Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Falasi Logika Para Pembela Israel

Falasi Logika Para Pembela Israel

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

palestina1947-2008Dulu, sejak saya aktif menulis tentang konflik Palestina di blog dan kompasiana (sekitar tahun 2007), saya juga banyak diserang (tapi tidak semasif setelah saya nulis tentang Suriah, mulai 2011 akhir). Para penyerang saya itu amat pro-Israel, mengata-ngatai saya seenaknya, antara lain penganut teori konspirasi, bigot, kurang baca sejarah, pro teroris, dll. Setelah konflik Suriah meledak, mereka ongkang-ongkang kaki, mungkin sambil tertawa, karena yang menyerang saya sudah amat banyak dan sadis (yaitu orang-orang Islam pro-jihadis alias teroris Suriah).

Kini, konflik Suriah agak mereda, dan kejahatan Israel kembali jadi sorotan, sehingga para pembela Israel ini mulai bangkit bergerilya di medsos. Kali ini saya coba mengupas logical fallacy-nya orang-orang ini.

Ada penulis status fesbuk nulis gini. “Nggak kebayang betapa frustasinya tentara Israel ngadepin orang Palestina, mau dikerasin mewek, bilangnya melanggar HAM, kalo ga diantisipasi, nyawa bisa melayang kapan aja.”

Dalam bab falasi (silahkan baca lagi status kuliah logika di fanpage ini), ada yang disebut Falasi Non Causa Pro Causa, berargumentasi yang salah karena keliru mengindentifikasi sebab. Dalam kalimat di atas, yang dianggap sebagai sebab kekerasan/kejahatan tentara Israel adalah sikap orang Palestina-nya. Israel hanya defensif demi melindungi nyawa.

Logika ini disampaikan banyak media, coba perhatikan, kalimat yang diulang-ulang adalah, “Bentrokan ini terjadi setelah dua tentara Israel dibunuh oleh warga Palestina…” Dulu ketika serangan besar Israel ke Gaza, yang diberitakan “Serangan ini terjadi setelah Hamas melemparkan roket ke Israel…”

Sayangnya, yang berfalasi ini bukan cuma orang-orang pro-Israel, tapi juga yang sebenarnya pro-Palestina, tapi tidak menyadari adanya falasi dalam kalimat ini.

Manakah yang menjadi ‘sebab’ dari aksi-aksi brutal tentara Israel? Apakah ini gara-gara segelintir orang yang membunuh tentara Israel? Untuk lebih mudah membayangkan, gini, bayangkan Anda nonton film perang kemerdekaan, tonton film di menit ke 30, misalnya, pada adegan ketika seorang warga Indonesia membunuh tentara Belanda. Stop di situ, lalu pikir: siapa yang salah? Siapa yang jadi sebab kejadian itu?

Orang yang falasi (berlogika salah) akan melupakan 30 menit awal film, tapi fokus di menit ke 30 itu dan menyatakan bahwa si warga Indonesia yang salah. “Ngapain membunuh tentara Belanda?? Tentara itu ya tugasnya menjaga keamanan! Belanda itu baik lho, jauh-jauh datang ke Indonesia untuk memajukan Indonesia yang dulu primitif! Coba ga ada Belanda, Indonesia masih hutan ampe sekarang!”

Nah bayangkan juga ada film tentang Palestina, lalu Anda fokus hanya pada adegan seminggu yang lalu, ketika ada dua tentara Israel tewas diserang oleh warga Palestina. Kalau Anda fokus di momen itu, terlihat yang salah adalah warga Palesina. Di sinilah falasi terjadi, salah dalam berpikir.

Tapi coba Anda mundur lagi ke belakang. Mundur sedikit saja ke tahun 2015 misalnya. PBB melaporkan bahwa sepanjang tahun 2015 ada pembombardiran terhadap 96 sekolah, 46 serangan terhadap pelajar dan guru, dan 62 kasus gangguan terhadap proses belajar-mengajar, seperti penutupan sekolah dan pemenjaraan para guru dan murid. Khusus di Gaza, ada 262 sekolah dan 274 TK yang rusak atau hancur dalam serangan tentara Israel tahun 2014.

Atau mundur ke semester pertama tahun 2016, ketika 450 rumah warga Palestina yang dihancurkan dan lebih dari 3.000 hektar tanah milik warga Tepi Barat yang dirampas untuk dijadikan permukiman Yahudi.

Lalu, coba mundur jauh ke tahun 1947, ketika PBB mengeluarkan Resolusi PBB 181 yang membagi dua wilayah Palestina, 56% dialokasikan menjadi “negara Yahudi” dan sisanya untuk “negara Arab”. Sementara itu, pengelolaan kota Yerusalem diberikan kepada Special International Regime. Tapi Israel terus melakukan agresi sehingga, wilayah Palestina pun banyak yang dicaplok dan kini hanya kurang dari 50% tersisa dari “jatah” yang semula dikasih PBB.

Lalu, mau mundur lagi? Mengapa PBB semena-mena memberikan jatah tanah untuk orang Yahudi bikin negara khusus Yahudi di sana? Pembahasannya panjang, insyaAllah saya tulis berikutnya. Tapi satu hal yang perlu dicatat: KLAIM AGAMA yang dipakai Israel sangat salah kaprah. Masa Tuhan memerintahkan manusia membunuh demi sebuah negara khusus etnis/agama tertentu? Kalau benar demikian, buat apa Dia menciptakan manusia dengan beragam etnis/agama? Yang jelas itu bukan Tuhan yang saya ‘kenal’. Dan bahkan Rabi Yahudi yang waras pun sudah melakukan penentangan atas klaim ini (coba google Neturei Karta, organisasi Rabi Yahudi penentang Israel).

Dan… tentu saja saya tidak mau menghabiskan waktu untuk berdebat masalah klaim agama. Saya akan pakai data-data yang dianggap valid dalam dunia akademis untuk membahas konflik ini. Bersambung ke bagian 2.

Foto: peta perubahan wilayah, terlihat wilayah ‘jatah’ warga Arab Palestina kini jauh lebih sedikit dari yang semula ditetapkan PBB karena dirampas Israel.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: