Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » MBS

MBS

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

salman trumpMuda, impulsif, ambisius. Itulah sosok Pangeran Muhammad bin Salman (MBS). Kemarin ia diangkat jadi Putra Mahkota Arab Saudi (waliyul ‘ahd).

Setelah ayahnya, Salman bin Abdulaziz diangkat menjadi raja, MBS diberi banyak jabatan penting, antara lain Menteri Pertahanan, Ketua Dewan Ekonomi dan Pembangunan, komisaris Aramco, dan bahkan diangkat sebagai ‘Wakil Putra Mahkota’ (yang menjadi Putra Mahkota saat itu adalah sepupunya, Muhammad bin Nayef).

Sebagai Ketua Dewan Ekonomi, MBS berambisi mengangkat kembali perekonomian Saudi yang terpuruk akibat anjloknya harga minyak (dan keanjlokan ini juga kesalahan Saudi sendiri yang meningkatkan produksi agar harga minyak turun sedikit, sehingga mengalahkan para pesaingnya; namun turunnya malah kebablasan, sampai saat ini). MBS melakukan upaya diversifikasi ekonomi agar tak lagi bergantung pada minyak. Inilah yang melatarbelakangi tur Asia King Salman (yang akhirnya memberikan investasi 65 Miliar USD ke China tapi cuma invest 8 Miliar USD ke Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia).

 

MBS memotong berbagai pos anggaran negara yang dianggap boros, namun dengan enteng mengeluarkan uang 550 juta Dollar untuk membeli kapal pesiar, hanya beberapa jam setelah ia melihat kapal megah itu pada pandangan pertama. MBS sedemikian membenci Iran dan bersumpah akan memerangi Iran. Sentimen pribadi ini yang disinyalir mempengaruhi keputusannya menyerbu Yaman (yang dipandangnya sebagai proxy Iran), tanpa berkoordinasi dengan para seniornya, termasuk dengan Pangeran Mutaib bin Abdullah yang menjadi Ketua Pertahanan Nasional (National Guard). Serangan ke Yaman sama sekali tidak rasional, melupakan militansi orang Yaman yang sudah teruji ratusan tahun. Kocek Saudi jebol, defisit luar biasa, dibuang-buang untuk membeli senjata dan membayar pasukan.

MBS juga yang ada di balik skenario pengucilan Qatar (kemungkinan besar karena dikompori oleh sobat dekatnya, Pangeran Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab yang sejak lama sebal pada Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani). Upaya ini pun blunder. Qatar malah jadi ‘bintang’ dan tidak mau tunduk pada Saudi, selain karena merasa di atas angin (dari sisi diplomasi internasional) juga karena dapat dukungan dari Iran dan Turki. Hanya dalam waktu 12 jam, Iran mengirimkan makanan ke Qatar (karena hampir 100% kebutuhan Qatar selama ini diimpor dari Saudi). Di sisi ini, Iran pun ikut jadi ‘bintang’ dalam konflik ini. Saudi? Terpaksa menurunkan nada diplomatiknya, yang tadinya songong kepada Qatar menjadi lebih lunak.

Pengangkatan MBS sebagai putra mahkota sangat kontroversial. Sistem suksesi di Saudi tidaklah berupa ‘ayah mewariskan tahta ke anak’, melainkan mewariskan ke sesama anak mendiang King Abdul Aziz (pendiri Dinasti Saud) yang punya 45 anak dari beberapa istri. Pasca wafatnya Raja Abdullah, adiknya Salman yang diangkat jadi raja dan putra mahkota adalah adiknya yang lain, Muqrin. King Salman kemudian memecat Muqrin dan mengangkat Muhammad bin Nayef sebagai putra mahkota. Ini pun sudah melanggar aturan, karena Bin Nayef adalah keponakan King Salman (ayahnya, Nayef, sudah meninggal). Lalu kemarin, King Salman memecat bin Nayef dan mengangkat anaknya sendiri, MBS sebagai putra mahkota.

Saya melihat langkah berani melanggar tradisi dari King Salman ini karena ada dukungan dari AS. Sebelumnya, MBS sangat proaktif mendekati Trump. Ia mengunjungi Trump pada Maret 2017 dan menyebut bahwa kunjungan ini merupakan titik balik dalam relasi AS-Saudi ke arah yang lebih erat. Keinginan King Salman untuk ‘berlindung’ ke AS juga terlihat dari pengangkatan anaknya yang lain, Khaled bin Salman, sebagai Dubes Saudi untuk AS.

Kini, Trump (yang sepertinya juga dikendalikan menantunya yang Yahudi, Jared Kushner, yang sangat berperan dalam deal dengan Saudi) lebih memilih MBS sebagai raja penerus Saudi daripada Bin Nayef. Kunjungan MBS ke AS (Maret 2017) berbuah kesediaan Trump berkunjung ke Saudi pada Mei 2017 (dan ini menjadi kunjungan luar negeri Trump yang pertama). Tapi tentu tak gratis. Saudi merogoh kocek 110 Miliar Dollar dalam jangka 5 tahun untuk pembelian paket militer (keamanan perbatasan dan kontraterorisme, keamanan laut, modernisasi angkatan udara,pertahanan udara, kemanan sekuriti, dan upgrade fasilitas komunikasi).

Di akhir kisah, Trump yang sumringah. “It was a great day,” katanya, mengomentari kesepakatan penjualan senjata ke Saudi. Seminggu yang lalu, bahkan Qatar setuju membeli pesawat tempur F-15 dari AS senilai 12M USD, kemungkinan sebagai upeti agar Trump menahan MBS untuk tidak menyerang Qatar. []

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: