Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » Neoliberalisme dan Timteng

Neoliberalisme dan Timteng

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

zombieDari tulisan sebelumnya (Dari Jabar ke Palestina, Suriah, Lalu Balik ke Indonesia), muncul komentar-komentar yang khas banget, yang sebelumnya sudah sering saya baca. Ini saya tulis dengan kalimat saya sendiri:

“Ya memang demikianlah cara kerja kapitalisme! Wajar dong kalau mereka ingin laba sebesar-besarnya? Mereka udah ngeluarin modal, bikin pabrik, emang gampang bikin pabrik? Kalau ada orang sengsara, miskin, ya itu salah mereka sendiri! Kalau ada yang protes, pasti itu LSM yang ga kebagian duit! Rakyat yang di daerahnya kekeringan, itu salah mereka sendiri, atau salah pemerintah, atau salah pembalakan liar, dll.”

“Timur Tengah berperang, itu salah orang-orang Arab sendiri ga mau bersatu, jangan salahkan Israel! Wajar dong perusahaan-perusahaan Zionis itu berusaha mencari laba sebanyak-banyaknya! Salah sendiri orang Arab bodoh-bodoh, ga bisa bikin ekplorasi minyak sendiri, ga bisa menjadi penemu-penemu hebat kayak orang Israel!”

Saya ingin mengajak sedikit berpikir filosofis. Kita sejak kecil memang dididik dengan cara ini: hidup ini persaingan, dan kalau ada yang kalah, miskin, terpinggirkan, itu salahmu sendiri.

Masalahnya: apakah semua orang bisa bersaing dengan setara? Jelas tidak. Kalau ada perusahaan dengan modal cetek, bersaing dengan perusahaan transnasional dengan modal tak terbatas saking banyaknya, siapa yang menang? Jelas yang modalnya lebih kuat. Ada memang kisah ajaib, modal dengkul tapi bisa berjaya. Tapi secara umum, yang menang adalah pemilik modal besar. Mantan ekonom Bank Dunia, Joseph Stiglitz, dalam bukunya the Discontent of Globalization membahas panjang lebar betapa persaingan ekonomi di dunia ini sangat tidak adil dan banyak orang yang termiskinkan, sementara segelintir menjadi amat kaya.

Tapi karena kita dibesarkan dengan doktrin persaingan/ kompetisi, kita yang menganggap wajar bila sang pemenang mendapat jauh lebih banyak daripada orang-orang kalah. Kita mengagungkan pencapaian kemakmuran sebagai hasil kerja individu, kemenangan dalam kompetisi, dan peningkatan karir. Dogmanya, setiap individu harus bekerja keras dan menang dalam kompetisi bila ingin sukses. Kita pun mudah terkagum-kagum pada hasil industri, tanpa peduli betapa banyaknya korban berjatuhan di baliknya. Kalaupun peduli, kita cari-cari pihak lain yang salah, biasanya sang korban.

Misalnya, terbayang ga, kalau pabrik air mineral tidak ada lagi? Waduh, mau cari air bersih kemana? Masak harus merebus air dulu kayak zaman dulu? Sudahlah, perusahaan itu suruh kasih CSR aja biar rakyat sejahtera, rakyatnya juga diedukasi, biar ga boros air!

Inilah logika neoliberalisme: perusahaan (=kapitalis, pemodal) dipandang sebagai ‘dewa’ yang baik hati, berjasa membuka lapangan kerja, berinvestasi. Jadi, biarkan para pengusaha berusaha secara bebas, nanti rakyat akan mendapatkan ‘tetesan’-nya [tricle down effect] dan ikut makmur. Penelitian Bank Dunia dan IMF menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi saat ini mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah; artinya omong kosong adanya ‘tetesan’ itu.

Bahwa orang-orang Arab ‘bodoh’ (tak punya keunggulan teknologi sehingga kilang-kilang minyaknya dikasih ke perusahaan Zionis), sesederhana itukah? Mereka bodoh, atau dibodohkan? Kalau ada negara yang ingin pintar, menguasai teknologi tinggi (Iran, misalnya), mengapa kok diobok-obok, diembargo, bahkan saintis-saintisnya dibunuh oleh agen Mossad? Coba baca lagi sejarah mengapa Timteng terpecah-belah menjadi negara-negara kecil. Kapan-kapan saya tulis, insyaAllah.

Sekarang saya cuma ingin mengenalkan istilah ‘neoliberalisme’ (yang jarang digunakan dalam analisis mengenai Timteng, melulu isu agama yang dikedepankan). Istilah ini pun sering jadi olok-olok, terutama oleh mereka yang “pinter”. Seorang doktor lulusan Amrik pernah menulis “Neolib itu tidak ada! Hanya digunakan untuk menstigma orang lain!” Ada pula ekonom terkenal yang jelas-jelas melakukan kebijakan neolib, malah mengaku bukan neolib. Tapi memang ini ideologi ‘zombie’, ada tapi tak terasa/terlihat.

Bila kawan-kawan ingin mempelajarinya, bisa dibaca tulisan ini, agak panjang dan sedikit rumit, tapi penerjemahannya sudah diupayakan ‘seencer’ mungkin. Penerjemahnya anak saya, usia 16 tahun 🙂

Neoliberalisme, Doktrin Zombie Sumber Permasalahan Kita

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: