Kajian Timur Tengah

Beranda » Ekonomi Politik Global » Tentang Palestina (3): Mengapa Orang Indonesia Harus Membela Palestina?

Tentang Palestina (3): Mengapa Orang Indonesia Harus Membela Palestina?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
demo pro palestina
Alasan 1: Nasionalisme Indonesia
Para pembela Israel berkulit sawo matang terus mengulang-ulang narasi bahwa “Yang teroris adalah orang Arab Palestina, yang jadi korban adalah Israel.” Persis seperti yang dikatakan Obama berulang-ulang selama ia menjadi Presiden AS, “Amerika berkomitmen pada keamanan Israel. Dan kita akan selalu mendukung hak Israel untuk membela dirinya di hadapan ancaman yang nyata. Selama bertahun-tahun Hamas telah meluncurkan ribuan roket kepada warga Israel yang tak berdosa.”
Saya sudah jelaskan tentang falasi non-causa pro-causa, nah kalimat Obama ini salah satu contohnya (baca lagi tulisan saya seri falasi para pembela Israel).
Sekarang saya ingin bertanya: para pembela Israel ini patuh pada Presiden AS atau Presiden Indonesia?
Pak Jokowi dalam pembukaan KTT LB OKI di Jakarta Maret 2016, mengatakan, ”Pada tahun 1962, Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, Bung Karno, menegaskan: “… selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel’… Kami bangsa Indonesia konsisten dengan janji tersebut. Hari ini, Indonesia berdiri bersama dengan negara-negara OKI untuk meneruskan perjuangan yang belum selesai itu.”
Jadi, pemerintah kita sejak zaman Pak Sukarno sampai hari ini selalu berada di pihak Palestina. Sama sekali tidak ada ‘pertanyaan’, mana yang jadi ‘korban’ (upaya blaming the victim). Ini sesuatu yang sudah jadi fakta: Palestina itu dijajah oleh Israel, titik. Pembukaan UUD 45 memberi mandat kepada bangsa Indonesia untuk membela bangsa-bangsa terjajah.
Jadi para pembela Israel berkulit sawo matang itu memang patut dipertanyakan nasionalismenya: mengapa mereka patuh sama Presiden Presiden AS dan Israel? Mengapa narasi yang mereka sampaikan malah membeo perkataan Presiden AS dan Israel? Apa bedanya mereka dengan warga Turki kaburan di Indonesia yang lebih memuja Erdogan, atau warga Indonesia yang berbaiat pada ‘negara’ illegal nun jauh di sana (ISIS)?

Alasan 2: Karena “Palestina adalah Kita”
Terkadang ada yang menggugat, “Negeri kita ini masih banyak masalah. Orang Arab saja tidak peduli pada Palestina, mengapa kita harus sibuk membantu?”
Untuk menjawabnya, mari kita dengar dulu apa yang diceritakan John Perkins, penulis buku Confessions of an Economic Hit Man. Menurut kesaksiannya, modus operandi lembaga-lembaga keuangan AS dalam mengeruk uang adalah dengan memberikan hutang raksasa kepada negara-negara berkembang. Kata Perkins,
“Salah satu kondisi pinjaman itu –katakanlah US $ 1milyar untuk negara seperti Indonesia atau Ekuador—negara ini kemudian harus memberikan 90% dari uang pinjaman itu kepada satu atau beberapa perusahaan AS untuk membangun infrastruktur—misalnya Halliburton atau Bechtel. Ini adalah perusahaan yang besar. Perusahaan-perusahaan ini kemudian akan membangun sistem listrik atau pelabuhan atau jalan tol, dan pada dasarnya proyek seperti ini hanya melayani sejumlah kecil keluarga-keluarga terkaya di negara-negara itu. Rakyat miskin di negara-negara itu akan terbentur pada hutang yang luar biasa besar, yang tidak mungkin mereka bayar.”
Lalu siapakah pemilik Halliburton atau Bechtel yang disebut Perkins? Sebagian saham Halliburton dikuasai Soros, bisnismen Yahudi yang berperan penting dalam ambruknya perekonomian Asia (termasuk Indonesia, tentu saja) tahun 1997. Bechtel pun dimiliki oleh keluarga Yahudi Amerika. Ini baru dua di antara sekian banyak perusahaan transnasional yang mengeruk uang sangat-sangat banyak di seluruh dunia.
Bila kita mempelajari bagaimana sepak terjang berbagai perusahaan transnasional yang dikuasai oleh pebisnis Yahudi dalam mengeruk uang (sebagiannya telah ditulis oleh Perkins), kita dapat menyimpulkan bahwa mereka melakukan aktivitas ekonomi yang kotor dan menghalalkan segala cara. Indonesia adalah saksinya. Anda bisa mulai mengecek siapa saja pemilik saham perusahaan-perusahaan minyak transnasional yang mengeruk minyak kita, sementara kita setiap hari harus impor minyak dari luar.
Lalu, kemana mereka mengalirkan uang itu? Haaretz (koran Israel) pernah menulis bahwa ada istilah Ibrani yang menjadi standar nilai moral di kalangan Yahudi, yaitu ‘tzedakah’. Haaretz mengutip seorang peneliti yang menyebutkan bahwa orang-orang kaya Yahudi memiliki keterikatan kekeluargaan yang sangat erat dan menjadikan ‘tzedakah’ sebagai sebuah kewajiban moral. Inilah yang membuat Israel ‘hidup’ hingga hari ini, mampu melanjutkan kejahatannya di Palestina, serta tak pernah bisa diajak bernegosiasi secara adil demi kehidupan damai di Palestina.
Jadi, membela Palestina pada hakikatnya adalah membela diri kita. Kita pun adalah korban dari tatanan ekonomi global yang tidak adil, yang diatur oleh para penguasanya, yaitu para pebisnis Yahudi. Karena itu, pembelaan pada Palestina sebenarnya harus dikaitkan dengan aspek ekonomi-politik global. Ironis sekali kalau membela Palestina hanya sebatas demo menye-menye melaknat Zionis karena kasus-kasus sporadik, tetapi sehabis demo makan di restoran waralaba yang bos besarnya secara rutin menyumbang ke Israel.
Seperti pernah ditulis Gilad Atzmon (ia seorang Yahudi pembela Palestina), “Palestina adalah kita karena kita menghadapi musuh yang sama.”
.
.
Penjelasan lebih lanjut mengenai aspek ekonomi-politik global yang dikaitkan dengan Israel, baca tulisan saya di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/09/18/ekonomi-politik-global-dominasi-dollar-penjajahan-the-fed-penjajahan-israel-atas-palestina/

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: