Kajian Timur Tengah

Beranda » Arab Saudi » Kerjasama Indonesia-Saudi Melawan Terorisme, Serius?

Kerjasama Indonesia-Saudi Melawan Terorisme, Serius?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

bocah-isis2Hari ini pemerintah Indonesia dan Arab Saudi akan menandatangani 10 MoU, antara lain MoU kerjasama melawan terorisme. Kok bisa ujug-ujug Saudi jadi ‘pejuang anti terorisme’?

Seperti sudah beberapa kali saya bahas sebelumnya, Saudi sangat membutuhkan investasi dan sumber-sumber pendapatan baru. Saudi mengundang banyak pihak untuk berinvestasi di negaranya dan sebagai kompensasi menawarkan akan menanamkan duit di negara-negara yang diundangnya. Apa yang dibutuhkan oleh proses ini? Jelas, CITRA. Citra Saudi sebagai sponsor terorisme di dunia amat menyulitkan bagi iklim investasi.

Karena itulah, Saudi memang secara aktif berusaha membersihkan citranya. Selama ini pun, pemerintah Saudi selalu mengaku tidak tahu menahu dan tidak mendukung terorisme. Padahal, sudah amat banyak pihak, baik agamawan, peneliti, maupun politisi, yang menyebutkan Wahabisme sebagai akar ideologi kelompok-kelompok terorisme. Uni Eropa secara resmi juga sudah menyatakan bahwa Wahabisme (bukan Islam Ahlus-sunnah wal jamaah) sebagai biang terorisme. Selama ini pun Saudi sudah mengucurkan 100 miliar USD untuk propaganda paham Wahabisme di seluruh dunia. Sungguh kebohongan besar bila Saudi mengaku tidak tahu menahu soal terorisme.

Selama ini yang dijadikan kambing hitam adalah para ‘pangeran kasar’ atau ‘tokoh-tokoh kaya’ yang secara pribadi mengalirkan dana kepada kelompok-kelompok teroris. Narasi inilah yang banyak diberitakan oleh media mainstream.[1]

Padahal, awal 2014, Senator John McCain, arsitek perang Suriah, mengatakan, “Terimakasih Tuhan, untuk Saudi dan Pangeran Bandar, dan teman-teman Qatar kita.” McCain mengatakan ini terkait dengan ‘bantuan’ Saudi dan Qatar untuk mendanai para teroris di Suriah (tentu saja McCain menyebutnya ‘pemberontak’, bukan teroris).[2]

Email pribadi Hillary Clinton yang dibongkar Wikileaks juga mengungkap bahwa Hillary mengakui pemerintah Saudi-lah yang mendanai ISIS dan berbagai kelompok teror lainnya; dan Saudi pula yang mengirim dana untuk yayasan Clinton. Hillary menyebut ‘government’, pemerintah Saudi. Dan di masa Hillary jadi Menlu, penjualan senjata AS ke Saudi naik dua kali lipat.[3]

Secara resmi pada 2014 Saudi sudah mendeklarasikan bahwa ISIS, Ikhwanul Muslimin, dan Jabhah Al Nusrah sebagai teroris. Ketiganya adalah kelompok yang sangat aktif ‘berjihad’ menggulingkan Assad di Suriah. Tapi kita pun tahu, ketiganya tak pernah kehabisan logistik dalam mengacak-acak Suriah, sampai sekarang. [4]

Lalu bagaimana sikap pemerintah Indonesia terkait MoU anti-terorisme ini? Kita ambil yang bermanfaat buat Indonesia. Saudi menyatakan akan membantu pemerintah Indonesia melawan teroris? Baik. Pemerintah Indonesia harus memaksa mereka menggunakan kekuatannya untuk menghentikan aliran dana kepada sekolah-sekolah dan ormas-ormas radikal di Indonesia yang getol menyuarakan revolusi, jihad di Suriah, anti-pemerintah Thoghut, anti Pancasila, ganyang misionaris Kristen, PKI, Syiah, Ahmadiyah, dan sejenisnya; dan menyebarkan pahamnya hingga ke kampung-kampung, bahkan ke bocah-bocah polos. Jangan mau dibohongi pakai klaim kambing hitam “bukan pemerintah yang kirim duit” karena sebagai pemerintah mereka kan bisa melakukan sesuatu untuk menyetopnya.

——————–

[1] antara lain bisa dibaca di infografis di sini: http://www.dw.com/id/raja-salman-akan-tandatangani-10-perjanjian-kerjasama-di-indonesia/a-37743544

[2] https://www.theatlantic.com/international/archive/2014/06/isis-saudi-arabia-iraq-syria-bandar/373181/

[3] http://theduran.com/confirmed-leak-governments-of-saudi-arabia-and-qatar-have-been-funding-isis-says-julian-assange-video/

[4] http://english.aawsat.com/2014/03/article55329786

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: