Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Apakah Indonesia Akan Di-Suriah-kan?

Apakah Indonesia Akan Di-Suriah-kan?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

sampang[Copas dari status FB saya]

Pagi-pagi buka FB, menemukan ada friend yang menyatakan bahwa isu Indonesia akan di-Suriah-kan adalah sesuatu yang konyol. Buktinya, sampai sekarang Indonesia baik-baik saja. Sebagai salah satu di antara sedikit orang yang “berdarah-darah” gara-gara nulis soal Suriah sejak 2011, saya merasa perlu menjawab. Sudah saya jawab di status yang bersangkutan. Tapi sepertinya penting juga diketahui umum, jadi saya copas di sini (dengan sejumlah editan).

  1. Pihak yang “berjihad” menggulingkan rezim di Suriah adalah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan ormas-ormas yang didanai Saudi-berafiliasi dg Al Qaida, ISIS, dll. IM (dan HT) pada 1982 pernah berusaha menggulingkan rezim dengan dibantu oleh AS, Jordan, dan Israel, tapi gagal. Yang penting dilihat: ketiga faksi ini ada cabangnya di Indonesia, dan sangat aktif menguasai wacana. Mereka sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap kaum Syiah di Indonesia (mengaitkannya dengan Suriah) sejak 2011. Pada 2012, peristiwa Sampang terjadi, pemerintah tak mampu melakukan rekonsiliasi sampai sekarang.

Dari info A1 yang saya dapatkan, Arab Saudi sejak 2012 juga menggelontorkan dana besar-besaran (bahkan di puncak “panas”-nya isu ini di Indonesia, langsung diantar oleh Bandar bin Sultan, ketua intel Saudi) kepada ormas-ormas itu dengan tujuan “memerangi” Syiah. Sebagai bukti, lihat betapa masifnya spanduk anti-Syiah dipasang di seluruh Indonesia, satu spanduk 200rb, di satu kota saja bisa habis 2M. Ini di seluruh Indonesia. Buku anti-Syiah dicetak jutaan copy, dibagikan gratis. Tentu naif sekali bila mengira Syiah adalah target akhir (krn Syiah di Indonesia sangat sedikit, tidak signifikan). Target besarnya tentu sesuatu yang lain.

  1. Dalam diskusi di Salman, pakar IT, Ismail Fahmi yang meneliti percakapan twitter terkait Save Aleppo Desember 2016 menemukan, tingginya cuitan Save Aleppo bersamaan dengan tingginya cuitan Save Aleppo di dunia, dan ketika di dunia diam, di Indonesia juga diam. Uniknya, ketemu juga bahwa buzzer-buzzer yang mencuit itu ternyata juga mencuit “lengserkan Jokowi”. Kesimpulan saya: isu lengserkan Jokowi ternyata disuarakan oleh pihak yang sama, yang aktif menyuarakan Save Aleppo. Ini hanya sekedar bukti menguatkan poin 1 bahwa Suriah bukan isu organik, melainkan “suruhan”/instruksi dari afiliasi ormas-ormas yang saya sebut itu.

Kelompok yang sama, sejak 2014 juga aktif menyerang pemerintah Jokowi dengan isu agama. Saya terus-terang meresahkan kondisi ini: mengapa orang melulu meributkan pemerintah dari sudut agama, yang hanya akan menyebar kebencian dan konflik? Mengapa isu-isu yang memang harus dikritisi (misalnya konflik agraria) malah diabaikan? Isu-isu struktural, bila dibahas dengan nalar, akan mencerdaskan bangsa. Isu agama dengan bumbu kebencian, hanya memperbodoh umat.

  1. Apakah ormas-ormas transnasional itu akan bikin kerusuhan di Indonesia? Amat bergantung pada ‘kematangan isu” dan “instruksi” dari afiliasi mereka di Timteng. Ini akan berkaitan dengan suplai dana dan senjata. Ormas-ormas itu di Suriah kan tidak “berjihad” sendirian. Selama puluhan tahun mereka “diam”, lalu setelah ada suplai dana dan senjata dari AS dan negara-negara Teluk, baru bergerak. Di Indonesia, isunya alhamdulillah tidak pernah “matang”. Jangan meremehkan para “pejuang” medsos yang berdarah-darah sejak 2012 membongkar hoax-hoax soal Suriah. Kalau selama ini mereka diam saja, entah apa yang terjadi hari ini.
  1. Apa di Indonesia akan terjadi chaos ala Suriah? Entahlah. Saya sendiri tidak pernah menyebut bahwa Indonesia akan di-Suriah-kan, tetapi selalu mengatakan: jangan sampai konflik ala Suriah terjadi di Indonesia. Jangan impor konflik di sana ke Indonesia (apalagi pelakunya sudah jelas, ada cabangnya di Indonesia). Survei-survei sudah dilakukan dan antara lain menemukan 50% anak SMA sudah teradikalisasi.

Sejarah juga menunjukkan bahwa isu agama telah menjadi pintu masuk pembantaian massal pada orang-orang yang dituduh PKI (bukan hanya yang benar-benar PKI) tahun 1965. Tapi semua itu akan menunggu ada pihak luar yang mau mendanai dan mendesain (kasus 1965 kan terbukti ada CIA di belakangnya). Sejauh pemerintah yang ada kooperatif dengan Imperium, tidak akan ada konflik besar. Coba saja kalau Jokowi berani menasionalisasi Freeport, misalnya, saya berani memprediksi, akan ada chaos atas nama agama. Sekarang saja Jokowi berbaik-baik dengan China, hebohnya sudah luar biasa. Bisa dilihat sekarang isunya bergeser, dari bahaya Syiah ke bahaya PKI (dan China). Suriah tidak lagi “laku” ditunggangi.

  1. Yang dilakukan para pejuang medsos (terlepas bahwa sebagian ada juga yang menunggangi isu ini hanya demi memuluskan salah satu calon pilkada) selama 4 tahun terakhir adalah mencegah chaos terjadi. Kalau tidak dihargai, ya tak apa-apa. Atau diolok-olok, “katanya bakal jadi Suriah, buktinya enggak tuh!”, tidak apa. Saya tahu pasti, banyak orang-orang yang menulis isu ini dengan gratisan, ikhlas, bukan buzzer. Baru-baru ini Amnesty Intl merilis lagi laporan hoax soal pembantaian di Saydnaya, respon publik cuek-cuek saja. Ini artinya counter propaganda yang dilakukan para pejuang medsos dan situs-situs berita alternatif cukup berhasil.

Terakhir, karena status ini menyinggung kaum ‘you know who’, seandainya akun ini diblokir lagi, copy-nya akan ada di Fanpage dan di blog.
=================

Foto: rumah warga Syiah di Sampang, dibakar massa; alih-alih mengupayakan rekonsiliasi, pemda malah mengevakuasi warga desa tersebut ke Sidoarjo, hingga hari ini mereka belum bisa kembali ke kampung halaman.

Iklan: dalam waktu dekat buku saya “Salju di Aleppo” akan terbit, mengumpulkan 200 halaman tulisan saya ttg Aleppo/Suriah yang terserak-serak di banyak tempat.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: