Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Pesan-Pesan untuk Kalian (Tentang Rohingya)

Pesan-Pesan untuk Kalian (Tentang Rohingya)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

THAILAND-SEASIA-MIGRANTSBerikut ini pesan saya untuk 3 pihak:

-yang pingin jihad ke Myanmar
-yang pingin nyumbang dana
-yang bilang “kalian tu nyebelin sih, ga beradab, pantesan aja diusir melulu”

A. Buat yang ngotot ingin berjihad ke Myanmar

Marah? Harus dan wajar. Namun nalar dan akal sehat jangan sampai menguap dari didihan darahmu.

Tak pernahkah kau berpikir, sekali menjejakkan kaki di sana dengan tujuan ‘mulia’ itu, engkau praktis di bawah komando sesuatu yang bukan dalam kuasamu?

Mampukah engkau menolak perintah untuk berbuat kerusakan di luar tujuan kedatanganmu? Bisakah engkau sekonyong-konyong pulang kapanpun kau mau?

Konflik Syria adalah blueprint dari pola ini. Puluhan ribu ‘jihadis’ asing berbondong-bondong tiba ke Syria, dengan niat ‘menolong’ – namun mereka malah menyebabkan kondisi menjadi semakin parah.

Sebelum kau bulatkan tekadmu, coba cari tahu, siapa yang akan menyokong logistikmu disana nantinya. Selami ujarannya, terka niatnya, selidiki darimana uangnya.

Jangan sampai engkau hanya menjadi versi lain dari Wirathu yang bengis itu. (copas dari Badr Basseem)

B. Buat yang pingin nyumbang buat Rohingya (atau untuk konflik manapun di luar negeri)

Saya melihat kecenderungan orang Indonesia ini giat sekali menyumbang buat orang di luar negeri daripada untuk saudara sebangsa. Antara lain buktinya, bisa dibaca di laporan keuangan sebuah lembaga donasi, terlihat jumlah donasi untuk luar negeri jauh lebih banyak [https://www.facebook.com/satria.mahendra/posts/10155213733188172 ].

Tentu saja saya tidak menyalahkan pemberian sumbangan, mau kemanapun itu terserah orang yang punya duit tho. Saya juga beberapa kali nyumbang buat Palestina.

Tapi saya ingin berpesan satu hal. Konflik Suriah, menurut saya, sudah membuka kedok sebagian lembaga donasi. Untuk isu Suriah ada lembaga-lembaga donasi yang mempropagandakan sektarianisme (kebencian pada pihak lain yang dianggap kafir), bahkan pakai foto-foto palsu.

Tujuannya tentu saja, untuk membangkitkan kemarahan publik (dan kesedihan) sehingga publik merogoh kocek dalam-dalam. Entah untuk isu lainnya, saya tidak mengamati. Masih tentang Suriah, ada beberapa lembaga donasi yang ketahuan bantuannya sampai ke pihak “jihadis”.

Jadi, buat saya pribadi, kalau mau nyumbang, saya akan cek rekam jejak lembaganya, pernah sebar hoax ga? Dan dulu saat menggalang dana Suriah, kemana mereka menyalurkannya?

C. Buat kalian yang menulis status menjelek-jelekkan orang Rohingya demi membela junta militer Myanmar. Blaming the victim, menyalahkan korban. “Pantes aja elo diusir-usir, elo ga bener sih!” begitu kurang lebih kata kalian.

Jawaban saya begini:

(1) Etnis Rohingya memang benar tertindas, diusir dimana-mana, tidak diakui oleh Myanmar, tidak pula diakui oleh Bangladesh. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang diperkosa. Jadi, mereka memang harus ditolong. Lembaga-lembaga resmi seperti PBB juga sudah mengakui bahwa mereka ini etnis yang sangat tertindas.

(2) Catatan sejarah yang valid menyebutkan bahwa mereka itu sudah berabad-abad tinggal di tanah itu. Dulu memang namanya bukan Myanmar. Tapi mereka ada dan terus-menerus hidup di sana. Beda kasus dengan orang Yahudi Israel yang berdatangan ke Palestina pada era modern dan mengklaim berhak atas tanah itu karena dulu, ribuan tahun yang lalu, nenek moyang mereka tinggal di Palestina.

(3) Bahwa banyak orang Rohingya nyebelin, ya wajar sajalah. Namanya juga orang yang termiskinkan, terbodohkan, tertindas. Kalian mau mereka bersikap ala bangsawan? Tapi bagaimana sikap dan karakter mereka, tidak boleh membuat kita melupakan poin 1.

(4) Pemerintah Indonesia akan sangat kerepotan kalau menerima pengungsi Rohingya. Saat inipun sudah ada 11.000 pengungsi asing di Indonesia (dari berbagai negara). Selain masalah ekonomi, dampak buruk sosialnya juga tidak bisa dianggap enteng. Tapi tidak berarti kita boleh mencaci-maki, menyalah-nyalahkan, dan menolak menolong orang Rohingya. Yang perlu dipikirkan adalah BAGAIMANA CARANYA.

Yang pasti, opsi menerima mereka di Indonesia bukan opsi yang tepat dan pemerintah kita lebih tahu soal itu. Makanya saat Mei 2015 mereka terdampar di Aceh, pemerintah menyatakan hanya menyanggupi menampung mereka 1 tahun saja, setelah itu mereka harus pindah ke negara ke-3. Saat ini, kabarnya, hanya 99 pengungsi Rohingya yang masih ada di kamp pengungsian di Aceh (yang lain kabur ke Malaysia ).

***

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: