Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah » Mereka yang Menulis dalam Sunyi

Mereka yang Menulis dalam Sunyi

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
vanessa

Clara Connolly dkk saat mengganggu acara Media on Trial

Selama 6 tahun terakhir, banyak orang Indonesia ‘menyerang’ saya akibat tulisan-tulisan saya soal Suriah. Padahal sebenarnya bukan cuma saya yang menulis dalam narasi anti-mainstream soal Suriah (berlawanan dengan narasi media mainstream), ada banyak, tapi awalnya, kebanyakan dalam bahasa Inggris. Akhir-akhir ini sudah sangat banyak facebooker dan netizen yang bersuara sama dengan saya, alhamdulillah. Saya tak perlu lagi sering menulis karena sudah banyak yang lain.

Tapi dulu, di awal-awal, ini adalah pekerjaan yang ‘sunyi’. Ada beberapa facebooker yang bekerja diam-diam di balik layar, membuat beberapa fanpage, ‘berperang’ melawan fanpage-fanpage pro-‘mujahidin’ (dan seperti biasa, FP pro-teroris ini menyebarkan berita hoax sambil menyerukan penggalangan dana). [1]

Adakah orang-orang ‘segila’ itu? Ada, dan saya pun sebenarnya juga memiliki ‘kegilaan’ yang sama. Mengamati perang, menulis, menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari, tanpa bayaran. Itu sudah saya lakukan sejak lama, sejak 2007 (sejak membuat blog Kajian Timteng). Sebenarnya ini tidak aneh. Betapa banyak blogger yang mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk menulis di blog, di bidang yang mereka minati masing-masing.

Saat ini pun, meski grup admin fanpage yang saya sebut di paragraf dua sudah bubar, saya masih menemukan orang-orang dengan ‘kegilaan’ yang sama. Mereka mengikuti jalannya perang menit per menit, hafal luar kepala setiap inci wilayah Suriah dan Irak, pergerakan pasukan ini-itu, konstelasi konfliknya, dst. Mereka menulis juga, dengan semangat perlawanan. Melawan kekuatan imperialis global yang sedang berusaha menghancurkan negara-negara di Timur Tengah.

Dan ini bukan cuma orang Indonesia, netizen luar negeri pun banyak sekali yang demikian. Di antara mereka, bahkan ada yang lebih ‘gila’ lagi. Mereka adalah jurnalis independen, bersusah-payah mengumpulkan uang untuk kemudian datang ke Suriah dan meliput langsung ke sana. Karena mereka aktif menulis dalam bahasa Inggris, gaungnya jauh lebih besar; meski dibandingkan hiruk-pikuk media mainstream yang jejaringnya meraksasa, tulisan mereka tetap berada dalam kesunyian. Dan mereka pun mendapatkan serangan, tentu saja (well, saya saja yang ibuk-ibuk dianggap berbahaya dan perlu diserang/difitnah habis-habisan, apalagi jurnalis independen seperti mereka). Antara lain tuduhannya adalah: Assadist (dibayar Assad), atau dibayar Rusia. Seolah tak mungkin ada orang-orang yang menulis karena passion, karena perlawanan.

Dua di antara jurnalis independen yang saya maksud adalah Vanessa Beeley dan Eva Bartlett. Menghadapi tuduhan bahwa ia penulis bayaran Rusia atau Assad, Eva menulis di akun Facebook-nya, sebagai berikut.

“Menulis kebenaran tidak mendatangkan uang. Situs-situs independen yang berani untuk memuat tulisan kebenaran biasanya tidak mampu memberi honor lebih dari $50 per artikel, atau tidak membayar sama sekali. Tetapi untuk mereka yang memiliki prinsip dan menulis tentang Suriah bukan untuk untuk keuntungan, uang tidak penting.

Untuk datang ke Suriah berkali-kali, saya menabung pelan-pelan, atau secara terbuka melakukan penggalangan dana. Saya melakukan perjalanan dengan cara termurah, selalu dengan rute yang panjang dan tidak nyaman, sehingga biayanya jauh lebih murah daripada mereka [jurnalis] dari perusahaan media.

Banyak rekan saya yang menjalani hidup seperti saya, hidup dengan seadanya. Terkadang uang di kantongnya benar-benar habis sampai akhirnya datang honor tulisan yang dibuat selama berhari-hari atau berjam-jam. Banyak dari mereka yang terpaksa meminjam uang, sebagaimana juga saya, untuk bisa melakukan perjalanan ke Suriah, atau melakukan penggalangan dana, atau menunggu sampai tabungan honor tulisan kami mencukupi; atau menerima sumbangan dari orang-orang yang mengenali kebenaran saat mereka membaca tulisan kami.

Eva dan Vanessa Beeley​ tidak cuma mengurusi Suriah. Jauh sebelumnya, mereka datang dan tinggal di Gaza untuk melaporkan kekejaman yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza. Eva bahkan akhir-akhir ini datang ke Korea Utara yang sedang terancam diserang AS. (Kisah Eva, Vanessa, dll, saya tulis di buku “Salju di Aleppo”.)

Kemarin, Vanessa Beeley, Patrick Henningsen, dan jurnalis besar, John Pilger, mengadakan acara diskusi berjudul “Media on Trial” di London. Beberapa saat sebelum acara, sejumlah orang meneror dengan menyiramkan cairan berbau busuk di lokasi acara (sebuah gereja). Lalu, saat acara berlangsung, sejumlah orang datang mengganggu acara. Anehnya, salah satu yang datang mengganggu adalah Clara Connolly aktivis “Women Against Fundamentalism”. Aneh, karena yang memerangi pemerintah Suriah (para teroris berkedok mujahidin) justru sedang memaksakan sistem fundamentalis (khilafah) di negara Arab yang plural dan sekuler itu.

Keanehan atau kontradiksi ini sebenarnya biasa. Betapa banyak di Indonesia (di FB, minimalnya) kita temukan orang model begini: sok-sokan menyuarakan anti-intoleransi, save NKRI, tapi khusus untuk konflik Timteng, malah punya narasi sama dengan kelompok radikal di Suriah dan pro Israel. Orang-orang seperti ini perlu kita kritisi karena sejatinya sedang ‘menunggangi’ gerakan pro-toleransi dan nasionalisme yang sejati.

Btw, untungnya, acara Media on Trial berhasil berjalan lancar. Anda bisa menonton videonya di sini:
https://www.facebook.com/ukcolumn/videos/1455072064548238/?hc_location=ufi


[1] Baca tentang ‘perang suriah dan perang facebook’ https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/01/15/perang-suriah-dan-perang-facebook/

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: