Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah » White Helmets dan Oscar

White Helmets dan Oscar

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

WH3Saya sudah sering menulis mengenai White Helmets ini, mulai dari siapa pendiri dan pendananya, analisis video-videonya, hingga bukti-bukti bahwa anggota WH tak lain petempur Al Nusra alias Al Qaida. Mereka mengaku bipartisan dan organisasi relawan, tetapi foto dan video menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam pembantaian warga sipil yang dituduh pro-Assad. Di link di bawah, ada kompilasi sekitar 50 foto-foto yang membuktikan hal itu. [1]  Bisa dilihat di video ini  liputan langsung channel Anna News ke markas-markas WH setelah pembebasan Aleppo (setelah para teroris dievakuasi ke Idlib). Bisa dilihat di video bukti-bukti WH = Al Nusra/ Al Qaida (video berbahasa Rusia, sudah diberi subtitle Indonesia).

Kini ada pertanyaan yang tersisa: mengapa film White Helmets yang diproduksi perusahaan AS, Netflix, diberi hadiah Oscar untuk kategori film dokumenter? Apakah karena kualitasnya yang bagus?

Sebuah film dokumenter adalah karya jurnalistik, bukan karya ‘seni’ atau fiksi. Sutradaranya harus melakukan kerja-kerja jurnalistik, riset, terjun ke lapangan, mewawancarai orang-orang yang terlibat, dan sebagainya, sehingga film yang ia sajikan adalah fakta di lapangan. Film dokumenter jelas berbeda dengan film propaganda atau iklan.

Kenyataannya, kedua sutradara film White Helmets (Orlando von Einsiedel dan Joanna Natasegara) tidak pernah datang ke Aleppo. Perekaman aktivitas WH di Aleppo dilakukan oleh anggota WH sendiri, bernama Khaled Khatib.  Dia sejak lama aktif merekam aktivitas WH dan mengunggahnya di medsos. Video pertamanya  (diunggah di Twitter) berlogo Aleppo Media Center, yang didirikan oleh Syrian Expatriate Organization, yang beralamat di Washington DC.

Kedua sutradara WH juga sepertinya tidak melakukan riset sedikitpun pada video-video dokumentasi WH selama ini. Seseorang yang paham film dan fotografi seharusnya mempertanyakan bagaimana dalam situasi yang konon ‘chaos’ (baru digempur bom) bisa dihasilkan video-video dan foto-foto yang amat banyak dan berkualitas bagus, dengan relawan yang sadar kamera (kameramen pun bisa secara canggih mencari angle-angle yang dramatis, dan logo WH selalu terlihat). Bagaimana dalam situasi sedemikian chaos (kalau benar demikian), selalu ada fotografer dan kameramen profesional yang selalu siaga mengambil foto dan video?

WH2

Anggota WH bersama mayat-mayat tentara Suriah, sambil membuat simbol V (Victory)

Belum lagi kalau sang sutradara meriset video-video ‘penyelamatan medis’ yang dilakukan WH. Baru-baru ini beberapa dokter Swedia yang tergabung dalam organisasi ‘Profesor dan Dokter Swedia untuk HAM’ mengeluarkan statemen bahwa tindakan medis yang terlihat di video WH (yang dipertontonkan di sidang Dewan Keamanan PBB) sangat aneh, tidak sesuai prosedur medis yang benar. Bahkan mereka mengatakan, “Kemungkinan si anak yang mendapat injeksi itu sebenarnya sudah mati; atau akhirnya mati karena tindakan medis yang salah itu!” [2]

Jadi, dari sisi kualitas , film WH sama sekali tidak bagus, bahkan tidak bisa masuk kategori dokumenter. Film ini lebih layak mendapatkan penghargaan sebagai ‘film propaganda perang terbaik’ (Leni Riefenstahl Award).

Lalu, mengapa Hollywood berkeras memberi WH Oscar, meskipun protes dan petisi sudah banyak dilayangkan publik (yang menyadari kedok WH)? Sebabnya karena Hollywood memang salah satu agen dalam proyek perang AS. Menurut Dr. Tim Anderson, Hollywood selama ini memang berperan dalam mempromosikan perang AS dan menciptakan delusi bahwa AS punya hak khusus untuk mengatur dunia dan menjadi ‘polisi’ dunia.

Perang Suriah telah berlangsung 5 tahun, dengan persiapan bertahun-tahun sebelumnya. Dana yang digelontorkan oleh para sponsor perang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, termasuk mendanai WH dan propaganda masif untuk membuat WH amat terkenal. Namun pemerintah Suriah tetap bertahan berkat dukungan rakyatnya, dan berkat kegigihan media-media alternatif dan para jurnalis independen menyuarakan hakikat Perang Suriah.

WH memiliki tugas meyakinkan publik di Barat bahwa konflik Suriah adalah akibat dari kekejaman rezim. Pemerintah Barat perlu dukungan rakyat agar bisa melakukan serbuan langsung ke Suriah (di bawah kedok ‘humanitarian intervention’). Karena itulah, Barat berupaya mengangkat lagi isu Suriah agar kemarahan publik bangkit lagi. Oscar pun diberikan sebagai salah satu upayanya.

Apakah berhasil? Sepertinya tidak. Karena media-media alternatif tak pernah lelah membongkar kebohongan WH ini, dan berhasil mempengaruhi opini publik.

Bagaimana dengan publik di Indonesia? Di Indonesia, kata-kata ustadz dan ustadzah masih sangat dominan dalam membentuk narasi konflik Suriah. Tentu ini amat disayangkan. Pihak-pihak yang tidak terlalu paham geopolitik, hanya menyandarkan isu-isu yang tidak valid, tidak paham peta konflik dan sejarah perang dunia modern, tidak mengikuti perkembangan industri propaganda perang (misalnya kasus WH ini), dll, ketika berbicara tentang konflik  Suriah akhirnya malah berujung pada hate speech (ujaran kebencian) yang berdampak amat buruk bagi persatuan bangsa.

Terakhir, mau tahu siapa di antara pemilik saham Netflix, pembuat film WH? Tak lain, George Soros.

[1] Ini adalah artikel yang sangat panjang, mengupas tuntas soal WH, dilengkapii foto-foto dan video sebagai bukti: http://21stcenturywire.com/2017/03/02/forget-oscar-give-the-white-helmets-the-leni-riefenstahl-award-for-best-war-propaganda-film/

[2] http://21stcenturywire.com/2017/03/07/white-helmets-swedish-doctors-denounce-medical-malpractice-and-misuse-of-children-for-propaganda-purposes/

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: