Kajian Timur Tengah

Beranda » Buku Saya » Review Buku “Salju di Aleppo”

Review Buku “Salju di Aleppo”

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Media

Oleh: Nurani Soyomukti*

Saya sudah baca buku ini (“Membongkar Kuasa Media”, Ziauddin Sardar) kira-kira hampir sepuluh tahun lalu. Lalu buku ini, bersama ratusan buku lainnya, berdiri di rak buku saya. Saya baru menjamahnya kembali beberapa malam lalu, lalu saya kumpulkan dalam satu ruang rak bersama buku-buku sejenis, buku-buku tentang kajian komunikasi dan media.

Buku ini ditulis lebih lama sebelum diterbitkan oleh Resist Book, Yogya, dengan edisi terjemahan (bahasa Indonesia). Tentu waktu itu belum ada Media Sosial, jadi dalam buku ini tidak dibahas soal saluran komunikasi atau media komunikasi yang belakangan ini berkembang seperti facebook, dll. Waktu itu media memang hanya bisa dimiliki oleh pemodal besar baik swasta ataupun negara. Jadi memang membongkar kuasa media dengan serta merta akan bicara pada kekuasaan besar, terutama monopoli media dan konglomerasi media.

buku salju di aleppo

sumber foto kiri: FB Nurani Soyomukti; foto kanan: FB Banin Muhsin

Sekarang peran medsos amat luar biasa. ‘Opinion maker’ tidak perlu media cetak atau elektronik. Seorang pesohor bukan lagi harus pengamat politik, tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, atau artis yang sering ditampilkan di media.

Selebritis tak lagi dibesarkan di media cetak atau elektronik. Sekarang ada istilah “Seleb Medsos”–istilah ini sering terngiang dan saya ucapkan setelah hadir di acara diskusi yang dihadiri mbak Dina Sulaeman di IAIN Tulungagung beberapa minggu yang lalu.

Kepada bu Dina, saya sempat mengucapkan terimakasih karena telah memberikan perspektif baru tentang penggunaan medsos sebagai alat untuk mengorganisir sebuah gerakan politik yang imbasnya maha dahsyat. Bagaimana medsos mampu digunakan untuk mencapai tujuan komunikasi dengan target merubah sebuah tatanan politik yang menguntungkan pihak yang menyadari efektivitas penggunaannya. Itu yang tidak disangka oleh mereka yang hanya tahu ‘media lama’ sebagai kekuatan politik terutama sebagai media penyebar informasi, persuasi, dan propaganda.

Saya sempat bercerita tentang bagaimana Hugo Chavez di Venezuela juga hendak digulingkan dengan menggunakan media televisi milik kaum oposisi, meskipun kudeta beberapa jam akhirnya diselamatkan oleh jutaan rakyat yang mendukungnya. Dalam sebuah buku yang saya tulis untuk menggambarkan revolusi Bolivarian di Venezuela dan bagaimana oposisi menggunakan media TV swasta yang dimiliki oleh pemodal yang berafiliasi dengan kekuatan Amerika yang anti-Chavez itu, pembaca juga melihat bagaimana TV sebagai media politik juga tidak menayangkan capaian-capaian baik pihak yang tidak disukainya.

Sama halnya yang terjadi di Lybia dan Suriah. Ketika pendukung presiden merakyat “tumplek bleg” turun ke jalan menyatakan dukungan pada pemerintah, tidak ada TV internasional yang menayangkannya. Yang ditayangkan justru berita-berita dari kelompok oposisi.

Buku bu Dina Sulaeman yang berjudul ” Salju Di Allepo” itulah yang kemudian memberikan kita pemahaman betapa media sosial bisa jadi sumber rekayasa tentang fakta yang terjadi. Media Internasional yang tampaknya menjadi bagian dari skenario Amerika untuk menggulingkan presiden merakyat di kawasan Timur Tengah lebih menggunakan sumber dari FB, Twitter, yang dibuat oleh kaum Mujahidin dan kelompok yang berkedok bantuan kemanusiaan, seakan-akan rakyatlah yang menjadi korban pemerintah.

Facebook atau Twiter milik kelompok mujahidin (ISIS, Al Nusro, dan lain-lain) yang di antaranya telah menjadi “Seleb Medsos” dengan banyak followers justru dikutip oleh media internasional, yang sebagian juga dikutip lagi oleh media nasional kita. Jadi, sumber beritanya bukan fakta di lapangan, tanpa adanya jurnalis yang terjun ke tempat kejadian, tapi justru dari para “seleb medsos” yang kebanyakan justru milik dan berafiliasi ke kelompok bersenjata yang memang didanai oleh AS, Arab, Qatar, dan Turki.

Karena medsos itulah, negara-negara Arab kini berada dalam konflik berkepanjangan. Pihak-pihak dari luar wilayah Arabpun tampaknya juga ikut campur karena urusannya adalah ekonomi-dan politik dunia, melibatkan banyak negara. Amerika punya kepentingan minyak yang harus dilakukan dengan cara menggulingkan presiden Assad yang sosialis dan punya kebijakan bertentangan dengan kepentingan AS, tentu didukung oleh sekutu-sekutunya. Sedangkan pihak Rusia, Cina, juga siap terlibat dengan sikap yang berbeda.

Jadi bukan lagi kekuatan media lama yang berperan besar. Medsos adalah alat yang sejak awal telah ikut menggerakkan tumbangnya pemimpin-pemimpin seperti di Mesir, Lybia, Tunisia, dll. Tinggal kini Suriah di bawah Assad yang sulit ditumbangkan, pada saat media sosial juga mulai bisa memberitakan apa yang sebenarnya terjadi, untuk menandingi hoax-hoax dari kekuatan anti-Assad dan pro- milisi bersenjata.

Kajian komunikasi semakin kompleks dan menarik.

——————–

*Nurani Soyomukti adalah penulis beberapa buku, antara lain berjudul “Occupy Wall Street” dan “Komunikasi Politik”

INFO: Buku “Salju di Aleppo” tidak dijual di toko buku, untuk pemesanan, kontak Hatim (WA-SMS: 0878-8299-8696). Harga Rp.46.000.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: