Kajian Timur Tengah

Beranda » Politik Iran » Jawaban untuk Smith Alhadar

Jawaban untuk Smith Alhadar

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

 

demo pro pemerintah (30 Des 2017)

Smith Alhadar, yang dikenal sebagai “Pengamat Timur Tengah” menulis dua artikel dalam rentang waktu berdekatan, di Kompas (4/1) dan Republika (8/1), tentang kisruh Iran akhir 2017-awal tahun ini. Dua tulisan ini sedemikian kacaunya, sehingga saya merasa perlu menanggapi. (Kenapa baru sekarang? Simply, sebelumnya saya tidak sempat). Saya menulis artikel utuh, di bawah. Tapi sebelumnya saya perlu memberikan beberapa catatan berikut ini:

Tujuan saya, tentu saja agar para pemerhati Timteng bisa mempelajari di mana letak kekacauan tulisan Smith sehingga bisa lebih kritis saat membaca analisis Timteng secara umum, bukan hanya tentang Iran.

Kesalahan fatal yang dilakukan Smith adalah penggunaan DATA YANG SALAH. Berikut ini di antaranya:

1.Data-data soal kemiskinan. Smith mengklaim ada  kondisi kemiskinan yang sangat parah di Iran (dengan menyebut angka-angka), tanpa menyebut sumber. Kredibilitas sumber data penting dalam sebuah penulisan. Data dari Bank Dunia jelas lebih kredibel daripada data copas dari tulisan orang di medsos, atau entah darimana.

Tidak pahamnya Smith atas kevalidan data berimbas pada alur argumen yang konyol, misalnya: “parabola dilarang, internet dikontrol, ada aturan berpakaian… AKIBATNYA program kerja pemerintah tidak maksimal.” (Kompas). Sejak kapan parabola dan cara berpakaian menjadi faktor kemajuan ekonomi?

Di Republika, Smith menulis lebih parah lagi, “Sebelum revolusi, pendapatan per kapita Iran sekitar 2.400 dolar AS. Kini, 39 tahun kemudian Iran menjadi salah satu negara termiskin di dunia dengan pendapatan per kapita tinggal 1.300 dolar AS. Tak kurang dari 10 juta rakyat hidup di bawah garis kemiskinan absolut dan 30 juta lainnya hidup di bawah garis kemiskinan relatif dari total 80 juta jiwa penduduk Iran. Tak heran, dalam demonstrasi rakyat meneriakkan nama Reza Shah.”

Luar biasa tersesatnya seseorang dalam menulis ketika datanya SALAH. Semua angka yang ditulis Smith salah, bila kita cek data dari UNDP atau Bank Dunia. [baca tulisan saya di bawah]

2.Pemetaan konflik: siapa yang demo, berapa jenis demo yang terjadi, bagaimana perbandingan jumlah peserta demo, bagaimana sikap kubu reformis atas demo rusuh, dst. Smith tidak menguasainya dengan baik sehingga bangunan argumennya menjadi kacau. Ini akan terkait dengan no 1 juga. Muncullah simpulan akhir dari Smith: “Rakyat sudah lelah di bawah kepemimpinan rahbar konservatif” (Kompas). Rakyat yang mana?

Ini seperti yang sering terjadi di Indonesia juga, ada ribuan orang-orang demo di depan Istana Presiden, lalu media/penulis hoax menulis, “Rakyat sudah lelah dengan kepemimpinan Jokowi”. Padahal rakyat Indonesia ada 250 juta lebih.

3.Pemahaman objek analisis: Smith tidak memahami struktur pemerintahan Republik Islam Iran, akibatnya muncul usulan konyol misalnya, menyuruh Rahbar mundur, dan  “presiden menentukan dalam pengangkatan Rahbar” (dan kekacauan lainnya dalam menjelaskan struktur pemerintahan). Orang-orang yang memahami bagaimana struktur RII akan segera mengerutkan kening membacanya.

4. Perundingan nuklir: Smith tidak memahami dengan baik apa yang sebenarnya terjadi setelah perundingan nuklir , sehingga Smith menyusun argumen konyol: sejak diimplementasikannya kesepakatan nuklir pada Januari 2016 – di mana sanksi ekonoimi dan keuangan internasional atas Iran dicabut… perekonomian Iran tidak membaik. (Kompas).

Smith sedang berupaya menyodorkan data palsu bahwa “Ini lho, AS sudah baik, mau mencabut sanksi, tapi buktinya, Iran tetap kacau kan? Jadi kesalahan ada pada rezim Iran!” Smith sebaiknya membaca detil bagaimana sebenarnya isi perjanjian dan berapa lama sampai benar-benar terimplementasikan (itupun kalau AS memang serius mau; sejauh ini AS sama sekali BELUM memenuhi komitmennya, bahkan mencari-cari celah untuk membatalkan, namun ditentang UE).

5. Penguasaan ilmu HI: Smith sepertinya tidak menguasai Studi HI sehingga mengabaikan faktor intervensi AS selama ini terhadap negara-negara peripheri; baik lewat soft power maupun hard power. Smith pun tidak paham geopolitik kontemporer, sehingga  bahkan membela AS: “Kebijakan luar negeri [Iran] yang sektarian, agresif, dan ekspansif juga harus dihentikan. Kebijakan seperti inilah yang membuka peluang bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump melaksanakan politik pembendungan terhadap Iran dan menciptakan permusuhan dengan negara-negara Arab.” (Republika). Jadi, bagi Smith, AS sah-sah saja melakukan semua kejahatannya di Timteng (termasuk mendukung ISIS dan Al Qaida, sebagaimana pernah diakui Trump sendiri), karena semua adalah salah Iran.

Ketika semua basic data yang digunakan salah, dipastikan seorang analis akan salah berargumen dan memprediksi. Smith sudah mengalaminya: prediksinya salah total. Di Republika (8/1) bahkan sejak kalimat pertama pun sudah salah. Smith menulis: Sebagaimana bola salju, gelombang protes rakyat Iran terus membesar.

Padahal tanggal 8 Januari justru situasi Iran sudah kembali normal. Dan sekedar info, Penasehat Mogherini (Uni Eropa) dan Dubes Inggris untuk Iran pun mengkritisi pemberitaan media internasional tentang Iran; wawancara RRI dengan Dubes Indonesia untuk Iran (7 Januari) menyebutkan bahwa Iran aman dan kondisi sudah terkendali; lalu tanggal 13 Januari, ada dua acara internasional di Tehran: konferensi Dialog Budaya Asia (salah satu pembicaranya: Din Syamsuddin) dan Konferensi Uni Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam ke-13 (dari Indonesia, hadir Fadli Zon).

Dan… MASIH BANYAK kesalahan lain dalam 2 tulisan Smith itu. Akan sangat menghabiskan waktu bila saya tulis detil kalimat per kalimat. Yang jelas, pesan penting saya: CARA PENULISAN ANALISIS YANG SALAH model tulisan Smith ini sangat sering dilakukan oleh analis Barat yang ingin menyerang negara-negara yang menjadi TARGET AS (Iran, Suriah, Korut, dll). Jadi, Smith memang satu gerbong dengan para penulis pro kelompok neo-con atau Imperium (baca penjelasan Andre Vltchek soal ini). Lalu bagaimana dengan media yang memuat tulisannya itu? Ya silahkan Anda menilai sendiri. Yang jelas kebanyakan media nasional untuk isu luar negeri memang beriringan dengan media mainstream (karena pemberitaan mereka memang copas-terjemahan dari kantor berita Barat).

BERIKUT INI, artikel tanggapan saya. Silahkan disimak bagaimana bedanya ketika sebuah tulisan disusun dengan berbasis data yang benar, penguasaan atas objek studi dengan baik (dalam hal ini Iran, bagaimana struktur pemerintahannya), pemetaan konflik, dll.

================

Iran, Bertahan Melawan Badai

Dina Y. Sulaeman

(Direktur Indonesia Center for Middle East Studies, doktor Hubungan Internasional)

Sejak didirikan 38 tahun yang lalu melalui referendum publik, Republik Islam Iran (RII) bisa disebut sebagai negara yang tak henti dilanda badai. Sekitar 15 bulan setelah berdirinya RII, negara tetangganya, Irak, melancarkan invasi militer. Seluruh kekuatan besar dunia saat itu bergabung mendukung Saddam. AS dan Inggris bahkan menyuplai senjata kimia yang digunakan tentara Irak sehingga menewaskan lebih dari 20.000 orang dan membuat cacat puluhan ribu orang lainnya.

Sementara itu, AS membekukan uang rakyat Iran sebesar 10 juta miliar Dollar yang disimpan Shah Pahlevi di bank-bank AS serta mengembargo militer sehingga Iran tidak bisa membeli senjata untuk membela diri. Perang berlangsung delapan tahun, memunculkan kerugian yang amat besar bagi Iran, baik dari sisi sumber daya manusia maupun infrastruktur.

Namun badai belum berakhir. Embargo ekonomi terus berlangsung hingga hari ini. Mantan Menlu AS (2009-2013), Hillary Clinton, dalam memoarnya “Hard Choices” (2014) menulis, “Kami telah melakukan segala hal yang bisa kami lakukan untuk membuat Iran kesulitan berbisnis, terutama di sektor minyak.”

Clinton memaparkan, berkat upayanya itu inflasi di Iran melonjak lebih dari 40 persen dan nilai mata uang Iran menurun drastis. Ekspor minyak turun dari 2,5 juta barel minyak mentah setiap hari di awal tahun 2012, menjadi sekitar 1 juta barrel sehingga Iran merugi lebih dari  80 miliar USD. Sebagai negara yang memiliki cadangan minyak terbesar ke-4 di dunia dan cadangan gas kedua terbanyak di dunia, perekonomian Iran memang sangat bergantung pada penjualan migas.

Hillary tak lupa menceritakan bahwa segala upayanya itu dilakukan dalam koordinasi penuh dengan Israel. “Saya bangga dengan koalisi yang kami buat [dengan Israel] dan betapa efektifnya usaha kami,” tulis Hillary.

Namun di tengah segala badai tekanan itu, uniknya, Iran tetap bisa bertahan dan bahkan mencapai kemajuan, baik sosial, ekonomi, maupun sains. Sulit dibayangkan hal yang sama bisa dilakukan oleh negara-negara lainnya. Untuk mengetahui kondisi Iran yang sesungguhnya, kita perlu mengacu pada sumber data yang valid, bukan hoax.

Dalam dokumen yang UNDP tahun 2016 tercantum data bahwa Human Development Index (HDI) Iran adalah 0,774 dan berada di ranking 69 dari 188 negara. UNDP menyatakan bahwa Iran termasuk kategori ‘high human development’. Indeks ini jauh meningkat dibanding tahun 1970 (era Shah Pahlevi) yang hanya 0,448. Sekedar perbandingan, dalam UNDP tahun yang sama, HDI Indonesia adalah 0.689 dan berada di ranking 113 dari 188 negara (dan berada di kategori ‘menengah’).

Pengukuran indeks HDI memiliki beberapa komponen, di antaranya GDP (Gross Domestic Product), GDI (Gender-related Development Index) dan GEM (Gender Empowerment Measures). Dengan kata lain, di antara indikator untuk mengukur HDI adalah kondisi ekonomi, sosial, dan kualitas kondisi perempuan.

Seperti ditulis Clinton, tekanan yang dilakukan AS memang membuat Iran mengalami kesulitan ekonomi. Namun, Bank Dunia menyebutkan bahwa pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Iran bangkit kembali di angka 6,4%. GDP per kapita Iran adalah 5219 USD (dan di laman yang sama, disebutkan bahwa GDP per kapita Iran tahun 1960 -era Shah- adalah 191 USD). Sekedar perbandingan, GDP per kapita Indonesia tahun 2016 adalah 3570 USD.

Meskipun pertumbuhan ini didominasi masih oleh sektor minyak sebagai dampak positif dari JCPOA, namun sektor non-migas juga menunjukkan peningkatan. Dampaknya, pengangguran menurun ke angka 12,7% atau sekitar 3,3 juta orang pada 2016. Sementara itu, angka kemiskinan juga menurun, dari 13,1% di tahun 2009, menjadi 8,1% tahun 2013 (era Ahmadinejad). Namun, di tahun 2014 kemiskinan di Iran meningkat lagi menjadi 10,5%, kemungkinan besar akibat dicabutnya berbagai subsidi oleh pemerintah Rouhani.

Dari data-data yang bersumber dari UNDP dan Bank Dunia ini, secara umum kita bisa simpulkan bahwa kondisi Iran tidak jauh berbeda dari negara berkembang lainnya. Kesulitan ekonomi yang dihadapi relatif sama dengan kesulitan yang juga dihadapi negara-negara lainnya, termasuk Indonesia. Apalagi perlu diingat bahwa Iran adalah negara dengan perekonomian terbesar kedua, setelah Arab Saudi, di kawasan Timur Tengah dan Afrika Arabia, dengan GDP 412.2 miliar USD (2016).

Karena itulah aksi-aksi demo memprotes kenaikan harga di Iran sebenarnya adalah dinamika demokrasi yang biasa terjadi di negara manapun. Lalu, mengapa terjadi kerusuhan dan mendapatkan liputan sangat masif dari media internasional seolah sedang ada gelombang revolusi di Iran?

Jawabannya, inilah ‘badai’ terbaru yang dihadapi Iran. Bila kita kembali kepada pengakuan Hillary Clinton, dan menganalisis rekam jejak kebijakan luar negeri AS selama ini yang selalu konfrontatif terhadap Iran, kerusuhan di Iran terindikasi kuat sebagai ‘operasi’ terbaru AS. Aksi demo yang awalnya berupa protes atas masalah ekonomi, tiba-tiba berubah menjadi demo menentang pemerintahan Islam.

Media internasional pun memberitakannya secara serempak, dengan sangat masif. Hanya selang sehari, AS pun mengeluarkan pernyataan resmi ‘bersimpati’ kepada para demonstran dan disusul pernyataan provokatif Trump menyerang pemerintah Iran. Padahal, dari foto dan video yang disebarkan dapat dianalisis bahwa peserta demo sangat minor. Bahkan Duta Besar Inggris untuk Iran, Nicholas Hopton pun, dalam sebuah konferensi di Tehran (9/1) menyatakan ‘keprihatinan’ atas pemberitaan media Inggris yang tidak akurat mengenai aksi demo tersebut.

Ada fakta di lapangan yang diabaikan oleh media internasional, yaitu rakyat Iran, bahkan kubu reformis (eslah talab) segera menyatakan berlepas diri dari aksi demo rusuh itu. Pasalnya, para pelaku demo rusuh selain mencaci-maki ulama yang memiliki tempat sangat terhormat dalam budaya Iran, membakar bendera negara dan mengibarkan bendera era Shah Pahlevi, juga melakukan aksi kekerasan seperti melemparkan bom molotov dan menembaki warga. Sementara itu di perbatasan, masuk gerombolan militan bersenjata dari luar negeri, yang segera ditaklukkan oleh militer Iran.

Selanjutnya, yang terjadi adalah aksi-aksi demo balasan [lihat video] digelar di ribuan titik di berbagai penjuru Iran. Terlalu mengada-ada untuk menyebut jutaan warga yang turun ke jalan dan meneriakkan kesetiaan kepada RII itu sebagai ‘orang bayaran rezim’. Hanya dalam sepekan, badai pun berakhir dan bangsa Iran telah melaluinya dengan selamat. []

—Ref: Data Bank Dunia1 Bank Dunia2 UNDP

Bacaan lanjutan, bila ingin mengetahui HDI Iran dan kaitannya dengan kondisi perempuan: Perempuan Iran, Observasi Antara Konstitusi dan HDI

 

Tulisan saya sebelumnya ttg Iran (di Fanpage, lalu dicopas di sini):

Ada Apa Dengan Iran?

Seberapa Serius Krisis Ekonomi Iran?

Kembali ke Palestina dan Yaman

 

Mohon maaf atas munculnya iklan-iklan tak jelas di blog ini, dipasang oleh pihak WordPress, di luar kendali blogger.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: