Kajian Timur Tengah

Beranda » Resolusi Konflik » Analisis Konflik: Aggravating Factor

Analisis Konflik: Aggravating Factor

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Sebelum ini, baik di seminar, di blog, atau di fanpage, saya berkali-kali menjelaskan bahwa dalam menganalisis konflik, ada 4 faktor yang perlu diteliti, akar, pemicu, faktor yang memperuncing konflik (aggravating factor) dan faktor mobilisasi. Dalam perang Suriah, menurut saya, perdagangan senjata dan NGO Barat masuk ke dalam aggravating factor ini. Kalau pedagang senjata sih sudah jelas ya, mereka memang ingin dapat keuntungan dari jualan senjata, karena itulah mereka ingin perang selalu ada.

Bagaimana dengan NGO? Mereka ini antara lain perannya:

(1) terlibat dalam suplai senjata dan rekrutmen petempur

NGO seperti ini biasanya berkedok menggalang dana, namun kemudian penyalurannya malah kepada kelompok teroris yang menjadi proxy Imperium untuk mengganggu sebuah negara. Selengkapnya bisa dibaca di Banjir Senjata ke Teroris Syria, Dari Mana?” (karya Wendy Wong)

(2) memprovokasi massa di daerah konflik agar memilih opsi yang disukai oleh para juragan perang. Misalnya, untuk Kurdistan Irak, aktivis NGO Barat akan mendorong publik di sana agar sepakat untuk bereferendum. Seolah-olah ini demokratis dan menuju kepada situasi yang lebih baik. Tapi lagi-lagi, kalau dilihat dari peta besar konflik (taruh 4 faktornya secara utuh), NGO-NGO itu tak lebih dari perpanjangan tangan juragan perang (yaitu Imperium).

Pembahasannya agak rumit buat orang yang terbiasa berpikir hitam putih (kalau kamu menolak A, pasti kamu golongan B, padahal ada banyak kemungkinan di antara A dan B, misalnya A’, A”, ..dst).

Di satu sisi, yang disuarakan NGO-NGO di wilayah konflik adalah hal-hal yang sepertinya baik. Misalnya, di Mesir, NGO-NGO yang didanai Barat ‘membantu’ anak-anak muda Mesir agar mereka mampu mengadakan aksi-aksi demo menentang Husni Mubarak. Di satu sisi, Husni Mubarak sudah lama berkuasa, despotik, dan korup, sehingga wajar bila rakyatnya bangkit berdemo menuntut penggulingan Mubarak. Tapi bila yang memulai/mendesain aksi-aksi demo itu adalah kelompok-kelompok yang dibiayai Barat, tentu analisisnya jadi tidak sederhana. Anda percaya, AS sedemikian baik hati membantu warga Mesir agar mereka terbebas dari Mubarak? Bantuan murni, tanpa imbal balik?

Sama seperti di Myanmar. Yes, di satu sisi, tindakan biadab junta militer Myanmar terhadap etnis Rohingya adalah kejahatan kemanusiaan. Tapi bila yang aktif menyuarakan pembelaan terhadap etnis Rohingya adalah NGO-NGO yang didanai Soros, tokoh konglomerat dunia yang rekam jejaknya ada di berbagai aksi penggulingan rezim di berbagai penjuru dunia, tentu ada aspek-aspek lain yang perlu dimasukkan dalam analisis kita, antara lain geopolitik dan ekonomi politik.

Masa Anda percaya saja ketika Soros menulis di media bahwa simpatinya pada etnis Rohingya karena dia sebagai orang Yahudi dulu pernah jadi korban NAZI? Seolah bantuannya adalah murni demi kemanusiaan. Anda percaya? Kalau ya, sudahlah, skip saja tulisan ini. Tulisan ini bukan untuk orang-orang naif, maaf.

Di Kurdistan, Irak, aktivis-aktivis NGO Barat mendorong publik di sana agar sepakat untuk bereferendum. Seolah-olah ini aksi demokratis demi menuju kepada situasi yang lebih baik. Tapi orang yang paham geopolitik dan ekonomi-politik tak akan mudah itu tertipu propaganda mereka. Follow the money, itu rumusnya.

Di Suriah, peran mereka luar biasa dalam mendistorsi informasi sehingga mayoritas publik pun ‘menyetujui’ narasi mereka: Assad adalah presiden yang kejam dan harus digulingkan. Kalau perlu, NGO-NGO ini menebarkan hoax dan kebohongan demi membunuh karakter sebuah pemerintahan yang ingin digulingkan oleh Washington.

Pada awal 2015, Ken Roth, Direktur Human Rights Watch (HRW), men-tweet sebuah foto yang disebutnya foto dari Syria, di mana sebuah kawasan telah hancur menjadi puing-puing. Roth mendeskripsikan foto itu sebagai berikut, “foto dari udara untuk memperlihatkan apa yang telah diakibatkan oleh bom barrel Assad di Aleppo”. Kemudian terbukti bahwa tweet Roth adalah hoax, foto itu sebenarnya adalah kawasan Gaza yang hancur akibat pengeboman tentara Israel.

Laporan-laporan HRW maupun Amnesty Internasional terkait Suriah sangat cacat secara metodologi, tapi laporan itu dikutip luas oleh media sehingga dianggap ‘pasti benar’ oleh publik (saya menuliskan analisis atas cacatnya laporan mereka dalam buku saya “Salju di Aleppo“).

Asal tahu saja, HRW menunjuk agen CIA Miguel Diaz untuk menjadi anggota Dewan Penasehat, atau Javier Solana, mantan Sekjen NATO dan arsitek pengeboman Yugoslavia tahun 1999 (sebuah perang yang dikutuk oleh HRW sendiri pada tahun 2000) menjadi anggota Dewan Direktur HRW.

Jadi, masih percaya NGO seperti ini murni ‘membantu rakyat tertindas’?

Saya pernah menyarikan tulisan panjang Patrick Henningsen terkait peran NGO dalam memuluskan agenda perang NATO di berbagai penjuru dunia. Silahkan simak di sini:

http://ic-mes.org/politics/peran-lsm-ham-dalam-eskalasi-perang-nato-1/

http://ic-mes.org/politics/peran-lsm-ham-dalam-eskalasi-perang-nato-2/

http://ic-mes.org/politics/peran-lsm-ham-dalam-eskalasi-perang-nato-3/

Amnesty-NATO

Keterangan foto:

Pada bulan Mei 2012, NATO mengadakan konferensi puncak tahunan di Chicago. Pada pekan yang sama, Amnesty Internasional juga melancarkan kampanye secara luas di kota itu, dengan kalimat utama yang tertera di foto: “HAM untuk Perempuan dan Anak di Afghanistan – NATO: Lanjutkan Kemajuan!”

Di sini terlihat bahwa Amnesty menjalankan public relations dengan tujuan agar publik percaya bahwa aktivitas NATO di Afghanistan semata-mata demi HAM (dan membela perempuan).

Di satu sisi, benar, perempuan Afghanistan yang tertindas Taliban harus dibela. Di sisi lain, tolong pertanyakan:
-Siapa yang mendirikan dan mendanai Taliban&Al Qaida
(jawab: AS)

-Siapa yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari perang panjang di Afghanistan dengan alasan “melawan terorisme”?
(jawab: perusahaan-perusahaan transnasional AS)

-siapa funding Amnesty Internasional?
(jawab:… masa masih belum bisa menebak juga? — silahkan baca: https://www.globalresearch.ca/amnesty-international-is-us-state-department-propaganda/32444

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: