Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Tentang Palestina (4a): Dimana Jalan Keluar?

Tentang Palestina (4a): Dimana Jalan Keluar?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
israel-kids

seorang pria Israel dan putranya

Para pembela Israel suka komen menye-menye: “Israel ini negara kecil di tengah kepungan negara-negara Arab! Mereka setiap saat berada dalam ancaman orang-orang Arab rasis! Kenapa sih, orang-orang Arab itu ga mau bertetangga baik-baik saja dengan kaum Yahudi?”

 

Pertama, kalimat di atas melupakan bagaimana proses “tetangga baru” (Yahudi imigran) datang ke Palestina; melupakan fakta bahwa sebelum Yahudi Zionis Eropa berambisi membuat negara-rasis-khusus Yahudi, orang-orang Yahudi-Arab hidup berdampingan ribuan tahun dengan warga Kristen-Arab dan Muslim-Arab di Palestina; melupakan kejadian pembantaian dan pengusiran besar-besaran yang dilakukan milisi “jihad” Yahudi tahun 1947-1948 (periode antara Resolusi 181/1947 dengan deklarasi Israel Mei 1948), dst.

Kedua, kalimat di atas melupakan fakta bahwa rezim-rezim monarkhi Arab justru mesra dengan Israel. Malah raja/emir Arab itu pembela setia Israel. Mereka rela angkat senjata demi Israel (misalnya, Saudi, Qatar, Jordan, dkk memerangi Suriah, demi apa? Demi kerang ajaib? Demi Israel, Om!)

Artinya, Israel ini meskipun ‘kecil’ dan miskin sumber daya alam, sebenarnya negara yang sangat kuat secara politik dan ekonomi. Kok bisa? Karena backing utama Israel adalah negara adidaya dunia, Amerika Serikat.

Anda bisa baca buku saya Obama Revealed (bisa didonlot gratis filenya), di situ saya bahas satu persatu para  menteri dan staf Obama, semuanya terkait dengan Israel. Anda bisa baca paper karya dua profesor HI, Mearsheimer and Walt (bisa donlot gratis juga filenya), mereka membuktikan bahwa seluruh perang yang dilancarkan AS ke Timur Tengah adalah demi Israel karena doktrin kebijakan luar  negeri AS adalah “kepentingan nasional AS sama dengan kepentingan nasional Israel” (dan tentu saja, ini dikritik oleh kedua pakar HI tersebut).

Jadi, pandangan pesimisnya, selama AS masih terus membela Israel, menghabiskan sumber daya yang amat-sangat besar demi membela Israel (hingga merugikan warganya sendiri), Israel takkan terkalahkan.

Tapi, pandangan optimisnya: “tak ada yang abadi”. AS sekuat apapun, suatu saat akan tumbang, sebagaimana tumbangnya berbagai imperium besar sepanjang sejarah. Masyarakat sipil bisa bergerak dan punya andil dalam perjuangan ini.

Bagaimana caranya?

  1. Pahami dulu, opsi apa sih yang mungkin diambil?

Kaum radikal, baik Islam maupun Yahudi, hanya percaya pada perang, doktrin zero sum game (kamu atau aku yang mati). Kedua pihak ini punya dalil “jihad”-nya  masing-masing. Dan kalau doktrin itu yang dipegang, tak ada gunanya PBB bersidang selama ini, tak ada gunanya negosiasi panjang selama ini, tak ada gunanya para peneliti di bidang Resolusi Konflik bikin penelitian dan paper-paper. Buang semua paper ke laut.

Jadi, silahkan, mau pakai doktrin zero sum game, atau mau berpikir mencari alternatif. Sebagai intelektual, saya merasa punya tugas memberitahukan alternatif, karena itu bisa menjadi dasar kita bergerak selanjutnya.

Opsi resolusi konflik Palestina secara garis besar ada dua. PBB mendukung two-state solution (dua negara berdiri berdampingan). Ada lubang besar dalam tawaran ini, yaitu sifat alami (nature) dari Rezim Zionis sendiri.

Seperti ditulis sejarawan Yahudi, Ilan Pappe, sifat alami Rezim Zionis sejak didirikan adalah menyerang, mengusir, dan menduduki wilayah milik orang-orang Palestina. Terbukti, hingga hari ini, Israel masih terus melakukan kekerasan, yang dibalas oleh para pejuang Palestina; pembangunan permukiman terus dilanjutkan, bahkan ditambah pula dengan pembangunan Tembok Zionis. Israel juga melancarkan perang terbuka secara terang-terangan, seolah mengejek dunia internasional yang tidak mampu berbuat apa-apa. Karena itu, perlu dicari solusi lain yang lebih masuk akal.

Opsi kedua adalah one state solution, yaitu ide untuk mendirikan sebuah negara bersama Palestina-Israel, dengan dihuni oleh semua ras dan agama yang semuanya memiliki hak suara. Bila ide ini diterima, konsekuensinya, Rezim Zionis dibubarkan, begitu pula Otoritas Palestina; semua batas wilayah Palestina-Israel dihapus dan dilebur ke dalam satu negara; para pengungsi diizinkan kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing; serta dilakukan referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan dan menetapkan pejabat pemerintahan itu.

Ide ini dilandaskan pada pemikiran berikut:

  1. Bila Rezim Zionis terus berdiri, perang tidak akan pernah berhenti karena cita-cita Zionis adalah mendirikan negara khusus Yahudi dan untuk itu, mereka akan terus mengusir orang-orang Palestina demi memperluas wilayahnya.
  1. Bila Palestina ingin mendirikan negara khusus Palestina dan mengusir keluar orang-orang Yahudi, perang juga akan terus berlanjut. Namun dalam perang ini, Palestina berada dalam posisi yang lebih lemah: wilayahnya lebih kecil dan terpisah, dikepung oleh wilayah Israel, serta kekurangan logistik karena blokade Israel. Akibatnya, lagi-lagi, penindasan akan terus berlangsung di Palestina.

Pertanyaannya, mungkinkah kedua pihak mau menerima ide ini? Eits, jangan kuper, sudah ada gerakan-gerakan sipil di Israel dan Palestina yang mengusung ide ini. Yang menolak adalah kalangan radikal (baik dari Yahudi maupun Muslim) dan politisi yang diuntungkan oleh status quo.

Sebagian orang mengkhawatirkan nasib orang-orang Yahudi bila para pengungsi Palestina kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing. Namun, hal itu bisa diatasi dengan undang-undang yang adil. Di antara solusinya adalah ganti rugi yang layak bagi orang-orang Palestina yang rumah/tanahnya ternyata sudah diduduki orang Yahudi. Dengan uang ganti rugi itu, mereka bisa membeli tanah/rumah baru di lokasi yang berdekatan atau di tempat lain. Tidak perlu ada pengusiran di manapun karena akan menimbulkan konflik baru.

Di sini, poin utama yang dibutuhkan adalah kesamaan pandangan dan motivasi dari semua pihak yang bertikai, yaitu motivasi untuk menciptakan negara yang demokratis dan adil. Untuk mencapai kondisi seperti ini, Dr Ilan Pappe (akademisi asal Israel) mengatakan diperlukannya ‘pendidik’ (educator).

“Ada perbedaan besar antara two state solution dan one state solution. Untuk two state solution, diperlukan politisi, tapi untuk one state solution, diperlukan pendidik. Pendidik adalah orang-orang yang tidak mengharapkan hasil dalam satu-dua tahun. Bahkan mungkin terjadi, para pendidik itu tidak melihat hasil kerja mereka sampai mereka mati. Apa yang tidak bisa dilakukan Yossi Beilin, saya bisa lakukan: mati tanpa mengetahui apakah benih pendidikan tentang satu negara bersama Yahudi-Arab akan berbuah atau tidak. Seorang politisi tidak bisa melakukan hal seperti ini, bukan karena dia tidak mau konflik berakhir, tapi karena dia tidak mau karir politiknya berhenti.” (Ilan Pappe)

 

Perkataan Pappe senada dengan seruan Ahmadinejad,

“Saya pikir, semua pembunuhan dan perang sudah cukup. Telah tiba waktunya (untuk menegakkan) semua sisi persaudaraan dan perdamaian. Tentu saja, yang mengambil langkah awal dalam menegakkan keadilan adalah para pemikir, cendekiawan, ulama, dan orang-orang yang hatinya dipenuhi hanya oleh cinta kepada kemanusiaan, kemuliaan kemanusian, dan perdamaian. Kita harus saling bergandengan tangan dalam melakukan usaha global untuk menegakkan perdamaian dan mengikis akar ketidakamanan dan ketidakadilan di dunia.”

 

(bersambung ke bagian 4b)

 

Soft file Obama Revealed: http://ic-mes.org/politics/unduh-gratis-obama-revealed/

Soft file paper Mearsheimer:  https://dinasulaeman.files.wordpress.com/2014/06/israel-lobby-mearsheimer.pdf

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: