Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Balik ke Indonesia

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
kekeringan-sukabumi-620x330

warga menderita kekeringan (beritadaerah.co.id)

Barusan saya menonton film dokumenter, ada sebuah desa di Jawa Barat yang kaya sumber air bersih, kini kesulitan air. Ada ratusan perusahaan menyedot air di kabupaten dimana desa tsb berada. Perusahaan terbanyak yang menyedot air di sana adalah perusahaan air mineral terkenal. Produknya dijual ke berbagai penjuru Indonesia dan per tahun meraih keuntungan triliunan rupiah. Sementara, warga sekitar harus mandi dan mencuci di air yang keruh.[1]

Dan kalau dicek, siapa pemilik saham perusahaan air minum tersebut, ternyata sebuah perusahaan milik asing, yang masuk daftar boikot Zionis.[2]

Jadi begini, di dunia ini ada gerakan boikot produk-produk perusahaan yang berinvestasi di Israel atau terbukti mengirimkan dana untuk Israel. Kok bisa tahu? Karena di Barat transparansi informasi cukup bagus, jadi bisa dilacak. Jadi, ini bukan gerakan asal boikot atau asal-benci-Yahudi. Yang diboikot adalah perusahaan yang memberi keuntungan kepada Israel.

Mengapa harus diboikot? Karena dengan cara ini, diharapkan ekonomi Israel goyah, lalu rezim Zionis bisa dipaksa menghentikan kejahatannya terhadap warga Palestina. Apakah efektif? Ya, lumayan, ada beberapa perusahaan Israel yang terjepit, akhirnya menekan pemerintahnya agar menghentikan kejahatannya. Tapi baru sebatas itu karena rezim Zionis tak peduli. Namun teknik boikot ini dulu pernah berhasil menggulingkan rezim apartheid di Afrika Selatan.

Lalu, mengapa Palestina harus dibela? Karena inilah satu-satunya negara yang masih terjajah di era modern ini. Di sisi lain, kembali ke cerita di awal, kita bisa melihat bahwa membela Palestina pada hakikatnya membela bangsa kita juga. Melawan perusahaan-perusahaan pro-Zionis ternyata sejatinya membela kepentingan bangsa kita juga. Perusahaan-perusahaan itu melakukan kejahatan di berbagai negara di dunia, lalu mengalirkan keuntungannya ke Israel.

Coba baca buku John Perkins (Confessions of an Economic Hit Man). Kata Perkins, AS selalu mengupayakan agar negara-negara miskin berutang kepadanya.

“Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.”

Halliburton adalah perusahaan yang sangat banyak mengambil keuntungan dari berbagai perang; pemilik sahamnya, antara lain Soros. Perusahaan-perusahaan pro Zionis juga membiayai berbagai lembaga think-tank (pemikiran / penelitian) dan mereka merekomendasikan negara mana saja yang perlu “didemokratisasi”.

Lalu NATO menjadi pelaksana, membombardir Irak, Libya, Suriah, dll. Setelah pemerintah di sana terguling, proyek pembangunan kembali/rekonstruksi jatuh ke tangan mereka. Perusahaan-perusahaan migas terbesar (Big Oil) yang sahamnya dikuasai orang2 Zionis tentu saja yang terbanyak mengeruk keuntungan dari berbagai perang itu.

Kejahatan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Zionis di berbagai penjuru dunia lewat aktivitas ekonomi kotornya, membuat Gilad Atzmon, seorang penulis Yahudi pengkritik Israel,  menyimpulkan, “Kita semua ini adalah bangsa Palestina dan kita memiliki satu musuh yang sama.”[3]

Sayangnya, sejak konflik Suriah, front perlawanan terhadap Israel sudah kacau-balau. Suriah adalah musuh utama Israel. Suplai logistik untuk pejuang Palestina, masuk lewat Suriah. Pengungsi Palestina, ditampung di Suriah.

Tapi karena kebodohan, front terdepan inilah yang dihancurkan oleh mereka yang mengaku berjihad. Dunia pun disibukkan oleh Suriah, Sunni-Syiah, Save Aleppo, dan ini pun merembet dalam kehidupan kita di Indonesia. Kebencian menyebar hingga ke isu-isu politik dalam negeri. Dan ketika bangsa Indonesia kisruh terus-menerus karena isu SARA, siapa lagi yang peduli soal kejahatan perusahaan-perusahaan asing itu?

Lalu, coba dicek, ormas-ormas mana yang getol membawa isu Suriah ke Indonesia dan memanfaatkannya untuk memecah-belah negeri ini serta menyeret-nyeret isu SARA untuk politik dalam negeri? Darimana sumber dana mereka? Akan ketemu nama negara “Islam” yang bersekutu dengan AS dan Israel.

Semoga kawan-kawan bisa melihat peta besarnya.

—-

[1]https://www.youtube.com/watch?v=aa4woL-S_OY

[2]http://worldobserveronline.com/2014/07/27/11-brands-youll-let-go-want-boycott-israel-%E2%80%A2-menzene-com/

[3] lebih lanjut tentang bisnis kotor Israel: https://dinasulaeman.wordpress.com/2012/02/28/israel-inside-2/#more-788

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: