Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » HTI: Gagal Paham Suriah (1)

HTI: Gagal Paham Suriah (1)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Baru-baru ini beredar di medsos, foto baliho HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang berisi propaganda ‘bendera Rasulullah’. Karena saya sejak 2011 sudah mengikuti konflik Suriah, maaf saja, melihat bendera itu langsung teringat pada bendera salah satu kelompok “jihad” (tapi sudah masuk ke dalam list teroris internasional PBB), yaitu Jabhah Al Nusra. Pada saat yang hampir bersamaan, tokoh HTI (tapi sudah keluar dan kini jadi Sekjen Forum Umat Islam, ormas yang juga aktif menyerukan “jihad” ke Suriah) Muhammad Al-Khaththath, ditangkap polisi dengan tuduhan makar.

Saya pun teringat pada acara “Pengajian Umum dan Bedah buku HTI, Gagal Paham Khilafah”. yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa NU ITB dan Komunitas Anak Peduli Bangsa Bandung (27/1/2017). Dalam tulisan berikut ini saya akan memaparkan ulang apa yang saya sampaikan dalam acara tersebut, agar kita bisa mengambil benang merah dari dua fenomena yang saya sebut di atas.

alnusra-hti


Konflik Suriah dimulai dengan aksi-aksi demo menentang pemerintah yang mirip dengan aksi demo di berbagai negara Arab dalam gelombang Arab Spring 2011. Isu yang diangkat waktu itu adalah demokratisasi. Namun, demo tidak pernah tereskalasi, yang terjadi hanya demo-demo minor, dan bahkan provokatornya itu-itu lagi sebagaimana tertangkap kamera video.[1]

Amnesty International melaporkan bahwa rezim Assad menghadapi demo dengan represif dan telah terjadi kejahatan kemanusiaan. Namun, bila kita menyimak isi teks laporan itu dengan cermat akan terlihat metodologi penelitian yang dilakukan tidak valid, antara lain pengumpulan bukti-bukti tidak dilakukan langsung oleh staf AI di lapangan, melainkan melalui wawancara telepon dan wawancara pada orang Suriah di Lebanon dan Turki. Asas corroboration dan cross-checking juga tidak dilakukan, sehingga laporan ini tidak valid.[2]

Sebaliknya laporan jurnalis-jurnalis independen (tidak bekerja pada media mainstream) justru menunjukkan bahwa di antara para demonstran ada yang angkat senjata sehingga selalu ada polisi yang jatuh korban (misalnya bisa dibaca laporan Thierry Maysan yang sejak awal sudah berada di Suriah). Bahkan sejak demo pertama, Assad sudah memberikan tanggapan yang persuasif, ia mengutus wakilnya, Dr. Buthaina Shaaban untuk bernegosiasi.[3] Selanjutnya, Assad memenuhi berbagai tuntutan demonstran, seperti pencabutan State Emergency Law warisan rezim ayahnya, Hafez Al Assad, perubahan UUD (antara lain membatasi masa jabatan kepresidenan), dll.

Semua upaya demokratis ini diabaikan dan tiba-tiba saja isu berganti menjadi “penegakan khilafah”. Dan sejak itulah Hizbut Tahrir Indonesia terlihat amat gencar mempropagandakan berita tentang ‘kekejaman rezim Assad’ yang penuh nuansa kebencian pada ‘Syiah Nusairiyah’ (publik tidak banyak tahu apa itu, yang ditangkap hanya Syiah-nya saja dan menyamaratakan dengan semua Syiah). Padahal, di media internasional, nama Hizbut Tahrir tak banyak disebut. Kita di Indonesia tahu bahwa anggota HT ikut bertempur di Suriah karena cerita-cerita orang HTI sendiri.

Hal ini rupanya diakui oleh tokoh HT asal Suriah yang tinggal di Libya. “Baba mengkritik media Arab dan Barat yang mengabaikan keberadaan Hizbut Tahrir dan menutup perannya. Baba mengatakan kepada Al-Akhbar, Hizbut Tahrir telah ada di Suriah sejak lama dan telah menjadi target pelarangan rezim Baath,” demikian ditulis dalam berita yang dirilis situs HTI.[4]

HT berbeda dengan Ikhwanul Muslimin yang rekam jejaknya jelas pernah melakukan pemberontakan terhadap Rezim Assad tahun 1982, lalu sejak awal konflik 2011 sudah bergabung dalam koalisi oposisi di Turki, bahkan mubalig IM bernama Moaz al Khatib pernah menjadi ketua kelompok koalisi tersebut (Syrian National Coalition for Opposition and Revolutionary Forces (SNCORF). Terkait dengan gerakan bersenjata, IM sejak awal menunjukkan keberpihakan pada Free Syrian Army, kemudian Jaish Al Islam dan beberapa afiliasinya.

Para pengamat politik Timteng, khususnya Suriah, memang hampir tak pernah menyebut nama HT sebagai aktor dalam konflik ini. Yang jelas, di Indonesia, aktivis HT sangat ‘berisik’ soal Suriah, tak jauh beda dengan rekan sejalan-tak sepemikiran mereka, Ikhwanul Muslimin.

Situs mediaumat.com menulis,” “Hizbut Tahrir memobilisasi para pejuang Islam di sana untuk menandatangani Mitsaq al-‘Amal li Iqamati al-Khilafah. Hizbut Tahrir juga telah menyiapkan RUUD Negara Khilafah yang siap kapan saja diterapkan. Hizbut Tahrir juga telah mempersiapkan para aktivis terbaiknya untuk menjalankan roda pemerintahan.”[5]

Siapa pejuang alias mujahidin yang dimaksud oleh HT? Tidak jelas, tidak pernah ada deklarasi terbuka, HT berpihak kepada siapa. Indikasi awal yang saya temukan adalah situs HT Inggris memuat utuh wawancara majalah Time dengan pejabat resmi Jabhah Al Nusrah dengan tanpa catatan (sanggahan atau komentar). [6]

Lalu pada 2013, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto mengakui,  Hizbut Tahrir pernah mengikuti sumpah setia dengan banyak kelompok mujahidin yang ada di Suriah, termasuk dengan Al Nusra. [7]

Siapa Al Nusra?

Banyak kader Al Nusra yang berasal dari jaringan jihad Abu Mus’ab al-Zarqawi, yang dibangun tahun 2002,menyusul kepulangan Zarqawi dari Afganistan. Pejuang  jihad Syria yang bertempur bersama Al-Zarqawi di Herat, Afghanistan pada tahun 2000 dikirim untuk membangun cabang jaringan ini di Syria dan Lebanon, dengan Al-Zarqawi memegang kontrol dari Irak. Pasukan jihad Syria ini membangun semacam tempat persinggahan bagi para jihadis dari berbagai negara yang akan masuk ke Irak. Selama masa ini pula,  mereka menjadi saluran utama distribusi dana bantuan yang digalang para jihadis di negara-negara Arab dan Teluk.

In 2007, pemerintah Suriah mengambil sikap tegas terhadap aktivis jihad ini dan menangkapi anggota jaringan Al Zarqawi. Dalam operasi ini, Sheikh Abu al-Qaqaa yang berperan dalam pengiriman pasukan jihad dari berbagai negara asing ke Irak, tewas. Banyak di antara pasukan jihad yang berhasil melarikan diri ke Irak lalu mereka kembali ke Suriah pada tahun 2011. Di antara mereka yang kembali untuk ‘berjihad’ di Suriah adalah Abu Mohammad al-Julani. Dia pun mendirikan  Jabhah Al Nusrah, dan menjadi pemimpinnya.[8]

Karena itu, banyak pengamat, serta berbagai tulisan, sering menyebut Al Nusra sebagai Al Qaida. Mereka punya banyak ‘derivasi’ atau ‘keturunan’, namun semua bergabung dalam satu keluarga besar Al Qaida. Al Nusra (dan Al Qaida) masuk dalam daftar teroris internasional. Aksi-aksi mereka memang sangat berbau teror, mulai dari pengeboman, bom bunuh diri, pembantaian massal, dll.

———————————
[1] https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/05/16/kompilasi-video-foto-peran-ngo-dalam-konflik-suriah/

[2] https://edit.justice.gov/sites/default/files/eoir/legacy/2013/11/07/deadly_detention.pdf

[3]http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/middleeast/syria/8404955/Syria-Bashar-al-Assad-offers-concessions-to-protesters-for-first-time.html

[4]http://hizbut-tahrir.or.id/2012/05/09/hizbut-tahrir-suriah-rezim-assad-akan-menyerah-kepada-khilafah-islam/

[5] (http://mediaumat.com/wawancara/4085-96-detik-berdirinya-khilafah-kian-dekat.html)

[6] HT Inggris http://www.hizb.org.uk/news-watch/interview-with-official-of-jabhat-al-nusra-syrias-islamist-militia-group (terakhir kali diakses oleh penulis tanggal 28 Maret 2013, 20:30. Ketika saat ini diakses, link masih aktif tetapi isi berita dihapus. Dalam wawancara itu jelas Al Nusra mengakui pihaknya menembaki orang yang tak bersenjata.

[7] http://www.globalmuslim.web.id/2013/06/ismail-yusanto-anggota-hizbut-tahrir.html?m=1

[8] Prahara Suriah, Dina Y. Sulaeman, 2013

bersambung ke bagian 2

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: