyak wajah. Dan orang cenderung memilih kebenaran yang sesuai dengan emosinya.

Tapi, justru inilah yang penting kita pikirkan dalam situasi ini: bahwa ada banyak versi kebenaran. Bahwa ada banyak orang memilih Trump berdasarkan kebenaran yang mereka yakini. Bahwa ada masalah dengan globalisasi, pabrik-pabrik besar AS lebih suka membuka pabrik di China atau Vietnam, tanpa peduli nasib buruh-buruh di AS, adalah fakta. Dan yang menarik, saya amati status-status para pendukung Trump, banyak yang bukan pro-Trump tapi mereka melihat “kebenaran” lain soal Hillary.

Dalam video ini, saya mengkontraskan dua versi kebenaran itu. Pidato Meryl Streep yang mengecam perilaku kasar Trump dalam orasi-orasinya; dan video yang memanfaatkan kekasaran Trump sebagai materi kampanye Hillary (dengan kata2: apakah ini presiden yang Anda inginkan untuk anak-anak perempuan kita?). Well, kekasaran Trump memang fakta. Tapi ada fakta lain yang terabaikan oleh pendukung Hillary: bukankah Hillary pembunuh berdarah dingin? Di akhir video ada wawancara Hillary soal Libya, “Kami datang, kami lihat, dan dia mati, hahaha…”

(klik link ini utk lihat video)

https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2F233756860383910%2Fvideos%2F244864625939800%2F&show_text=0&width=400

Saat Hillary menjabat Menlu, ia menyetujui 30.000 bom dijatuhkan di Libya, minimalnya 60.000 warga sipil tewas. Selama Obama menjadi Presiden, rata-rata tiap jam AS menjatuhkan 3 bom di 7 negara yang diperanginya. Tapi fakta terlupakan hanya karena Obama menangis terharu memuji istrinya, atau Hillary memeluk anak perempuan.

Jadi, bagaimana menyikapi era post-truth ini (yang juga merebak di Indonesia, terlihat dari sangat banyaknya hoax dan beragamnya versi kebenaran)?

Seperti sering saya tulis: gunakan perspektif yang lebih luas, lihat peta besarnya, supaya kita bisa mendudukkan semua aktor pada tempat masing-masing. []

Dan dengan perspektif ini pula, meskipun bersyukur si haus perang Hillary tidak terpilih, tapi saya juga tidak berharap banyak pada Trump. Silahkan unduh file buku saya Obama Revealed untuk mengetahui bagaimana struktur politik AS dan saya tidak percaya Trump bisa membebaskan diri dari struktur tersebut. http://ic-mes.org/politics/unduh-gratis-obama-revealed/

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: