Kajian Timur Tengah

Beranda » Keamanan Global » Terorisme dan Cara Mencegahnya

Terorisme dan Cara Mencegahnya

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
A Syrian refugee child cries at the Al Zaatri refugee camp in the Jordanian city of Mafraq, near the border with SyriaDefinisi Terorisme
Hingga kini tidak ada kesepakatan global mengenai definisi terorisme. Berbagai lembaga, organisasi, dan cendekiawan memberikan definisi mereka masing-masing atas terorisme. Menurut Crenshaw (2007:68) meskipun PBB telah mengeluarkan berbagai konvensi anti terorisme, namun negara-negara anggota PBB hingga kini tidak bersepakat atas definisi terorisme karena dua alasan. Pertama, negara-negara anggota PBB masih belum bersepakat apakah negara dikategorikan teroris bila angkatan bersenjata mereka melakukan serangan kepada warga sipil. Kedua, terkait dengan justifikasi moral terhadap aksi kekerasan; apakah gerakan perlawanan melawan pendudukan asing (misalnya di Palestina, Irak, atau Afghanistan) dikategorikan teroris.
Menurut KBBI, terorisme berarti: penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Bila kita melihat definisi terorisme yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri AS, teorisme dikaitkan dengan audiens (masyarakat).

The term “terrorism” means premeditated, politically motivated violence perpetrated against noncombatant targets by subnational groups or clandestine agents, usually intended to influence an audience. [kekerasan terencana yang bermotif politik yang dilakukan terhadap sasaran sipil,  yang dilakukan oleh kelompok subnasional atau agen rahasia, biasanya dimaksudkan untuk mempengaruhi audiens.]

Kaplan (1981) mengatakan bahwa terorisme dimaksudkan untuk menciptakan situasi pikiran yang sangat menakutkan (fearful state of mind). Lebih jauh lagi, situasi ketakutan ini tidaklah ditujukan kepada para korban teroris melainkan kepada audiens (khalayak) yang bisa jadi tidak ada hubungan dengan para korban.
Crenshaw menjelaskan lebih jauh tentang masalah efek bagi audiens ini. Menurutnya, bagi publik, terorisme sangat menakutkan karena sifatnya yang tak terduga (unpredictable). Terorisme sering menjadikan masyarakat sipil sebagai target. Aksi-aksi terorisme, yang skalanya kecil sekalipun, membuat rakyat merasa, betapa rapuhnya keamanan mereka. Mereka tidak tahu apakah orang yang duduk di sebelah mereka adalah teroris atau bukan. Artinya, intensitas ancaman tidaklah bergantung kepada hal-hal fisik seperti jumlah korban dan hancurnya infrastruktur, tapi ketakutan dan kengerian yang ditimbulkannya.
Dengan sedikit penjelasan di atas, kita bisa membedakan, mana aksi teror, mana pembunuhan ‘biasa’.
Terorisme dan Islam
Ada banyak motif orang untuk melakukan teror, antara lain doktrin-doktrin agama. Pelakunya memang tak melulu Muslim. Namun adalah fakta bahwa pelaku aksi-aksi teror beberapa tahun terakhir (terutama sejak beberapa ormas mendeklarasikan “khilafah” di Suriah) adalah orang-orang Muslim. Jadi, bahasan saya kali ini memang khusus terkait terorisme yang dilakukan kaum Muslim.
Sebagian Muslim, entah itu para simpatisan ‘jihad’ (dalam rangka menutup-nutupi fakta) atau Muslim yang belum memiliki banyak informasi, bersikap ‘denial’ (mengingkari). Mereka berkata, “ISIS bukan Islam!” atau “ISIS itu buatan AS-Israel!”, atau versi ngawur: “ISIS buatan Syiah!”
Baiklah, memang betul juga: yang dilakukan ISIS bukanlah perilaku Islam/Muslim hakiki. Rasulullah tak pernah mengajarkan perang membantai warga sipil yang tak bersalah. (Btw, kelompok teror ada berbagai nama, tidak cuma ISIS, jangan tertipu oleh nama, lihat metode aksinya).
Lalu, di Suriah, sudah bukan rahasia lagi bahwa AS menjadi ‘angkatan udara’-nya ISIS (setiap kali tentara Suriah hampir mengalahkan ISIS, pesawat-pesawat tempur AS langsung membantai tentara Suriah).
Tapi, mari coba kita kritisi: kan yang menjadi anggota ISIS tetap orang Islam? Bukankah di Indonesia banyak sekali simpatisan ISIS, mereka terang-terangan berbaiat, dan berdemo di berbagai kesempatan, mengibar-ngibarkan bendera ISIS. Bahkan ada “ulama” yang terang-terangan menyebut ISIS ‘saudara’ kita. Di Facebook, banyak ditemui akun-akun orang Indonesia pendukung ISIS.
Bersikap denial, buru-buru memakai teori konspirasi untuk ‘menutupi muka’, tidaklah ada manfaatnya. Umat Islam harus segera menyadari dan mengakui bahwa memang ada ideologi menyimpang dalam tubuh Islam, yaitu Wahhabisme, doktrin dasarnya adalah purifikasi Islam (siapapun yang ‘beda’ adalah kafir dan wajib dibunuh). Lebih jelas lagi bisa baca tulisan Karen Amstrong ini, “Wahhabism to ISIS: how Saudi Arabia exported the main source of global terrorism”. [1]
Di Irak dan Suriah, yang menjadi “si kafir” yang layak dibunuh adalah Syiah (meskipun yang jadi korban kebrutalan mereka akhirnya semuanya, baik itu Sunni, Syiah, Druze, Kurdi, maupun Kristen). Di Inggris, semua warganya (yang non-Muslim) adalah kafir. Di Indonesia? Entahlah. Yang jelas sebagian besar korban bom-bom bunuh diri itu adalah Muslim.
Ideologi ini, sayangnya, dianut oleh banyak kaum Muslimin di Indonesia dalam tingkatan yang berbeda-beda (bahkan kadang mereka juga tidak sadar berideologi ini). ISIS itu sudah level ekstrim. Tingkat level rendahnya, anak-anak yang berpawai “bunuh-bunuh si Ahok” itu [2]. Saya sebut rendah karena mereka masih anak-anak, belum punya ideologi, tapi sedang diajari orangtuanya bahwa boleh membunuh ‘si kafir’.
Kata KH Said Aqil Siraj, “Dari dulu saya sudah bilang soal ISIS, cegah dulu, kelompok-kelompok Islam keras Wahabi. Kelompok Wahabi memang bukan teroris tapi satu digit lagi jadi teroris. Semua teroris di Indonesia yang melakukan aksi teror di beberapa tempat bermula dari wahabi dulu.” [3].
Apa yang Bisa Dilakukan?
Lalu, setelah mendeteksi akar masalah ini, lakukan langkah-langkah pencegahan, yaitu antara lain (ini disusun dengan ditambah masukan dari komentator di FB):
1. Di level keluarga, agar ideologi ini tidak merasuk di anggota keluarga kita masing-masing, batasi pergaulan keluarga (terutama anak-anak kita) dengan orang-orang yang memang terdeteksi penganut ideologi ini. Ketika mereka menghujani timeline atau grup WA kita dengan berbagai informasi berbasis kebencian (apalagi plus hoax), mungkin awalnya kita biasa saja, tapi siapa yang jamin besok-lusa kita tidak terpengaruh? Sudah banyak orang normal yang berubah jadi zombie melalui metode ini.
2. Ajarkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah ajaran yang welas asih.  Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat welas asih. Kalaupun beliau berperang, selalu atas dasar alasan yang valid (bukan tuduhan membabi-buta) dan dengan etika perang yang ketat (bukannya membantai rakyat sipil secara membabi-buta dengan bom bunuh diri).
3. Lindungi dunia pendidikan karena semua kelompok radikal menjadikan kampus dan sekolah sebagai ladang perekrutan.  Caranya:
-Depdikbud men-screening tenaga pendidik, agar terhindar dari memasukkan mentor radikal sebagai pengajar.
-Susun kurikulum pendidikan yang memberi porsi penalaran dasar dan pembinaan akhlak kasih sayang serta cinta keberagaman.
Awasi mentoring-mentoring di kampus (atau lebih baik ditiadakan) agar tidak menjadi lahan perekrutan kader kelompok radikal.
-Model perekrutan lainnya: mahasiswa dari daerah ditawari kos gratis oleh kelompok radikal dengan syarat mau ikut ‘mengaji’ rutin. Hal ini perlu diwaspadai.
4. Jangan biarkan takmir-takmir masjid, remaja masjid, karang taruna, atau komunitas-komunitas remaja didominasi oleh para penganut radikal, caranya adalah, kader-kader moderat harus mendorong agar sebanyak mungkin pemuda dan remaja moderat agar mau berkiprah di berbagai organisasi tersebut. Bapak-bapak moderat jangan pasif saja, ramaikan masjid agar takmir masjid tak dikuasai kelompok radikal.
5. Kalangan Nahdliyin dan Muhammadiyah perlu lebih aktif menjadikan mimbar-mimbar  Jumat sebagai corong untuk menyerukan persatuan dan menentang kekerasan atas nama agama. Jangan biarkan mimbar-mimbar itu dijadikan corong menyuarakan kebencian dan perang.
6. Di kalangan mahasiswa perlu diperbanyak kelompok-kelompok kajian filsafat dan kelompok belajar yang comparative agar mereka tidak dikunci dengan 1 paham paling benar, yang lain salah.
7. Orang-orang moderat, rajinlah untuk bersuara di blog, twitter, WA, maupun Facebook. Bila tak mau berdebat, abaikan suara sinis, tak perlu ladeni perdebatan. Maju terus suarakan perdamaian agar suara ini lebih dominan daripada ajakan kebencian.
Demikian saja, semoga bermanfaat.
Foto: anak pengungsi Suriah (sumber: Reuters/Muhammad Hamed)
Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: