Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Buat Imperium, Demokrasi Itu Cuma Jualan

Buat Imperium, Demokrasi Itu Cuma Jualan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Sejatinya, akar konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium.

Imperium ingin terus mengeruk kekayaan dari berbagai penjuru dunia, tanpa pernah puas. Yang jadi korban bukan cuma negara-negara muslim. Jadi, kaum muslim ga usah baper-lah lalu membabi-buta mengaku jadi korban kaum kafir. Di belahan dunia lain, Amerika Selatan, misalnya, itu orang-orang ‘kafir’ juga jadi korban Imperium. Pemimpin-pemimpin pro-kesejahteraan rakyat di Argentina dan Brazil ditumbangkan, digantikan oleh orang-orang pro-Imperium. Venezuela saat ini sedang menghadapi agenda penggulingan rezim.

Kaum muslim Sunni juga usah baper, mengira sedang dizalimi kaum Syiah (di Suriah). Yang terjadi sebenarnya adalah Imperium sedang mengadu domba kaum muslim dengan memanfaatkan isu Sunni-Syiah (dari mana kita tahu? cek siapa yang mendanai dan menyuplai senjata kepada milisi “mujahidin” di Suriah; cek data bahwa penjualan senjata dari Eropa dan AS ke Timur Tengah meningkat tajam selama era Arab Spring).

Proses penghancuran rezim-rezim di berbagai negara demi kepentingan Imperium sudah dibahas oleh William Blum dalam bukunya “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan” (bisa beli di toko buku online).

Demokrasi hanyalah barang jualan buat Imperium. Kalau menguntungkan, mereka akan jual demokrasi itu, kalau perlu dengan mengorbankan darah jutaan warga sipil. Tapi kalau tidak menguntungkan, demokrasi disimpan di saku. Di satu sisi mereka berlagak menjadi ‘kampiun demokrasi’ (dan memaksa terjadinya perubahan rezim yang dituduhnya diktator), tapi di saat yang sama bersahabat erat dengan negara-negara penindas demokrasi, seperti Arab Saudi.

Di video ini, pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri AS, Stuart Jones (yang juga mantan Dubes AS untuk Irak dan Jordan), kelabakan saat ditanya wartawan:

“Saat Anda di Saudi, Menlu AS mengkritik pemilu di Iran dan rekam jejak Iran dalam demokrasi. Dia mengatakan itu dengan didampingi pejabat Saudi. Bagaimana Anda menilai komitmen Saudi pada demokrasi, dan apakah pemerintah (Trump) percaya bahwa demokrasi adalah cara untuk mencegah ekstrimisme?”

Dia terdiam cukup lama (dan disebut-sebut ‘diam paling lama’ dalam sejarah wawancara pejabat AS), matanya menerawang kosong, sampai akhirnya bisa menjawab gugup, eee..uh.. Dan jawabannya tentu saja tidak nyambung.

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: