Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Dari Aleppo ke Jakarta: Mari Menjadi Hoax Buster

Dari Aleppo ke Jakarta: Mari Menjadi Hoax Buster

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
hoax
Pernah dengar nama ‘drone emprit’? Sejak beberapa bulan terakhir, saya memfollow penemunya, seorang PhD lulusan Belanda, bernama Ismail Fahmi. Beliau aktif menuliskan analisisnya atas percakapan di medsos dengan menggunakan ‘drone emprit’ ini. Nah, dua hari yang lalu, saya berkesempatan hadir di seminarnya. Penjelasan gampangnya begini, ketika sebuah isu menjadi heboh di media sosial, drone emprit bisa memantau percakapan di twitter, siapa yang pertama ngetwit, siapa yang RT/re-tweet (manusia asli atau robot), dst.

Harap maklum kalau saya tak terlalu fasih menjelaskan. Tapi untuk isu Aleppo, saya bisa menjelaskan lebih banyak karena nyambung dengan apa yang saya kaji selama ini. Begini, di salah satu status pak Ismail (yang juga pernah dipresentasikan dalam seminar di Bdg), drone emprit mendeteksi bahwa tweet tentang Aleppo pada Desember 2016 berawal dari beberapa akun tertentu yang saya ‘kenal’ dengan baik. Mereka adalah para seleb medsos dari Aleppo seperti Bana Al Abed, Bilal Abdul Kareem, Lina Shamy dll. [1], lihat foto 1.


Nah tweet mereka ini di-RT oleh media-media mainstream, lalu berita dari media mainstream di RT kembali oleh para seleb ini dan para followersnya. Artinya apa? Sumber berita tentang Aleppo pada Desember 2016 bukan dari jurnalis, melainkan dari seleb medsos Aleppo. Ini nyambung sekali dengan ‘curhat’-nya suhu jurnalis dunia, Robert Fisk di akhir tahun 2016,

“Penggunaan media sosial dalam memberitakan pertempuran di timur Aleppo menjadi luar biasa, aneh, berbahaya, dan bahkan mematikan, ketika tidak ada satu pun jurnalis Barat yang melaporkannya dari tangan pertama, dari lapangan. Kredibilitas jurnalisme -dan politisi- telah sangat rusak akibat penerimaan pada satu sisi cerita karena tidak ada satu pun reporter yang bisa mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan….Kita [masyarakat Barat] menyerahkan jurnalisme kepada media sosial, dan kepada milisi bersenjata yang mengontrol wilayah itu; [2]
[Siapa sebenarnya para seleb ini, afiliasinya kemana, jejak digitalnya bagaimana, bukti kebohongan mereka seperti apa, baca di buku ‘Salju di Aleppo’ ya].

Ok, balik ke seminar hari Rabu yll itu. Pak Ismail mempresentasikan analisis drone emprit terhadap 2 kasus yang heboh di Indonesia, kasus Nenek Hindun dan isu tenaga kerja illegal China. Bisa dibaca saja penjelasannya di status pak Ismail, termasuk juga bagaimana solusi yang ditawarkan, yang menurut saya jenius dan penting banget dilaksanakan oleh pihak-pihak yang punya power dan kapabilitas dalam hal ini. [3]

Sambil menunggu pihak yang berwenang melakukan gerakan fundamental dan signifikan dalam melawan hoax, saya ingin menceritakan salah satu pemaparan pak Ismail dalam seminar. Begini, perhatikan data sebaran hoax di foto-2 (ini salah satu slide presentasi pak Ismail). Titik-titik warna ungu adalah isu hoax. Terlihat warna ungu di cluster kanan jauh lebih banyak dibanding di cluster kiri. Penyebabnya, karena di cluster kiri, ada beberapa titik kuning, mereka adalah hoax buster, yang ternyata efektif meredam penyebaran hoax.

Jadi misalnya, di grup WA ada yang sebar hoax, lalu kita lihat ada 1 atau 2 orang yang berani membantah dan memberi tahu bahwa itu hoax; nah 1-2 orang inilah si hoax buster. Hayo, berani ga? Kebanyakan kita, begitu ilfil liat hoax di grup WA, langsung left grup ya? (saya juga sih, ihiks, maklum ibuk-ibuk kan emang sering baper). Tapi sekarang kita tahu ya, ternyata sekedar menginformasikan dengan santun “itu hoax lho” (sambil share link klarifikasi) punya peran penting dalam meredam hoax.

Mungkin, supaya muncul keberanian ‘melawan’, kita ingat-ingat nasib anak-anak kita (atau calon anak, buat yang belum punya anak), masa depan seperti apa yang akan kita tinggalkan untuk mereka? Dunia yang penuh kebencian dan kegaduhan?

——-

[1] lebih lengkapnya bisa baca di FB Ismail Fahmi:  Bisa dilihat juga di Foto 1, cluster yang heboh menyuarakan Save Aleppo di Indonesia ternyata juga mencuit “Lengserkan Jokowi”. Saya pernah bahas di sini. Bukan kebetulan kalau ormas-ormas yang heboh soal Aleppo ternyata sama dengan ormas-ormas yang aktif membuat kegaduhan atas nama SARA di Indonesia.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: