Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah » Issam Zehreddin, Singa Pribumi Suriah

Issam Zehreddin, Singa Pribumi Suriah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
issam

 Jend. Zehreddin sedang memeluk keluarga tentara yang gugur melawan ISIS di Deir Ezzour.

Bagi orang Suriah, pribumi adalah seluruh warga negara Suriah. Ada beberapa di antara mereka yang kemudian angkat senjata melawan pemerintah yang sah. Yang pertama kali angkat senjata adalah anasir Ikhwanul Muslimin yang dibacking Turki, Qatar, AS, dll. IM memang punya track record sebelumnya melakukan aksi kudeta dengan bantuan senjata dari AS. Kelompok Hizbut Tahrir Suriah juga mengklaim angkat senjata, mereka berbaiat kepada kelompok-kelompok teror seperti Jabhah al Nusra yang tak lain, Al Qaida versi Suriah.

Alasan yang mereka kemukakan: pemerintah Suriah adalah rezim Syiah yang kejam kepada kaum Sunni. Dengan alasan itu, mereka mengundang kaum Sunni dari seluruh dunia untuk berperang (atau menyumbang dana “jihad”). Terbentuklah kelompok-kelompok “jihad” yang jumlahnya ratusan, dengan milisi yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di tengah-tengah mereka, muncul kelompok yang paling ganas, ISIS.

ISIS kemudian buka cabang di berbagai negara; sehingga banyak orang lupa pada aktor utama, Ikhwanul Muslimin jauh lebih dulu buka cabang dan bahkan mendominasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh media Barat, jihadis IM (dalam berbagai nama milisi) disebut sebagai “moderate rebels”, jadi tidak dikategorikan teroris, meski aksi-aksinya tak jauh beda dari ISIS.

Ratusan kelompok teror di Suriah, sulit disebut sebagai “pribumi” karena mereka dibiayai negara-negara asing; dan sebagian pasukannya pun berasal dari negara-negara asing (termasuk Indonesia). Karena itu “perjuangan” mereka di Suriah tidak bisa disebut revolusi karena unsur asingnya terlalu besar.

Namun pribumi Suriah tak tinggal diam. Mereka bahu membahu melawan pasukan-pasukan teror itu. Syrian Arab Army, tentara Suriah (seperti TNI-nya Indonesia) terdiri dari warga Suriah asli dari berbagai agama dan etnis. Selama 6 tahun mereka tak kenal lelah berperang melawan pasukan teror yang didanai dan dipersejantai luar biasa oleh kekuatan-kekuatan raksasa dunia (AS, Inggris, Perancis, dll) dan negara-negara kaya raya di Teluk (Saudi, Qatar, Emirat, dll). Satu demi satu wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kelompok teror non-pri itu diambil alih dan kembali ke pangkuan Suriah.

Kemarin, singa pribumi Suriah, bernama Jenderal Issam Zehreddin, gugur di Deir Ezzour. Deir Ezzour dihuni oleh mayoritas Arab Sunni, serta minoritas Kristiani dan etnis Kurdi. Sejak 2015, kota ini diblokade ISIS, pasokan makanan dan air dihalangi oleh ISIS sehingga membuat ribuan warga tersiksa. PBB dan Rusia mengirim bantuan pangan sesekali melalui udara.

Akhirnya, September 2017, tentara Suriah yang dipimpin Jenderal Issam Zehreddin berhasil membebaskan Deir Ezzour dari cengkeraman ISIS. Tanggal 17 Oktober, ia dan pasukannya kembali ke Deir Ezzour, namun naas, mobil yang dinaikinya melintasi ranjau darat yang ditanam ISIS.

Karena perang Suriah sangat intens diberitakan, Jenderal Zehreddin pun menjadi sosok terkenal, sehingga kematiannya mengguncangkan perasaan publik yang anti perang Suriah (anti kelompok “jihad”) di seluruh dunia.

Dia adalah simbol dari dari pluralisme dan nasionalismenya Suriah. Jenderal Zehreddin beragama Druze dan memimpin divisi elit Syrian Republican Guard, yang paling tangguh dalam perang melawan teroris. Di divisi itu, ia memimpin pasukan yang terdiri dari berbagai etnis dan mazhab/agama, mulai dari Sunni, Syiah, Druze, hingga Kristen. Yang mereka perjuangkan adalah Suriah, bukan etnis, bukan agama, bukan klan.

Jenderal Zehreddin adalah antitesis dari hero non-pribumi seperti Al Baghdadi, yang entah darimana asalnya, lalu tiba-tiba mengklaim diri sebagai Khalifah sambil membantai ribuan warga pribumi Suriah. Dia antitesis dari narasi Barat (dan para pendukung “jihad”) bahwa perang Suriah adalah perang sektarian, perang antarmazhab. Dia antitesis pribumi kebablasan, etnis Kurdi, yang demi impian Rojava-nya (negara khusus Kurdi) rela membunuhi sesama saudara sebangsanya.[1]

Konflik di Suriah memberi kita pelajaran, bahwa isu SARA bisa berakibat fatal. Suriah sesungguhnya adalah negara yang sangat plural dan sekuler. Hanya segelintir yang mengangkat isu SARA, tapi segelintir ini, dengan bantuan asing dan kekuatan media berhasil menghancurkan negara mereka sendiri. Jangan biarkan segelintir yang sama, melakukannya di Indonesia.

Jadi, mari berhati-hati dengan isu pribumi-non pribumi, selalulah kembali ke konteks. Mari berlatih berpikir multidimensi. Adalah sangat salah kaprah bila ada yang menyamakan wacana pri-nonpri dalam atmosfer Pilkada DKI dengan wacana pri-non pri di Timur Tengah, dengan mendefinisikan orang Arab itu gila perang, nepotisme, dll. Seolah-olah engkau sedang membela NKRI dengan cara mendiskreditkan orang Arab di Indonesia.

Etnis keturunan Arab di Indonesia, sebagaimana juga etnis keturunan Tionghoa, Sunda, Minang, Jawa, Makassar, dan lain-lainnya adalah saudara kita sesama bangsa Indonesia. Titik. Inilah yang harus terus kita suarakan. Jangan malah bermain di tepukan gendang yang sama dengan para pemecah-belah bangsa.

Gampangnya begini: bila orang lain mengatakan padamu “dasar anjing!”, lalu engkau menjawab, “dasar monyet!”, maka kalian berdua sebenarnya berada di level yang sama.

Namun perlu dicatat pula, diskusi mengenai penguasaan Sumber Daya Alam Indonesia oleh korporasi asing, perlindungan hak petani di hadapan korporasi, perlindungan sumber-sumber air rakyat yang dijarah korporasi dll, penting dilanjutkan, tanpa terjebak pada isu SARA.

RIP Jenderal Issam Zehreddin.


[1] http://ic-mes.org/politics/kurdi-senjata-washington-untuk-mendestabilisasi-timur-tengah/

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: