Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Echo-Chamber

Echo-Chamber

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Pada pilpres 2014, dan di masa pilkada DKI (yang seolah sequelnya pilpres) di timeline saya beredar status mulai dari die-hard-nya kedua kubu, status dari kubu kritis, agak kritis, dan golput.

Saya sering menemukan status yang ditulis pendukung Paslon 2, dibantah oleh pendukung paslon 1+3, atau sebaliknya. Atau kritikan dari kubu non partisan (golput) untuk kedua kubu.

Contohnya nih ya, pendukung Paslon 2 kan demen banget nyindir Paslon 3, “Gue pingin beli rumah di Jakarta tanpa DP, ah!” Tentu, ada juga yang menulis dengan analisis dan argumen yang baik. Nah, saya menemukan status temen (non-partisan) yang ngasih tau bahwa ternyata beli rumah tanpa DP itu mungkin saja, dan bahkan ada yang jual di Pluit City. Terlepas dari adanya beberapa bantahan balik, tapi ide ini tidak mustahil (kalau pemerintah mau dan ada duitnya, ya bisa saja). Saya juga menemukan status temen lainnya, ternyata ide rumah apung itu tidak mustahil dan bahkan sudah dibangun di Inggris. Atau sebaliknya, ada penulis dan ulama terkenal pendukung Paslon 1+3 yang dengan amat pede menebar hoax lalu dibongkar oleh kubu Paslon 2.

Untuk isu Timteng, saya juga menemukan friend-friend FB yang menye-menye soal Suriah (menangisi pembebasan Aleppo, dan teriak-teriak Save Aleppo, misalnya). Padahal saya sudah 5 tahun nulis di Facebook memberikan pengimbangan info soal Suriah. Padahal hoax yang mereka share sudah ada bantahannya di wall saya (yang sudah di-share ratusan hingga ribuan orang lainnya).

Pertanyaannya: apakah kedua kubu membaca bantahan dari lawannya masing-masing; atau bantahan dari kubu non-partisan (golput)?

Sayangnya, umumnya tidak. Karena, sistem algoritma Facebook menyeret kita untuk masuk ke echo-chamber (ruang gema). Ini penjelasannya, hasil copas (dengan diringkas):

“Facebook merubah algoritma penyeleksian konten yang muncul di halaman beranda Facebook, sehingga yang muncul pertama kali di newsfeed bukan postingan terdahulu, melainkan yang sesuai dengan minat dan histori pengguna.

Facebook akan menampilkan informasi berita sesuai dengan riwayat klik, riwayat like, riwayat share, riwayat komentar, riwayat bacaan, dan riwayat pencarian sesuai dengan algoritma tadi. Dengan kata lain, Facebook melakukan ‘penyaringan’ sehingga pengguna akan menjadi terpisah dari informasi yang tidak selaras/kontradiktif dengan sudut pandang (riwayat pencarian)-nya. Pengguna akan dipaksa hidup dalam dunia sendiri yang sesuai dengan riwayat bacaan atau pandangannya.

Facebook akan cenderung memberikan informasi yang familiar, disukai, dan menyenangkan sesuai kepercayaan. Akibatnya yang pro semakin pro dan yang kontra menjadi semakin kontra.” [1]

Fenomena di atas diistilahkan juga dengan ‘echo-chamber’ atau ‘ruang tertutup untuk memproduksi gema’. Bayangkan bila kita berada di ruang gema, yang kita dengar adalah gema suara kita sendiri kan? Akibatnya, kita mengalami bias saat mengkonfrmasi sebuah kebenaran. Kita cenderung hanya percaya informasi yang ingin kita percaya. Atau bahkan kita memang mencari informasi untuk MENEGUHKAN apa yang sudah kita percaya, dan kalau informasi itu berlawanan dengan apa yang sudah kita percayai, maka sevalid apapun argumennya, akan terus kita cari-cari celah untuk membuktikan bahwa informasi itu salah.

echochamber

Foto atas, kondisi ideal dimana kita harusnya melihat dunia yang berwarna-warni; foto bawah, kondisi ketika kita berada di echo-chamber, dunia cuma terlihat 1 warna.

Lalu, bagaimana cara keluar dari echo-chamber?

Ini tidak saya sadari sejak awal ya, dan mungkin perlu konfirmasi dari pakar IT juga. Begini, saya berteman dengan siapa saja*, dan saya sering me-like status jenis apa saja (yang baik), termasuk foto bayi, kucing, anjing, liburan, masakan. Niat awal saya adalah ‘peduli dan apresiasi’, karena demikianlah seharusnya pertemanan kan?

Ternyata hasilnya, newsfeed saya juga acak, mulai dari resep masakan, hingga isu yang heboh dibahas kubu Paslon 1+3, kubu Paslon 2, dan kubu golput.

Untuk isu politik, saya pun dengan mudah menemukan dua versi argumen (bukan dua versi hoax ya, karena yang suka tebar hoax sudah saya unfriend-in). Misalnya, untuk kasus penggusuran dan reklamasi, saya mengikuti status baik pro atau kontra, asalkan dengan argumen. Percaya deh, pengetahuan kita akan bertambah dengan mengamati perdebatan dari orang-orang yang sama-sama ahli dan punya pengalaman di bidang ini.

Tentu, kalau perdebatannya isinya bully (misalnya, cuma bisa membantah argumen dengan menyodorkan meme “rumah hampir ambruk didampingkan dengan apartemen”, atau setor foto tenda, atau teriak “kafir! munafik! penista!”), memang ga akan menambah pengetahuan.

Ini hanya sekedar info. Pada akhirnya pilihan kita masing-masing, mau terjebak di echo-chamber, atau tidak.

————

*kecuali yang suka caci-maki, hoax, takfiri, dan suka menye-menye soal Suriah

[1] baca selengkapnya artikel penting banget ini: Bahaya Algoritma Facebook Membuat Anda Fanatik dan Rasis

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: